Malam itu bulan purnama begitu sempurna. Terlihat cahayanya berpendar menerangi kolong langit. Sesekali segulungan awan bergerak menutupi keelokannya. Cahaya itu membangunkan yang tidur, juga menidurkan yang siang hari bertebaran. Aku terus saja mempercepat langkahku. Sudah terasa remuk redam balung-balung yang sudah dua puluh jam tak dihempaskan dalam ketenangan istirahat. Waktu itu: selepas mengikuti pelatihan kader dakwah Pimpinan Daerah Rifaiyah Pekalongan, pada 27 Februari 2010.
Ku hempaskan jasad ini di amben yang biasa menyangga ketenanganku dalam mengembalikan sel-sel yang rusak. Aku terlelap begitu saja, seperti kelelapan orang kelelahan. Sebenarnya kelelapan yang tidak tenang, karena sesekali tidur, laksana masuk dalam alam mimpi yang berliku.
Ruang mimpi itu selalu tiba-tiba. Sebuah dunia seperti lorong waktu, karena bisa saja kemudaan kita sekarang menjadi rupa tua renta dalam alam mimpi. Mimpi laksana relativitasnya Einstein yang melepaskan ruang dan waktu. Ia juga laksana kuda terbang yang melegenda bisa menembus batas-batas alam, dan spasial, temporal. Tiba-tiba suara itu begitu keras dan membahana di kolong langit yang menembus atap rumah. Suara itu seperti peringatan yang memanggil-manggil.
“ojo turu….turu lali…” aku tergeregap mencari asal muasal suara yang membahana itu. Mataku mengelilingi seisi ruangan. Kepalaku siap menoleh kemanapun untuk menemukan hembusan suara yang serasa dari kejauhan itu. Sambil menajamkan daya pangrungu, aku terus saja mencoba mengenali suara yang sayup-sayup menghilang, lalu datang lagi.
“hai…cucuku…ojo turu-turu lali…” beberapa kali suara itu muncul menerjang telingaku, dan terasa sangat jelas sekali suara itu bersumber dari manusia yang sudah udzur. Hatiku berujar, “ia…seperti suara simbah-simbah…”
Aku mulai berjalan untuk menemukan sumber suara itu. Ku buka pintu rumah, langkahku mengendap-endap berjalan ke arah suara muncul. Aku terus memasang telinga untuk menangkap suara yang menggetarkan itu. Aneh, sepertinya suara itu dari arah pekuburan yang berada di beberapa meter dari rumahku. Setelah segala daya pangrunguku sudah ku pasang, suara itu enggan muncul. “kalau ku lanjutkan bisa jadi sampai ke ujung pekuburan sana….iiii serem.”
Hembusan angin malam yang semakin dingin membuat badan ini semakin merinding. Aku harus menghentikan langkah berbalik arah untuk pulang istirahat kembali. Tapi baru saja terbersit niat untuk kembali ke persemayaman, suara itu muncul lagi dari berbagai arah. Ia seperti serombongan anak panah, menyerangku bertubi-tubi: “ojo turu….turu lali…mati sak jeroning urip…urip sak jeroning mati. Tan hasil angen-angen beloko dienggoni…”
Aku panik dihantui ketakutan yang mendalam. Aku mengitari segala arah penjuru mata angin, ingin sekali menemukan satu saja sumber suara. Aku tak kuasa menahan penasaran, lalu aku menjawab dengan lantang. “siapa kau….wahai suara kegelapan…siapa kalian…”
“wa..ha…ha…ha..ha…kamu bertanya pada dirimu sendiri….iiii….hehehehe…”
“maksudnya apa?” aku semakin penasaran dibuatnya. Dentingan jam mushola sudah berbunyi sampai dua kali. Pertanda malam ini sudah mencapai seperempat malam yang menggetarkan bagi para hamba yang selalu bermunajat. Bertrilyun malaikat turun ke bumi untuk menebar rahmat dan barakah dari Allah kepada hambanya yang mau menerima dengan panjatan puja puji dan doa. Ingatanku tertuju pada seperempat malam yang menjadikan aku mulai ingin melangkah mencari sumber suara, dalam hatiku berkata: “jangan-jangan itu panggilan arwah para wali, atau sejenis malaikat yang dijanjikan turun pada seperempat malam.”
Aku bersuara lagi dengan tangan ku cungkupkan di depan mulut, agar suaraku sampai terjangkau jauh.
“wwwweeeeeeiiiii….siapa sebenarnya kau…dan kalau kau mau, aku bisa menemui mu sekarang juga.”
“tak usah susah payah mencariku…carilah aku dalam hatimu…” suara itu sangat jelas di telingaku, bahkan seakan ia bersumber dari gendang telingaku. Aneh…suara yang kedengarannya jauh, tapi mendadak bisa terdengar begitu jelas.
Mendadak tubuhku bergetar kencang dan sekencang-kencangnya, saking tidak kuatnya aku terpelanting membentur pohon belimbing. Lalu tak aku sadari tubuhku melayang seperti tebang di bawa angin. Berputar-putar melayang dan sepertinya aku dilempar ke tengah pekuburan.
“aaaaaaa….” aku berteriak dan menjerit karena punggungku terbentur dengan batu nisan.
Dari beribu pori-poriku keluar asap tipis. Saat itu tubuhku terasa panas, lebih dari sekedar panas dalam atau panasnya tubuh ketika duduk di dekat perapian. Sungguh panas luar biasa.
“aaaaaa…..panaaaaas….paaaannaaaas…” raunganku yang begitu keras seperti ditelan malam begitu saja. Sepertinya kalah dengan derik suara jangkrik, dan suara gesekan bulu belalang. Heran tak ada seorang pun yang mendengar suaraku.
Asap itu terus keluar membumbung menjadi gumpalan asap yang semakin menebal…terus menebal…menebal…dan asap itu membentuk semacam jasad manusia yang aku tak mengenalinya. Tiba-tiba ia tersenyum padaku.
“Ssssiiiiiaaaapppaaaa Engkau….” Aku ketakutan. Tapi sebisa mungkin aku lawan, karena rasa penasaranku lebih besar, ketimbang ketakutanku.
“hahahahaha….aneh kalau kamu tanya begitu…bukankah aku ini kau…”
“ttttaaaaak mungkin….karena wujudmu tak serupa dengan wujudku…”
“aneh kamu Sep…lah wong aku ini hatimu masak ya…harus serupa dengan wadakmu..” aku tambah penasaran atas ucapan-ucapannya.
“tapi tak mungkin juga hati bisa menguap menjadi asap yang membentuk wadak manusia.” Aku memojokkannya dengan pertanyaan yang sekiranya juga bisa membuat penasaranku terjawabkan. Rasa penasaranku berlapis-lapis, kayak kue lapis.
“tak usah kau mencariku, karena justru aku yang akan mencarimu.” Asap itu menjawab dengan tenang seperti bukan asap yang diam disapa semilirnya angin malam. Ia tidak membumbung keangkasa, dan tak pula pudar. ia begitu tenang dalam kegelapan.
“tapi kenapa kau memanggil-manggilku?” aku bertanya dan terus mengamati asap yang bisa bicara ini. Rasa penasaranku menimbul kan keinginan meniup asap yang ada dihadapanku.
“karena kau telah meninggalkanku dari wadak mu. Maka aku harus memanggilmu.”
“kenapa aku harus menunggumu, aku kenal saja tidak sama kau.”
“hahahahaha…itulah kesalahan mu dan kesalahan hampir sebagian besar manusia…mengenal saja tidak apalagi memelihara kesehatan hatinya.”
“Akulah hatimu yang tak kau pelihara. Kau bisa menyebutku Mbah Asep, atau Mbah Ipul, Mbah Pollah, Mbah Ahsa, atau bisa Mbah Ipul kakean polah…”
“Sudah berapa tahun kau telah meninggalkanmu?”
“Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan Mbah!”
“Kau ini manusia. Anatomimu terdiri dari akal, hati, ruh, jasad, nafsu. Tapi kenapa kau cuek terhadap akal, hati, dan ruh. Yang kau pelihara hanya nafsu keinginanmu sendiri, dan kemekaran jasad Mu.”
“Kau itu bukan nafsu, bukan sekedar jasad seperti binatang, tak pula sekadar ruh laksana malaikat, juga tak hanya akal dan hati. Kau keseluruhan dari itu semua, bahkan setiap diri manusia terdapat nur Muhammad dan semuanya akan bermuara kepada Allah SWT. jadi dalam dirimu ada unsur ilahiah, potensi ketuhanan yang tak satupun makhluk dianugerahinya selain para manusia….. bersyukurlah…. bersyukurlah….bersyukurlah….”
Aku tak kuasa berdiri lagi melihat kilauan cahaya keputihan yang keluar dari asap yang semakin menebal. Juga sayatan suara yang melengking terasa menoreh dalam batin.
Asap tebal itu tak membuatku sempurna bisa menatapnya, karena keterbatasan kekuatan mata atas umpan balik cahaya yang semakin menyala. Kakiku tak bisa lagi menyangga jasad, dan seperti ada yang menuntunnya aku bersujud dihadapan hatiku sendiri.
“apa akibatnya jika yang kau urusi hanya keinginan dan kemauan jasadmu, kau tak pernah memperhatikan dimensi ruh, frekuensi akal, energi hati, dan mengkhalifahi seluruh anatomi dan potensimu untuk membekali diri menjadi manusia Sang Khalifatullah. Kau hanya sebentuk binatang, dan tak berlaku lagi makhkota akhsani taqwim bagi dirimu, dan sebangsamu. Kau sungguh mengurangi, mereduksi, kesempurnaan ciptaan Tuhan, kau mengingkari nikmatnya. Maka maaf seandainya aku bilang dirimu sebagai Kafir, kufur, kau tertutup, kau terhalang-halangi oleh kesempurnaanmu sendiri, tak mau memandang potensimu yang lain selain nafsumu.”
Tak terasa mataku mengeluarkan air mata dan hatiku terenyuh atas kata-katanya. Serasa diri ini dibanduli dengan kesalahan yang begitu besar dan berat yang menjadikan aku tak kuat lagi untuk menyangga jasad ini berdiri. Aku hanya termangu duduk di hadapan asap yang kelihatannya mulai bersila. “aku tak lebih dari seekor binatang melata yang tiap hari hanya biasa mencari makan dan minum. Hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar dan melayani keindahan-keindahan keinginan hawa nafsu.” Saat sujudku menitikkan air mata penyesalan yang tiada terkira, dari arah yang tak aku duga menggema suara lantunan ayat-ayat Qur’an.
رَبَّنَاظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَسِرِيْنَ
Duh pangeran sesembahan kita
Satuhune kita sampung nganiyaya
Ing awak kita
Menawi paduka boten kersa ngapura
Serta boten karsa
Paring kawelasan dumateng kita
Satuhune kita
Kalebet golonganipun tiyang ingkang sami tuna
“Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Suara itu berulang-ulang sampai beberapa kali, dan terasa menyentak di hati setiap manusia. Menggetarkan sanubari setiap makhluk yang mambaktikan dirinya untuk selalu bertasbih. Mungkin gunungpun akan terpekur, membatalkan untuk memuntahkan lahar mendengar ayat-ayat pertobatan itu dilantunkan dari sangkakala kehidupan.
Pada detik itu angin terasa berhenti, dedaunan sangat khusyuk menyimak lengkingan yang begitu hening dan bening. Suaranya menyayat setiap hati kehidupan makhluknya. Memberi energi kehidupan baru bagi semua yang dikaruniai kehidupan. Bahwa hidup hanya dihidupkan oleh sang Maha Hidup….ya…Hayyu…ya…Hayyu…
Doa ini sebagai pertanda permohonan dan pertobatan manusia pertama setelah melanggar perjanjian dengan Khaliknya. Doa kehambaan ini sebagai doa awal kehidupan manusia mulai menyemai cinta, benci, sedih, bahagia, serakah, nrimo ing pandum, syukur, kufur, ridlo, pamer, berkeluh kesah…dan masih sangat banyak komponen kehidupan manusia di maya pada ini.
Karena ketamakan manusia, sehingga sorga yang menjanjikan kenikmatan yang tiada terkira: tak pernah di dengar oleh pendengaran, tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah di hirup oleh penciuman, tak pernah dirasa oleh lidah, pun belum cukup bagi makhluk yang bernama manusia. Ia selalu serakah, dan tak kuasa menahan nafsunya memakan buah keabadian (buah khuldi).
“cukup…cukup…kau tak usah lagi menangis tersedu sedan, yang paling penting dirimu sekarang mempunyai komitmen untuk tidak mengulang meninggalkan ku lagi, aku bagian komponen terpenting dalam hidupmu, maka kalau kau meninggalkanku lagi, kau tak lebih dari seekor kambing, bahkan lebih jelek dari itu.” Angin pun sudah mulai bersepoi kembali, cakrawala terlihat bersih dari awan-awan yang tadi berseliweran menutupi purnamanya rembulan. Aku mengangkat kepala untuk bangkit dari sujudku. Aku menghadap ke arah hatiku yang masih saja sebagai gumpalan asap yang bersila dihadapanku.
“hi…hi…hihihihi….dasar cengeng…trus kau akan memformat kehidupanmu yang bagaimana. Butuh visi, pemikiran, paradigma baru dalam kehidupanmu, sehingga kau tak bakal meninggalkanku lagi.”
“iya Mbah…sendiko dawuh, tapi maksudnya visi yang bagaimana Mbah?”
“visi itu cita-cita, cita-cita mu harus kau rubah dari cita-cita yang materiil duniawiyah, menuju cita-cita abadi yakni menjangkau akherat.”
“trus Mbah?”
“Kau harus berusaha menghadirkan Allah dalam setiap laku hidupmu, bekerja bukan atas dasar keinginan mempunyai mobil mewah, rumah mewah, dan semua jenis kekayaan yang sifatnya sementara, tetapi bekerja adalah mensyukuri saham Allah berupa tangan, kaki, mata, telinga, hidung, udara, air, yang seratus persen dipinjamkan Allah kepadamu. Maka kalau saham itu tak digunakan sesuai kehendak Allah, itu sebuah bentuk kekufuran. Kekufuran berawal dari hati yang tidak dijaga dari kebeningannya, seringnya dihinggapi penyakit hati yang bisa menyambar kepada hati setiap manusia, dari yang Nabi sampai orang awam.”
Dia terus saja nerocos laksana menasehatiku bertubi-tubi. Aku terpekur mencerna apa yang dia nasehatkan. Sayup-sayup tapi pasti suara bening itu muncul lagi bersemilir menyapa setiap telinga yang siaga. Ia jelas melantunkan kata-kata arab yang familiar di telinga. Sepertinya kata-kata itu berasal dari kitab Riayatul Himmah.
وَطَهِرِ الْقَلْبَ وَصَحِحِ النِّيَّةْ وَابْتَغِ بِاالْأَسْبَابِ لَاالْأَمْنِيَة
Lan nucekna sira ing ati kebatinan
Ngupaya ilmu syara neja ing pangeran
Rasikna aja reged haram riyaan
Iku regede ati dosa rinesikan
Lan angesahna sira ing ati niat
Karana Allah amrih munfaat akherat
Ngalindunga ing Allah saking sasar lepat
Gegeyongan ing Allah kanugerahan rahmat
Lan amriha sira kelawan amal ngelakoni
Sekehe sababe becik arep di dalani
Tan hasil angen-angen belaka dienggoni
Balik wajib ikhlas ati ditemeni
Dan sucikanlah batin hatimu
Mencari ilmu syariat menuju kepada Tuhan
Bersihkanlah jangan sampai kotor oleh riya yang haram
Yaitu, kotornya dosa hati dibersihkan
Dan sahihkanlah niatmu
Hanya untuk Allah supaya manfaat akherat
Berlindunglah kepada Allah dari kesesatan dan kesalahan
Berpegangan kepada Allah supaya dianugerahi rahmat
Dan berusahalah untuk melakukan
Beberapa sebab kebaikan harus dilakukan
Tak kan berhasil kalau hanya berangan-angan
Hati harus ikhlas sepenuhnya
“coba renungkan suara bening itu!” asap yang mendayu-dayu itu memerintahkan agar aku merenungkan pesan suara itu. “Iya…” jawabku menyanggupi perintahnya. Aku bagian dari dirimu tapi kenapa kau yang memerintahku.
“kau tidak terima begitu. Saya ingin tanya, dalam anatomi keseleruhan tubuh ini siapa yang harus memerintah? Hati atau Nafsu?”
“tidak semuanya, tidak hati dan tidak nafsu, yang harus memerintah seluruh organ-organ komponen manusia adalah akal!” aku tak mau kalah, dari tadi aku dibuatnya sedih, menangis, marah, dan ketakutan. Setidaknya mulai sekarang aku harus menggunakan argumen untuk membantah. Aku harus melantunkan dasarnya yang aku ambil dari kitab andalan dari perguruan Kalisalak. Kulantunkan seleret kalimat itu dengan nada tinggi, agar semua makhluk yang ada disitu mendengarnya. Karena aku yakin suara bening tadi bukan milik asap tebal yang mengaku sebagai hatiku ini. Ku lengkingkan kalimat yang sempat aku hafal waktu dulu ku ulang-ulang di sorogan selepas maghrib di mushola mustakim.
طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرً وَهَوَاءُهُ يَكُوْنُ أَسِيْراً
Begjo temen kaduwe wong ono tinamune
Aqale dadi ratu marintah lakune
Lan hawane kalah ana dadi boyongane
Ikulah mukmin adil sabab merangi hawane
Beruntung sekali kepada keberadaan seseorang
Yang akalnya menjadi ratu memerintah kelakuannya
Dan hawa nafsunya kalah
Itulah Mukmin Adil karena dia telah memerangi hawa nafsunya
“ha…ha…ha…ternyata kau juga bisa ndalil kayak gitu….” Suara bening dari kejauhan muncul lagi, kata-katanya seperti mengejek, mungkin dia tak percaya kalau aku mengetahui tentang beberapa dalil dari kitab Riayah. Ia bertanya dengan lantang.
“kamu bawa contekan ya….”
“jangan meledek kayak gitu, emang yang punya pengetahuan tentang kayak gitu cuma kamu apa.”
Aku bersungut-sungut sambil menahan diri, agar aku tetap tenang.
Bersambung
Paesan, 6 Maret 2010
Ahmad Saifullah






Saya semakin yakin, Gus Mus (Mustofa Bisri) nya Rifa’iyah – kini telah muncul- untuk menjadi bagian dari kerlap- kerlip lampu penghias lentera iman dan kebajikan!!! Terus kang Asep!!
@ibn khsabullah, Sebuah Apresiasi yg luar biasa, dengan mendirikan Media ini. Dengan Media ini Rifa’iyyah menegasikan diri tidak buta teknologi, modernisme Rifaiyah menjadi tidak terhindarkan. Dengan adanya Media ini pula, kita semua bisa melihat, bahwa Rifa’iyyah punya potensi yg luar biasa. Mutiara-mutiara terpendam.
Apresiasi itu harus diberikan kepada kang Yazid dan kang Rifa’i. Merekalah penggagasnya. Saya hanya “tukang tiup” dan “tukang kipas” (tentunya dalam makna positip, insya allah).
semua punya peran masing2….lanjutkan !