Dulu, ketika usia ini sudah menginjak angka dua puluhan, lingkungan sudah mengajarkan agar anak seusia itu harus mandiri. Ojo dumeh kita pelajar, mahasiswa terus seenaknya minta uang sama orang tua dengan alasan untuk bayar kuliah, ngerjain tugas, ongkos KKN dan macam-macam tetek bengek. Karena anak seusia kita, bahkan seusia adik kita sudah terbiasa berpenghasilan sendiri. Mereka membantu tetangganya yang buka usaha konveksi, batik, tenun, dll, sehingga tiap kamis sore mereka menerima honor, dengan sebutan kemisan atau pocokan. Kalau anak yang tak berpendidikan tinggi saja sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka seorang pelajar atau mahasiswa seharusnya melebihi kemampuannya, karena dia lebih melek ilmu dan informasi.
Tempat kelahiranku Pekalongan dikenal, sebagai zona hidup manusia wiraswasta. Dulu, di Pekalongan sempat menganggap minor bekerja sebagai pegawai. Mitosnya yang berkembang bahwa pegawai untuk pegang uang saja harus nunggu tanggal, tidak seperti para wiraswasta yang tiap hari bisa pegang uang, juga bisa tak sama sekali.
Pendapat nyinyir lainnya menganggap bahwa manusia pegawai, tiap harinya selalu makan beras RT, kalau bahasa sekarangnya mungkin raskin (beras untuk orang miskin), atau juga dikenal sebagai beras jatah, atau beras tunjangan. Maka, dulu waktu aku kecil, sangat jarang orang mau bekerja sebagai pegawai, maka tak heran apabila ada anggapan bahwa orang yang memakai seragam hijau-hijau itu bukan orang Pekalongan, tetapi orang rantauan.
Ijazah tidak begitu penting di kota batik ini, karena untuk cari kerja cukup main ke rumah tetangga, terus tanpa ba bi bu langsung saja ikut membantu kerjaan apa saja yang belum di sentuh. Otomatis setiap kamis sore ikut saja antri di rumah bos untuk menunggu panggilan totalan gaji. Kemudahan diterima bekerja, tanpa prosedur lamaran ini, menjadikan ijasah tidak begitu penting, sehingga orang yang berpandangan sekolah untuk cari kerja cenderung menghindari sekolah, karena tanpa makan bangku sekolah saja kita sudah bisa bekerja, pegang uang dan jadi bos lagi.
Berbeda ketika saya sempat main ke Yogyakarta selama beberapa tahun. Mahasiswa-mahasiswa pengangguran kerjaannya melototin koran halaman iklan kecil yang berjudul lowongan. Mereka cari lowongan kerjaan dengan berbagai ketentuan syarat yang tercantum. Bagi yang kurang ganteng dan cantik menghindari kata-kata: berpenampilan menarik.
Untuk bekerja, kita harus membuat lamaran pekerjaan yang ditulis tangan atau diketik. Setelah lamaran disampaikan, kita akan menunggu panggilan melalui nomor HP yang kita cantumkan dalam surat lamaran. Sampai kita dipanggil oleh perusahaan, masih ada ritual wawancara, sampai training bisa jadi memakan waktu sampai berbulan-bulan. Tidak hanya sampai disitu, kita belum tentu bekerja di kota tempat kita melamar, tetapi bisa jadi di kirim ke kota lain yang berjarak ratusan mil.
Kata teman saya untuk menerima telpon yang dianggap baik saja perusahaan metraining pegawainya selama satu minggu. Maka kalau anda agak stess, coba hubungi perusahaan tertentu, maka dari seberang suara lembut akan menyambut dan melayani, dan tentunya akan memudarkan perasaan stes anda. Tidak hanya cukup disitu. Banyak surat-surat yang harus disepakati, seperti surat kontrak kerja, dll. Juga tes kesehatan, tes tetek bengek lainnya. Bagi orang yang biasa bebas, maka tak kuasa melewati prosedur yang berlapis itu. Padahal dari segi gaji, bekerja di pabrik dengan di home industri seperti di Pekalongan tak jauh-jauh amat selisih bilangannya. Terpaksa salah seorang temanku yang sudah terlanjur teken kontrak dengan perusahaan sekelas PT harus menyodorkan denda, karena tidak bisa menepati panjangnya waktu kontrak yang sampai tiga tahun.
Di kota budaya ini, bagi teman-teman yang tak mau melamar kerjaan, maka nasibnya bekerja serabutan asal menghasilkan dan bisa menjadi modal bertahan hidup. Konsep serabutan berarti berprinsip tidak pilih-pilih kerjaan, yang penting bisa menghasilkan dan cukup untuk makan sehari, syukur-syukur bisa lebih untuk biaya kuliah dan pengembangan diri. Jenis kerja serabutan ini sangat banyak.
Dulu teman satu kos ku bekerja sebagai penerjemah. Dia menerima terjemahan dua bahasa, yakni Inggis-Indonesia, Indonesia-Inggris, Arab-Indonesia, Indonesia-Arab. Satu lembar dengan dua spasi dihargai tiga ribu, lebih mahal lagi kalau translit Indonesia-Arab atau Indonesia-Inggris, bisa mencapai tujuh sampai tiga puluh ribu. Harga menyesuaikan wajah pasien, apakah ia dari kalangan mahasiswa atau dari strata juragan.
Bagi penerjemah yang sudah lama dan bisa dibilang profesional biasanya sudah berani menawarkan beberapa teks terjemahannya ke penerbit, maka penerbit besar di Yogyakarta hanya mampu menaksir harga terjemahannya dengan tujuhribu lima ratus rupiah perlembar. Ada juga yang bermain dengan royalti sepuluh persen, yang biasanya hangus ditengah jalan, kecuali mereka penerbit-penerbit bonafide.
Penerbitan di Yogyakarta itu adalah pekerjaan home industri. Ia bisa didirikan oleh suami-istri yang berkeluarga pasca kuliah. Mereka merintis penerbitannya dengan model total player istilahnya di tulis dewe, di edit dewe, di layout dewe, di design dewe, dipasarke dewe, tapi asal jangan dibaca sendiri, nanti tidak jadi untuk penghasilan. Ada juga penerbit yang alamat kantornya pindah-pindah, alias nomaden, karena kantornya kontrakan.
Di tahun 2000 boming muncul penerbitan di Yogyakarta. Tanpa terkendali, sampai-sampai pengurusan masalah ISBN tidak begitu digubris, yang lebih parah lagi masalah hak cipta, atau biasa dikenal sebagai copyright. Banyak buku-buku berbahasa inggris diterjemahkan ke bahasa Indonesia tanpa seizin tertulis penerbit pertama. Tetapi memang menjadi dilema bagi penerbit pemula yang modalnya cekak, karena kalaupun dapat izin penerbitan, penerbit home industri modalnya bisa tak mencukupi untuk bayar hak cipta kepada pengarang atau penerbit awal.
Teman yang lain bersama-sama membuka rentalan komputer, yang di dalamnya bergelut dengan berbagai jasa yang masih ada kaitannya dengan kertas dan komputer. Ada jasa pengetikan, design grafis, burning cd, kursus privat, terjemahan, layout buku, data recovery, sampai service komputer. Semuanya kadang bermodal nekat, karena usaha sering dibangun dengan mengumpulkan komputer seadaanya dan mencari tempat yang bisa diajak kerja sama bagi hasil usaha.
Konsep kerja serabutan menjadi sangat ditakuti oleh para sarjana. Terbukti di Yogyakarta jumlah pengangguran terbanyak adalah mereka yang lulus strata satu. Semakin tinggi pendidikan seseorang biasanya dia semakin mempertimbangkan posisinya, baik posisi sosial, pekerjaan, juga posisi gengsi. Sehingga anggapan sendiri yang mengatakan “masak S1 kerjaannya kok begitu, ah kurang terhormat” bisa jadi mengundur-undur kecepatan waktu sukses sarjana dalam hal pekerjaan.
Bagi mereka yang melihat pekerjaan lebih visioner tentunya akan melihat setiap pekerjaan dari sisi positifnya. Misalnya bagi pemulung harus melihat pekerjaannya sebagai tugas mulia, karena telah berjasa dalam usaha daur ulang sampah. Juga banyak sarjana pemulung yang sukses dalam memulungnya sehingga ia bisa memakmuri keluarga besarnya dengan menjadi juragan pemulung. Semuanya dilakoni dengan mencari rongsokan dan terus istiqomah. Akhirnya menjadi tokoh muda teladan di harian Kompas.
Beda lagi di komunitas pesantren mahasiswa Hasyim Asyari. Kebanyakan yang nyantri di sana adalah teman-teman yang kurang mampu secara finansial. Jadi mereka harus berpenghasilan. Terpaksa mereka harus terus mengasah kemampuan untuk menulis apapun untuk dikirimkan ke media massa. Royalty dari tulisan-tulisan yang dimuat bisa untuk hidup dirinya dan teman-temannya.
Di antara beberapa teman ada yang demen nulis puisi, cerpen, juga mereka ada yang spesial nulis esai dan artikel, juga ada yang spesialis meresensi buku. Biasanya mereka santri yang bukunya berdus-dus, maka dialah resensor alias sang jago meresensi buku. Bagi tulisan resensi yang dimuat, dan tulisannya dibawa ke penerbit, maka sudah menjadi kelaziman penerbit bersyukur dengan memberikan dua buku dan uang sekedar untuk jajan sebesar seratus ribu. Ujung-ujungnya setiap resensor ulung biasanya akan diambil penerbit untuk mencari editor. Kebanyakan editor di penerbit Yogyakarta yang bonafid adalah mantan resensor.
Metode untuk menulis masing-masing teman juga berbeda-beda. Mereka ada yang kerjaannya mengumpulkan artikel-artikel, lalu dibikin kliping secara tematik. Seandainya pada musim haji, maka dia buka-buka kliping tentang haji, maka dari sana akan keluar ide entah itu ide orisinil yang didukung data dari kliping, atau dia menggabungkan ide beberapa orang yang sudah menulis tentang haji di artikel-artikel yang ada di kliping tematik itu.
Ada juga yang langsung menghadap monitor dan menungkan ide-idenya tentang isu-isu aktual, tetapi paling tidak, manusia penulis harus setiap hari membaca koran. Dan menyimpan koran itu bertumpuk-tumpuk, sampai seringkali para pemulung menanyakan terus menerus tentang tumpukan koran itu.
Ada juga temanku yang tak bisa menulis pendek, setiap tulisannya harus lebih dari sepuluh lembar, sehingga sampai kapanpun, kata dia, dirinya tak bisa menulis untuk dimuat di koran. Sampai sekarang akhirnya tulisan-tulisannya menjadi buku utuh, dan sudah belasan buku yang telah diterbitkan. Juga ada beberapa keanehan ketika dia menulis novel yang ternyata jalan ceritanya meramalkan kejadian-kejadian mendatang yang akan menimpa dirinya. Jadi, novel tersebut semacam skenario perjalanan hidupnya. Dalam menulis, ia meniru metode Imam Bukhori yang selalu shalat dalam setiap akan menulis satu hadist. Di berwudlu dan shalat setiap akan menuangkan ide dan menuliskannya melalui lentiknya jadi di keyboard.
Di antara sahabat juga sering mengkoordinasi beberapa dosen untuk menuliskan tema tertentu, kemudian tulisannya itu dibeli untuk diterbitkan di penerbit. Dia sendiri yang tercantum dalam buku sebagai editor. Teman lainnya menugaskan sahabat-sahabat untuk wawancara dengan para pengusaha di beberapa bidang. Kemudian hasil wawancaranya itu di buat tulisan feature, sehingga satu bidang usaha bisa diterbitkan menjadi satu buah buku. Pengalaman-pengalaman membangun usaha para pengusaha dibukukan. Beberapa pengusaha katering sangat tertarik dengan buku tersebut, karena termasuk usaha marketing yang mampu menangguk angka pemasukan.
Beberapa temanku juga terpaksa nunut tidur di masjid, di kantor unit kegiatan mahasiswa UKM, di kos teman, di kator-kantor tempat dia bekerja. Mereka yang tak mempunyai keahlian tulis menulis, sengaja bekerja di Penerbitan bagian pengetikan, pengepakan, bending, operator mesin offset, pemotong kertas, shring, dan pengiriman. Selain bekerja, mereka menunut untuk tidur di kantor penerbitan. Bagi penerbit sendiri malah merasa kebeneran karena sekalian merangkap menjadi satpam. Mereka yang bekerja di penerbitan seperti layaknya resensor yang bisa mengambil satu buku baru untuk koleksi pribadinya, tapi tentunya buku-buku yang riject alias cacat.
Yang lebih berkeringat lagi, mereka teman-teman yang bekerja sebagai penarik becak. Biasanya pada masa liburan mereka daftar kepada penyewa becak yang bertebaran di sekitar Jogja, terutama di sekitar alun-alun utara dan alun-alun kidul. Teman-teman cukup membayar lima belas ribu rupiah untuk satu bulan, mereka sudah berhak untuk membawa becak selama setengah bulan. Berarti tiap hari cuma dikenai ongkos lima ratus perak.
“Ongkos yang sangat murah saja, masih ada yang mbayarnya molor.” Kata Bos becak. Saking mangkelnya juragan bos itu sengaja menamai becaknya dengan ndableg alias rai tembok. Biar para penyewa becak, khususnya mereka yang sudah punya anak-cucu sadar bahwa dia mempunyai kewajiban untuk mebayar becaknya yang sudah menghasilkan berlipat-lipat rupiah.
Satu tarikan becak minimal bisa menghasilkan lima ribu sampai dua puluh ribu rupiah. Kalau dapat penumpang turis pulang pergi hotel bisa dapat kocek sekitar lima puluh ribu rupiah. Tapi kata teman-teman abang becak, “bau badannya minta ampun sep. kalau bawa masker, aku mending pakai masker.” Kata teman-teman, tidak semua turis itu bloboh, banyak juga turis yang nawarnya seperti iwak lunjar nutuli tai alias ntritik.
Selain masa liburan, bulan pasaran yang rame untuk para pemancal becak adalah masa digelarnya pasar rakyat sekatenan tiap tahun di alun-alun utara. Sekatenan yang berarti syahadatain (dua kalimat syahadat) digelar pada bulan Robiul Awal, atau sebulan menjelang kelahiran Nabi. Karena sesungguhnya sekaten digelar untuk memeriahkan maulid Nabi yang jatuh pada 12 Robiul Awal tahun gajah. Sebulan sebelum acara puncak biasanya sudah ada pasar rakyat yang sangat meriah. Beberapa pedagang yang sempat berkenalan mengaku ngujo datang dari Situbondo, Suroboyo, Lamongan, Gresik, Jombang, Ponorogo, Semarang, dan beberapa orang mengaku dari Padang dan Madura.
Teman-temanku yang lain nekat berdagang makanan. Mereka yang sudah menikah dan belum menyelesaikan kuliahnya nyambi berdagang makanan. Istrinya yang tiap hari memasak, terpaksa harus menambah karyawan untuk melayani pembeli, karena tanpa pelayan warung, dia bisa kocar-kacir kegiatan kampusnya. Menu yang disediakan warung makannya termasuk relatif lengkap bagi lidah mahasiswa.
“Terus berdagang sambil kuliah, sambil beribadah sebisa-bisanya,” begitu kata temanku yang pendiam dan sabar itu. “Maka bagaimanapun harus mampu menahan diri untuk tidak punya anak dulu, karena anak amanat Allah yang jangan sampai tersia-siakan, untuk memberi perhatian yang khusus kepada anak harus menunggu waktu yang tepat, waktu yang sudah memungkinkan,” kata istrinya yang juga sahabatku.
Teman yang lain juga menembusi beberapa pedagang rantauan yang menggelar dagangannya pada pasar rakyat sekatenan. Para pedagang itu diusulkan untuk membeli katering masakannya temanku itu sepanjang masa sekatenan. Dan setelah para pedagang mengkalkulasi dengan makan di warung, maka sisanya sangat banyak, karena harga katering masakannya temanku termasuk dalam kategori cocok harga dan rasanya. Agar para pedagang tidak cepat bosan, maka masakan di gonta-ganti dengan menu masakan yang bervariasi.
Sebagian temanku juga menekuni berdagang koran. Tiap pagi jelang subuh, dan beberapa teman malah sebelum subuh sudah memancal pedal sepeda yang berderit itu menyusuri jalanan menuju depan kantor redaksi Kedaulatan Rakyat. Di sana berjajar orang-orang yang menumpuk beberapa koran nasional, lokal dan tabloid untuk dijajakan kepada pengasong. Setelah stransaksi dan beberapa koran yang tertumpuk ditali memakai bekas ban di boncengan belakang, maka hatinya selalu berbisik “mudah-mudahan hari ini keuntungan sampai dua puluh ribu, karena itu cukup untuk kebutuhan sehariku, dan kebutuhan menambal hutangku.” Bukannya kita meminta kepada Tuhan bilangan rizki yang terlalu kecil, tetapi angka dua puluh ribu termasuk angka besar bagi pengasong. Karena untuk koran Jawa Pos saja keuntungan bagi penjaja koran hanya tujuh ratus lima puluh per eksemplarnya. Untuk Kedaulatan Rakyat cukup mengantongi untung empat ratus perak.
Di perempatan bangjo, biasanya beberapa teman pengasong mangkal. Mereka sebenarnya saingan tetapi sudah tertutupi dengan kebiasaan saling membantu dan sepertinya mereka melebihi saudara sendiri. Perhitungan mereka bukan hanya mencari uang, tetapi mereka di kos-kosan sembari mengkliping koran-koran yang di dapat secara gratis dari agen koran. Mereka dikerjar waktu, karena ada dua koran yang harus di setor jangan sampai melebihi jam sepuluh, karena bisa kena denda. Koran Jawa Pos dan Kompas tak bisa dikembalikan seandainya tak laku pada hari itu.
Teman-temanku yang hobinya touring, sengaja bergabung dengan lembaga-lembaga survey seperti Lembaga Survei Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, dan beberapa lembaga penelitian dan survei lainnya. Menjelang pemilu mereka biasanya padat order untuk survei di kawasan-kawasan sampai pelosok desa. Maka bahasa kromo inggil sangat dibutuhkan ketika kita turun di pedalaman Gunungkidul dan Kulonprogo. Menjadi tantangan tersendiri bagi para surveyor yang asal usulnya dari luar Jawa.
Untuk satu kali wawancara yang berjumlah sekitar hampir dua ratusan pertanyaan, para pejalan ini mendapat imbalan lima puluh ribu, ditambah ongkos transport sampai empat ratus ribu rupiah. Mereka terpaksa harus sedikit tidur, karena biasanya kerjaannya adalah kejar target waktu. Selain itu, surveyor juga di sangoni kaos lembaga survey untuk dibagikan kepada responden.
Sampai ke pelosok Kulonprogo kami menyaksikan pergulatan politik disana antara penguasa Kulonprogo CS penguasa Kraton Yogyakarta dengan rakyat kecil yang mempertahankan kawasan pantai laut Kulonprogo dari jamahan perusahaan tambang bijih besi. Pemerintah menjanjikan masa depan masyarakat Kulonprogo akan lebih baik, tetapi masyarakat sekarang tidak bisa dibodohi lagi, mereka tetap ingin mempertahankan wilayah pantau sebagai lahan pertanian cabe merah. Pasir pantai yang mengandung bijih besi ternyata mambu menjadi sebab cabe-cabe itu lebih tahan tak cepat busuk dibandingkan dengan cabe-cabe tanah biasa.
Para petani cabe Kulonprogo juga termasuk petani yang pandai. Ia tidak seperti petani kacang ijo di Demak yang menyerahkan ketentuan harga di tangan tengkulak, petani Kulonprogo sengaja menggelar bursa pelelangan cabe merah yang dihadiri oleh pedagang yang datang dari berbagai penjuru, diantara beberapa tengkulak itu dari Jakarta yang sengaja bawa truck untuk melelang cabe merah dari pantai kulon progo.
Paesan, 24 Oktober 2009
Ahmad Saifullah
karikatur anak sekolah (48),karikatur sekolah (11),karikatur siswa sekolah (3),kalikatur anak sekolah (1),kata kata singkat tentang hidup di rantauan (1),karikatur unik ANAK SEKOLAH (1),karikatur pendidikan siswa sekolah (1),karikatur anak-anak sltp (1),Karikatur anak SMA (1)






(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Dimanapun kita butuh survival, ya?
cerita yg menarik… penuh inspiratif yg menggugah.
intinya harus dijaga jiwa kemandirian. klo awalnya hrs bekerja sebagai profgesional, itu juga dalam rangka belajar dan membangun network. hrs tertanam suatu saat bisa mandiri…..
ingat sair mbah rifai, mukmin bengkuk luwih mulyo nandur telo….. (teruske dewe …) itu salah satu syair pemberi semangat untuk para santrinya.
jadilah pribadi yg dilamar or dicari oleh orang lain.
kalau kita temui teman-teman dari bangsa Indonesia. kebanyakan ketika kita tanya masalah kreatif itu kenyataannya berasal dari kere dulu, baru aktif. jadi kreatif. deh….
@asep,
Hahahaahaha ………
Asal tidak “berakit-rakit kehulu # berenang-renang ketepian ”
Bersakit-sakit dahulu # Senangnya Kapan-kapan .