Dulu saat acara wisuda disebuah Universitas ternama di Indonesia, seorang wisudawan yang mewakili rekan-rekannya memberikan pesan dan kesannya. Dengan suara lantang khas mahasiswa dia mengucapkan salam dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang dia anggap telah berjasa dalam hidupnya. Selanjutnya sebuah kalimat pendek yang menghentakkan seluruh ruangan meluncur deras dari sela-sela bibirnya yang bergetar. ” Kemarin kita masih bisa tertawa karena kita masih mahasiswa, akan tetapi mulai saat ini, kita akan menangis karena kita adalah pengangguran terdidik.”
Sekilas kalimat di atas memang benar, akan tetapi tidak layak dikeluarkan oleh seorang mahasiswa binaan universitas ternama. Kesan yang dapat ditangkap adalah sebuah perasaan apatis dan skeptis yang sedemikian kuat melanda bathinnya. kekhawatiran akan masa depannya karena jaminan kesejahteraan hidup yang dijanjikan oleh pemerintah hanya sekedar menjadi penghias kolom-kolom berita, telah membuat idealisme seorang mahasiswa menjadi pudar.
Mahasiswa memang identik dengan idealisme, mahasiswa tanpa idealisme ibarat singa tanpa auman. Jiwa muda yang meledak-ledak diiringi dengan keinginan untuk mengadakan perubahan seringkali membuat bangsa ini tersenyum bangga akan karakter kuat generasinya. Namun ketika mereka telah mengenakan toga dan berhak menyandang gelar kesarjanaan, idealisme dan semangat pembaharuan tersebut lambat laun memudar. Auman-auman para singa kampus yang ditakuti oleh para petinggi-petinggi busukpun berubah menjadi raungan lirih seekor kucing yang memelas mengharapkan lemparan sepotong ikan.
Mungkinkah tuntutan kebutuhan yang membuat karakter itu lenyap ? ataukah sistem yang demikian “ganas” yang menghimpit ruang idealisme mereka ?.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita, bagaimana rezim orde lama tumbang oleh mahasiswa. Dan kini diantara mahasiswa-mahasiswapun ada yang menjadi pejabat negara, dan merekapun di goyang oleh mahasiswa. Demikian pula orde baru, harus berakhir ditangan para mahasiswa. Mahasiswa memang luar biasa, seandainya idealisme para sarjana semeledak saat masih menjadi mahasiswa dulu, maka bangsa ini tidak akan menunggu waktu lama untuk berhenti dari tangisannya insya Alloh.
Para sarjana juga lebih suka menjadi kuli dari orang lain daripada menciptakan peluang kerja sendiri. Bagaimanapun idealismenya seorang kuli tetap saja ia dibatasi oleh ketertundukannya kepada sang majikan, bahkan ia harus meredam idealismenya tersebut manakala hal itu berbenturan dengan kebijaksanaan dari majikannya. Lebih-lebih jika ia harus menjadi bagian dari pemerintahan, maka suaranya yang menggema dulu hanya akan menyumbat dalam tenggorokannya semata. Hal ini tentu berbeda dengan sarjana yang dapat memenej hidupnya sendiri, menciptakan peluang kerja sendiri, mereka lebih dapat memelihara idealismenya dan lebih nyaring menyuarakan kebenaran yang diyakininya.
Hidup mahasiswa….!!!
( tulisan ini adalah bentuk dari jeritan idealisme penulis yang menyumbat ditenggorakan, sebab penulis juga termasuk sarjana yang bermental kuli..)
kata pesan dan kesan kampus (18),Kesan dan pesan sela dikampus (1),konsep pesan dan kesan pada acara wisuda (1),pesan dan kesan mahasiswa pada saat wisuda (1),pesan kesan singkat untuk perguruan tinggi (1)






Sbenarnya apa sih yg salah??? sistem pendidikan kt atau rendahny kualitas SDM yg kt miliki.. Mmng sistem pndidikan kt slama ini hanya bisa melahirkan sarjana KULIah pencari kerja/KULI,bkn sarjana pembuka lapangan krja/wirausaha. mgkn ini krn sistem pndidikn kt yg lbh mngedepankan teori drpd praktek nyata, disamping brbagai faktor laen penghambat kmampuan untk brwirausaha. SDM kt jg kbnykn lbh mmilih cara cari krja expres drpd hrs brsusah payah membangun usaha sndiri.
hahahaha
dah jd sarjana kok malah bikin pusing yg lain. mending jd mahasiswa lagi aja, jgn dulu jd sarjana klo gitu. mungkin gini ide-nya. setiap mahasisa mau lulus, diharuskan bekrja dulu, nnt klo sudah dpt kerja, baru dia boleh jd sarjana. selama dia gak dpt kerja, selamanya dia jd mahsiswa, jd mash bisa minta duit sama org tuanya.
klo mahasisa yahudi lain lagi, waktu dia mau lulus, dia harus bikin proyek bisnis secara kelompok, dia akan dinyatakan lulus kalo proyek yg dia bikin bisa dpt profit minimal 1 juta dolar. dia gak akan lulus klo gak bisa bikin proyek bisnis…. bagaimana????? pasti gak ada sarjana yg nganggur kan?
semakin tinggi pendidikan kita, semakin tinggi gengsi sosial kita, sehingga kita pilih-pilih pekerjaan. akhirnya nganggur dah….mau buka lapangang kerja gak da modal….padahal modal tak kudu duit…kita inilah modalnya….
Sbenarny tujuan awal kt belajar/kuliah itu untk apa? Mencari ilmu agar kt brwawasan, atau dpt ijazah/titel biar bisa buat nglamar kerja?! Untk yg prtama tntu kt akan mnjd pribadi yg brkualitas+brdaya saing,maka dgn mudah kt bs mmbuka /mndpt pkerjaan krn kt mampu. Untk yg ke2 yg mrpkn cita2 kbnyakan dr kt hny akan mnghasilkn pngangguran2 yg hny pny titel tp tdk pny daya saing. ingat”jangan menunggu buah jatuh dr pohon tp panjatlah pohon dan petiklah buahnya” ‘jgn menunggu peluang datang,tp jemputlah dia ok!!
Ada suatu fenomena yang aneh di dua daerah di Pekalongan.
Fenomena ini penulis lihat sepintas, bukan merupakan hasil suatu penelitian yang mendalam terhadap dua daerah tersebut.
Asalnya dua daerah tersebut berbasis industri rumahan (batik dan tenun).
Di satu daerah anak- anaknya di sekolahkan dan kebanyakan bertitel.
Di satu daerah yang lain kebanyakan anak- anaknya ke pesantren, walaupun kemudian akhirnya sebagian kuliah juga.
Anehnya didaerah yang putra- putrinya bertitel, mereka pada pergi jauh, karena pada jadi pegawai di beberapa daerah, dan industri orang tuanya pun pada berhenti karena nggak ada yang nerusin.
Di daerah yang pada ke pesantren anehnya mereka pulang dan kebanyakan melanjutkan industri orang tuanya dan mereka banyak yang kini jadi milyarder.
Adakah yang dapat menjelaskan dan memberikan analysis terhadap satu femomena sosial yang aneh ini?
@ibn khasbullah, hehehe….saya merasa kesindir ama pak kyai niiihhh…