Pada masa Rosulullah islam begitu kuat, kokoh, di masa itu ukhuwah ummat islam benar-benar murni, sehingga mereka mampu memimpin dalam kebudayaan dan terdepan dalam peradaban. Namun dalam rahim islam meledak perang saudara yang dahsyat. Perang yang pertama disebut dengan perang ONTA, dimana ‘Aisyah janda Rosulullah SAW dan Ali terlibat didalamnya. Perang ini dimenangkan oleh pihak Ali. Meskipun menang sebenarnya beliau membenci pertumpahan darah.
Dampak buruk dari perang saudara ini telah mengguncang sendi-sendi bangunan masyarakat islam. Yang dengan susah payah dibangun oleh Nabi dan para sahabatnya yang terkenal itu, Termasuk didalamnya Ali dan ‘Aisyah sendiri. Memang ini merupakan sebuah tragedi, dan peristiwa ini akan selalu disebut orang sampai punahnya peradaban dimuka bumi ini.
Perang yang kedua dikenal dengan perang siffin, perang siffin jauh lebih dahsyat, bukan saja dilihat dari sudut pandang politik dan militer, tetapi yang lebih penting dan sangat mempengaruhi sejarah islam sampai sekarang ialah dampaknya terhadap munculnya budaya perpecahan yang kronis dikalangan ummat islam.
Peristiwa siffin yang mengawali kejatuhan bani hisyam dan naiknya bani umayah, telah mewariskan ummat yang dungu terhadap perkembangan sejarah islam.
Kini, kita berada di abad 21, keadaan ummat islam masih belum beranjak dari posisi buritan, sekalipun pada masa lampau pernah memimpin dunia, semua itu kini telah menjadi bagian dari masa silam, tersimpan dalam museum sejarah.
Dari peristiwa-peristiwa sejarah diatas, timbul pertanyaan tentang ; apakah ummat islam tidak mungkin bersatu lagi? Mungkinkah ummat islam meraih kejayaannya kembali? Berabad-abad sudah kita berbaku hantam dalam mempertahankan pendapat, atau berselisih pada masalah-masalah furu’. Kapan islam akan jaya? Kalau ummatnya masih sibuk dengan qunut sunnah atau bid’ah,tahlil atau tidak,masalah besar seperti pendidikan malah diabaikan.
Mengapa ummat islam terpecah belah ?
Padahal islam menghendaki persatuan ummatnya. Menurut M.Natsir, pada umumnya kita ummat islam sering disebut muslimin, sedangkan yang dijamin persatuannya bukan golongan muslimin.
Firman Alloh tidak berbunyi : innamal muslimuna ikhwatun
Dengan jelas Alloh berfirman : innamal mu’minuna ikhwatun
” sesungguhnya orang-orang yang beriman (mukmin ) itu tak lain, melainkan bersaudara ”
Yaitu bersatu dalam ikatan rasa persaudaraan, rasa persaudaraan yang tumbuh dari keimanan kepada Alloh dan rasul.
Kiranya apabila ummat islam imannya benar-benar terpatri dalam sanubari, maka kebangkitan islam tidak akan menemui rintangan. Kalau pun ada, maka rintangan itu sebenarnya berasal dari egoisme kita, ananiyyah kita,ke-AKU-an dan keangkuhan kita.
________________________________________________________________
disarikan dari kitab idhotun nasi’in dan pandangan dakwah dan pemikiran M. Natsir
download kitab idhotunnasiin pdf (1),Innamal muslimuna ikhwatun (1)





