12:52 pm - Rabu,23 Mei 2012

Ustadz Tv dan Ustadz Kampung

Jumat, 11 September 2009 23:26 | isi hati | 17 Comments | Read 603 Times

Tanbihun.com - Suatu ketika penulis bedialog dengan beberapa teman , dari bincang-bincang ringan hingga membahas isu-isu yang lagi hangat diperbincangkan.

Saya tidak tahu dari mana awalnya, tapi perbincangan itu membawa kami pada topik gaya ustadz di televisi yang semakin marak di bulan ramadhan. Ada salah satu teman saya yang bilang ” itu sich…. bukan ustadz, tapi artis yang berakting jadi ustadz”. Karena penasaran saya bertanya padanya,” koq bisa? Apa alasannya?”  dengan semangat dia menjawab ” menyitir ayat-ayat saja masih blepotan, itu kan hasil njiplak dari buku-buku tanpa pernah tahu asal-usul yang dibicarakan” tambahnya lagi ” memang tidak semuanya begitu,tapi kebanyakan memang tidak layak disebut ustadz, hanya artis yang tahu beberapa ayat dan hadist”.

Karena waktu sudah malam saya pamit pulang, sampai di rumah sempat terbawa juga kata-kata temanku tadi. Tapi yang menjadi tanda tanya di hati ini adalah ; ” apa para ustadz di TV itu salah? Salahnya dimana? Kalau mereka tidak layak, lalu dimana mereka yang layak itu?

Teringatlah aku dengan situasi yang sedang aku alami sendiri, sebagai orang awam ( yang tidak setetes pun punya darah turunan kyai) saya jadi merenung, memang tidak ada syarat tertulis, kalau mau dakwah harus turunan kyai, namun kenyataan di masyarakat berkata lain, jika yang aktif berdakwah itu orang awam, apalagi ilmunya tidak seberapa,sebatas mulang alif ba’ ta’,maka akan sulitlah baginya untuk meneruskan langkahnya, boleh jadi langkahnya akan berhenti atau malah surut kebelakang.

Itulah realitas, paling tidak itu yang aku alami  sejak tahun ’98 sampai sekarang, dimana darah kyai masih menjadi pra syarat bagi juru dakwah.

Sementara para pangeran(darah biru kyai) sudah sibuk dengan acara pengajian diluar kota, kyai sibuk dengan pengajian di masjid atau musholla, mereka sudah tidak punya waktu untuk meliahat fakta kehidupan masyarakat. Dalam bulan ramadhan ini saya pernah keliling kampung pas waktu tarawih, ternyata anak-anak muda ada yang asik pacaran di tengah sawah, dijalan-jalan desa yang sepi, saya dapati mereka ada yang anaknya kyai juga. Karena itu saya berinisiatif membuat majlis ta’lim khusus remaja,karena tidak mau lancang saya utarakan ide saya kepada ustadz dikampung saya, tapi beliau Cuma bilang ” wah… bagus itu… ente saja yang ngisi,saya tidak punya waktu”. Karena perkataan ustadz itu saya tangkap sebagai restu,dengan  tanpa niat pingin jadi ustadz dadakan.segera saya kumpulkan remaja dikampung,dan dimulailah ta’limnya.

Tapi, sungguh diluar dugaanku, si ustadz yang sangat kalem dalam menuturkan kata-kata motivasinya untuk saya berdakwah, ternyata memfitnah saya, beliau bilang ” itu lihat ada yang mau jadi kyai” maksudnya saya yang dituding mau jadi kayai, hancur hati saya, tidak pernah terpikirkan oleh saya akan menerima hal demikian.

Untuk sesaat saya frustrasi dan jengkel juga, apakah begitu cara ustadz menolak ide dari orang awam yang mencoba peduli dengan lingkungan sekitar?

Kalau memang orang awam seperti saya tidak boleh berdakwah, kenapa dia hanya diam? Dimana nuranimu? Melalui media ini saya berharap kepada yang jadi ustadz, jangan anda hanya sibuk mengurusi dakwah yang membawa ” fulus” dengan meninggalkan dakwah di kampung sendiri karena gersang dari fulus.

______________________________________________________________

Oleh : Ahmad Prihatin

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Tagged with:

perbedaan ustad muallim murabbi (2),biografi kyai nu (1),curhat online dengan ustadz (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner