1:44 am - Kamis,24 Mei 2012

Jurnalis Warastatul Anbiya

Rabu, 28 Oktober 2009 11:33 | Analisis | 0 Comment | Read 155 Times

sayaAlkisah, pada kurun Yunani kuno seorang utusan yang bernama Idris didatangi dewa penyampai wahyu yang bernama Hermes. Hermes, sebagaimana jibril dalam kepercayaan Islam membawa wahyu dari Zeou (Tuhan Yunani Kuno) yang bersemayam di gunung Olimpus. Idris selaku utusan, menyampaikan wahyu itu kepada ummatnya, yang hingga sekarang diingat dalam Kitab Suci Agama-agama dunia.

Ada dua utusan dalam kisah tersebut. Hermes selaku penyampai “kabar langit” diturunkan kepada Idris, kemudian Idris sebagai utusan (Rasul) menyampaikan risalah Tuhan kepada ummatnya. Kedua pelaku tersebut kalau boleh saya menakwili, mereka sebagai “jurnalis”, karena Sayyidina Indris dan Maulana Hermes menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Kalau ditanyakan, apa medianya? Ya, lembaran-lembaran (suhuf) itu sebagai media penyampai.

Kalau Nabi pernah mendendangkan al-Ulama Warastatul Anbiya (Ulama sebagai pewaris para nabi), maka tidak salah apabila siang ini saya ingin berujar al-jurnalis warastatul anbiya (“Pemulung Fakta” adalah pewaris para Nabi). Alasannya apa? Karena mereka menempati tugas yang sama yakni menyampaikan sesuatu (Tabligh) yang berupa berita, risalah, peristiwa, fakta, sejarah, temuan-temuan, bukankah tabligh salah satu sifat wajib Rasul. Kalau ditanya perbedaan keduanya apa, maka saya akan jawab, mereka sama-sama tidak jual bakso. Tidak nyambung tho…ya udah tak apa, memang dunia ini seringkali tidak klik.

Nilai ideal seorang jurnalis ada pada empat sifat wajib Rasul yang anda pelajari setiap sore di Madrasah Diniyah dulu: Shidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Maka bukan “jurnalis kamil” kalau belum memiliki keempat sifat tersebut. Jurnalistik juga harus berdiri di atas pondasi tersebut. Pertama dan yang paling utama adalah kejujuran (shidiq), karena tanpa kejujuran mustahil datang kepercayaan. Dunia tanpa kepercayaan akan hancur berkeping-keping.

Tapi itu semua menjadi khayal ketika kita dengan merem saja sudah bisa meraba kebohongan-kebohongan media dari tingkat internasional sampai lokal. Alasannya apa kok media sebagai out put jurnalistik banyak berbohong. Saya kutipkan narasi Efendi Ghazali, pakar ilmu komunikasi Universitas Indonesia yang membahas potensi kebohongan media.

Satu, media cenderung membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan data. Pendeknya, peristiwanya memang ada, Cuma disajikan lebih besar, lebih dramatis, atau lebih kecil, atau dianggap tidak terlalu penting untuk diberitakan secara detail. Dua, memberitakan yang tidak pernah ada. Misalnya senjata pemusnah Massal milik Saddam Husein yang sesungguhnya tak lebih adalah impian musim semi atau musim gugur yang dikarang oleh Bush Junior dengan bantuan kaki tangan media yang mendukungnya.

Tiga, tidak memberitakan kejadian yang memang terjadi dan seyogyanya jika disajikan mungkin bermanfaat bagi public. Anda dan saya penggemar good news sudah terlalu sering merasakan betapa kita didiskriminasi oleh sajian-sajian bad news. Berita baik sudah tidak lagi dianggap memenuhi unsure-unsur jurnalistik manapun, dan inipun tentunya suatu kebohongan

Empat, membohongi agenda public dengan sengaja! Artinya media membombardir kita dengan berbagai berita yang kemudian memaksa kita ikut mengakui agenda media itu sebagai hal-hal yang penting dalam hidup kita, yang harus mendapat curahan perhatian. Sebagaimana isu AIDS yang membohongi masyarakat dunia, dengan mengambinghitamkan moyet sebagai awal mula kemunculan AIDS.

AIDS sejatinya, menurut J D Gray dalam Dosa-dosa Media Amerika, sebagai hasil rekayasa para ilmuwan, yang sengaja disebarkan di dataran Afrika untuk menumpas kaum kulit legam. Maathai, Peraih Nobel Perdamaian dari Afrika mengatakan, seandainya AIDS sebagai penyakit kutukan dari langit, kenapa dari 38 juta korban, yang 25 jutanya ada di Afrika. Kalau monyet dituduh sebagai biang kerok, wong mereka hidup bersama monyet sudah ratusan tahun, dan tidak ada apa-apa tuh. Menarik bukan?

Lima, membohongi public dengan menekankan berkali-kali bahwa mereka, yakni media sebagai institusi maupun orang-orang dibelakangnya tidak sedang membohongi anda. Media akan mewawancarai atau meminta para kolumnis atau pengamat berbicara di halaman serta layer mereka guna melengkapi keyakinan publik bahwa media sedang tidak berbohong! Bahkan pada cara yang paling canggih, dibuatlah sebuah panggung yang seru, penuh dengan adu pendapat, tapi pada ujungnya opini yang mengokohkan sikap satu media terlihat jelas lebih rasional dan perlu didukung.

Dari sisi kejujuran (shidiq) saja kita kadang dihadapkan pada permasalah-permasalahan yang rumit dan berbagai alasan kepentingan-kepentingan. Misalnya salah satu contoh, tentang pengutipan sumber yang serampangan Apalagi menjelang perayaan pemilu sekarang ini, sangat bercecer kebohongan-kebohongan publik, termasuk penulis makalah ini juga suka berbohong. Tapi kebohongan banyak media tidak berarti mereka hoax semua. Masih berjubel insan jurnalis yang memperjuangkan kejujuran, dan ketulusan.

Sebagai kelanjutan dari pewaris para Nabi, jurnalis menduduki maqam tinggi, karena ia telah mendokumentasikan ayat-ayat kauniyah (fakta) yang diutarakan oleh Allah di luasnya alam ini. Kalau Nabi menyampaikan ayat-ayat qauliyah yang berupa Firman dan hadis, maka jurnalis menyampaikan kelengkapannya berupa tanda-tanda kebesaran Tuhan. Pantaskan menjadi pewaris para Nabi.

Ahmad Saifullah

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

ayat-ayat tentang jurnalistik (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner