| Bukan apa-apa. Ini hanya semacam kita makan botok kluban, atau tauto. Makanan itu tak mungkin anda temukan di salah satu sudut kota di Sidney. Tapi anda cukup menunjuk salah satu pedukuhan di Pekalongan, pasti warganya ada yang menjajakan blotok kluban, pindang tetel, kroco, kedoyo sambel, dan masih banyak lagi. Apalagi kalau masuk bulan Romadhon seperti sekarang ini. Pasti beberapa di antara warga, kerjaannya pegang biteng untuk menyongkel bol keong.
Dalam imajinasi, saya pernah membayangkan seekor keong sempat protes kepada Tuhannya, “kenapa Engkau tambatkan mahkota ahsani taqwim pada diri manusia?” demikian protes keong pada Tuhan penguasa alam suatu ketika. “Emangnya kenapa? Terserah Gue dong” jawab Tuhan. “Nggak Pantes aja sih… wong dia itu nggrengges banget. Masak dia suka sekali nyucrup bol ku tiap hari, bahkan mereka itu ada yang menjadikan keluarga besarku ini sebagai makanan favoritnya. Santapan setiap malam jelang tarawih.” “Anehnya lagi…justru bangsaku punah itu ketika manusia yang katanya makhluk paling sempurna itu menjalankan ibadah puasa. Bukankah puasa itu menahan diri dari tidak makan, termasuk makan keluargaku,” teriak bangsa keong merengek pada Tuhannya. Jawab Tuhan “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” keong tidak mengerti. Ini cuma imajinasi lho. Untuk menggambarkan betapa manusia itu pemakan segalanya. Mungkin kalau mewakili suara keong, sebenarnya yang diadukan bangsa keong itu permasalahan keberadaban manusia. Sesungguhnya tingkat kemuliaan manusia itu dimana, sehingga ia menjadi tambatan tugas mengkhalifahi bumi. Kalau ditilik dari kerakusannya, manusia justru uswatun sayyiahnya rakus. Contoh mudah saja kalau kita membandingkan dengan burung yang tiap hari mencari maisyah mengelilingi cakrawala, mereka tidak terbersit sedikitpun untuk menyimpan makanannya dalam kulkas, apalagi menimbun digudang, mustahil. Ular saja saat menelan mentah-mentah babi, ia tidak makan selama sebulan. Sahur sekali untuk puasa sebulan penuh. Bandingkan dengan manusia yang berakal, saban hari kerjaannya menumpuk numpuk makanan, di perut, sehingga sampai banyak yang kelebihan, entah itu kelebihan gula, lemak, dll. Tak puas menyimpan diperut, dilanjutkan disimpan dalam kulkas; melipat-lipat segala macam cadangan makanan dalam gudang, tak jarang menimbun. Padahal Nabi sendiri mengajarkan agar rumahnya kosong dari sisa makanan, ketika matahari mulai terbenam. Dulu Pak De Tamin, kakek yang penuh teladan selalu mengajari hidup pas-pasan, dalam arti penuh kesederhanaan. Beliau hobinya mancing. Kalau beliau mendapatkan ikan lebih dari tujuh, maka akan melepas kembali ke sungai. Ia juga melepas ikan kecil yang kesasar nyangkol di patis Mbah Tamin. Dalam batinku yang kadang menemaninya selalu menggerutu, “Simbah ke goblok, mosok entuk iwak diculke maneh,” tapi aku tak berani bertanya, hanya diam, karena aku bukan bocah jaman sekarang. Lama-lama, aku mendapat keterangan dari tetangga-tetangga kalau ikan yang dilepas itu berarti jumlah ikan yang lebih didapatnya untuk kebutuhan hari itu, karena jumlah keluarganya tujuh orang, maka tiap hari, beliau hanya membutuhkan tujuh ekor ikan untuk lauk. Adapun ikan yang masih kecil baginya pantang untuk memakannya, karena sama halnya tidak ikut melestarikan regenerasi ikan. Bahkan beberapa kali ia sempat melarang orang-orang yang berniat memportas sungai sengkarang yang ia cintainya. Goloknya yang terselip di pinggang, cukup menggetarkan para spekulan instant bodoh yang menghendaki ikan banyak dalam sesaat, tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan. Cukup beradab orang-orang dulu memperlakukan alam. Untuk mejadi beradab dia tak butuh baca buku Al-Gore tentang lingkungan, tak butuh pengetahuan yang dakik-dakik tentang suatu hal, tapi ngelmu nya menjadi laku dalam hidup. Dalam kreasi merusak bumi, manusia juga menduduki peringkat rangking, dibanding di antara beberapa makhluk lainnya. Dan anehnya justru orang-orang yang dibesarkan dalam pendidikan formal yang sekarang mendapatkan mandat setan untuk melacungi bumi tiap hari. Kita bisa melihat secara telanjang, kasus korupsi di segala lini itu dikomandani oleh mereka yang bergelar sarjana sampai master, tak mustahil doktor. Korupsi Amin Nasution yang merangsek hutan lindung di Bintan, mungkin membuat kera ikut misuh-misuh, karena tempat muqim mustautinnya disirnakan. Hutan yang mengandung berjuta kekayaan itu diratakan dengan tanah. Tak mungkin kera-kera itu mengumpat dengan kata-kata asu, celeng, dancuk, kirik, karena mereka yang disebut tadi adalah mitra dalam membangun peradaban yang penuh adab di hutan Bintan. Dia pasti mengumpat dengan kalimat “dasar manusia bedebah!!! Perusak Bumi…Setan kober!!!..Cuih!!!” Bisa dilihat tho. Para perusak bumi itu, mereka alumni bangku sekolah sampai kuliah. Maka logika saya sebagai orang awam mengatakan bahwa pendidikan, khususnya formal pada sisi gelapnya mencetak kader-kader manusia perusak alam dan penumpah darah. Tinggal di data lebih banyak mana antara mereka lulusan sekolah yang bertugas sebagai perusak bumi, dengan mereka yang berkeringat membenahinya. Padahal kata maqolah “Kalau ada seribu pembangun, maka cukup satu yang merobohkan” itulah bandingannya, karena merusak, merobohkan jauh lebih mudah dan cepat. Aku pernah melihat kerajinan kriya di salah satu SMK di Jogja. Proses pembuatannya menghabiskan waktu sampai satu minggu, tapi ia bisa rusak dengan dibanting cukup butuh waktu tiga detik. Coba bandingkan. Susahnya sekarang itu yang membangun satu, yang merobohkan seribu. Semua perusahaan batik yang kecil sampai yang kelas kakap membuang limbah ke sungai, tetapi yang perduli pada kebersihan sungai hanya tak lebih dari lima orang. Mustahil bumi ini tak kiamat. Tapi jangan khawatir….Allah dalam satu ayatnya memberi motivasi. “…berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. 2 : 249) |
Makanya pantas apabila suatu ketika malaikat sempat protes kepada Allah tentang rencana menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi,
“…mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau.” (Q.S. 2: 30)
Malaikat hanya menyebut kemungkinan terburuk, dan juga prediksi tentang pendaulatan Adam sebagai pengganti Allah di bumi. Atas prasangka malaikat itu, maka Allah menjawab, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” Logika narasi firman tersebut, seakan Allah mau bilang kepada malaikat. “kamu hanya tahu sisi buruk manusia, sedangkan Aku mengetahui segalanya, kelebihan, kekurangan, keburukan, kebaikan, calon khalifahku ini.” Malaikat tidak bisa membantah, dalam kata lainnya Allah telah bilang sama malaikat: “aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan.” Kemudian Malaikat memuji kepada Tuhannya. Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, tak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Q.S. 2: 32) Kalau malaikat punya rasa cemburu kemungkinan mereka cemburu kepada Adam. Alasannya cemburu, pertama karena dia adalah makhluk senior, diciptakan lebih dulu dari Adam. Dalam imajinasiku Malaikat dalam hatinya agak menggerutu, “kenapa tidak aku saja yang Engkau jadikan sebagai khalifatullah, bukankah kami sudah teruji dan kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan engkau.” Kedua, ia lebih bertakwa dan lebih pantas dibanding Adam. Buktinya ia sempat berujar tentang perilaku negatif manusia saat kelak ia jadi khalifah. Sekali lagi, dalam imajinasiku malaikat berujar dengan agak malu-malu. “kenapa tidak bangsaku saja yang Engkau jadikan khalifah di bumi.” Sebelum kebingungan malaikat berlangsung lama, Allah sudah lebih dulu menunjukkan kelebihan makhluknya yang baru ini. “…dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama (benda-benda), kemudian memperlihatkannya kepada para malaikat, dan dia berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar.” (Q.S. 2: 31)
Kita dapat berpendapat bahwa kelebihan Adam dibandingkan dengan malaikat karena diletakkannya akal ke dalam diri Adam, sehingga ia mampu menangkap signal ajaran-ajaran Allah kepadaNya tentang nama-nama benda. Keunggulan lainnya terletak dalam bahasa. Karena yang diajarkan adalah nama benda-benda, yang berarti kata-kata. Sedangkan apabila kata dirangkai akan menjadi kalimat, dan susunan kalimat yang banyak itulah yang akan terumus menjadi bahasa. Maka keutamaan manusia selanjutnya terletak dalam bahasa. Bisa dikatakan bahwa kelebihan yang lain dari Mbah Adam adalah kemampuan untuk berkomunikasi. Kita tahu bahwa pilar komunikasi adalah bahasa, maka ketika manusia menguasai bahasa ia dapat berkomunikasi. Ketika ia bisa berkomunikasi dengan bahasa dan menggunakan akalnya, maka akan terus terjadi perkembangan ilmu, sebagai pondasi penemuan segala aspek kehidupan manusia. Tapi walaupun Adam dan anak cucunya punya akal sebagai alat keungulan, tetapi tak jarang akalnya tidak dipakai. Peristiwa Qobil-Habil menjadi contoh awal ketika akal tak digunakan sama sekali. Kita biasa mendengar idiom minor Jawa “akale nang dengkul” dalam arti kadang memang manusia lupa menggunakan akalnya. Apalagi istilah lain yang berujar bahwa wong Jowo itu berarti sering Ngujo Howo, atau memperturutkan hawa nafsu dan menyingkirkan akal. Maka tak jarang al-Qur’an sering mengingatkan. “mereka tidak mengerti” dan “mereka benar-benar kaum yang tidak mau menggunakan akal.” “tidak kah kamu berfikir” Allah menurunkan tanda-tanda, pelajaran-pelajaran, dan ketentuan-ketentuan, “agar kamu memahaminya”. Orang-orang yang paling beruntung menurut al-Qur’an adalah mereka “mereka yang berakal,” “orang-orang yang mendalam ilmunya,” “mereka yang berfikir” “dan mereka yang mengakui bukti-bukti yang terang.” Didalam al-Qur’an digambarkan sedemikian gamblang tentang kebenaran manusia yang selalu menggunakan akalnya. Maka penggunaan akal adalah lebih didahulukan sebelum wahyu pada konteks tertentu saya anggap benar. Alasannya karena kitab suci tidak diturunkan langsung kepada Nabi-nabi awal, tetapi ia justru diturunkan kepada Nabi-nabi yang sudah akhir. Itupun dari yang sifatnya sederhana seperti 10 old testament, sampai berkembang sebagaimana al-Qur’an. Jadi bertambah kurun manusia, maka kitab suci akan semakin kompleks, karena kompleksnya perkembangan masalah dan tingkah polah manusia. Ibarat anda naik kendaraan di kota Jogja, maka semakin banyak tikungan, perempatan, toko-toko, maka semakin banyak pula marka, penunjuk jalan, lampu bangjo, tanda dan peraturan lalu lintas lainnya. Begitu juga kitab suci untuk manusia. Wallahu tabaraka wata’ala ‘alaam
___________________________________ Paesan,1 September 2009 Ahmad Saifullah Ahsa |





