Bahasa Kepentingan
Kepentingan sebagai landasan manusia berbuat di dunia ini. Manusia yang mempunyai kepentingan adalah ketika ia memandang penting suatu hal dan mengabaikan hal lain karena dianggapnya kurang penting atau sepele. Hal penting menurut saya belum tentu penting menurut orang lain. Sesuatu yang menurut orang penting, belum tentu penting bagi kami. Jadi kepentingan setiap manusia akan berbeda, karena cara pandang dan pandangannya atas kepentingannya berbeda.
Caleg sangat memandang penting kursi di legislative, ia bisa dikatakan menganggap remeh temeh koridor agama. Maka dengan dalih hadiah, ia bisa menghalalkan beragam model riswah untuk mengegolkan cita-citanya mendapatkan kursi legislatif. Hadist Nabi yang mengancam penyuap dan yang disuap akan masuk neraka tidak digubrisnya, karena bukan kepentingannya sebagai manusia untuk menjadi penduduk akherat. Manusia caleg sering mengkamuflase suap menjadi: hibah, hadiah, infaq, shodaqoh, dan penerimanya juga pura-pura tidak tahu, bahkan membenarkan kepalsuan itu. Maka di akherat Allah akan nggeneni periuk raksasa yang didalamnya diisi manusia. Ketika manusia berteriak kepanasan minta ampun, maka Allah bilang Aku tidak membakar kalian, tapi membakar periuk, sebagaimana kalian dulu menerima suap tetapi kalian bilang itu hadiah.
Orang yang menganggap gemerlap dunia lebih penting dibandingkan dengan kehidupan di akherat dianggap sebagai manusia yang tak beradab. Karena dalam catatan beberapa tokoh ahli sejarah peradaban manusia sering mengatakan bahwa ukuran beradabnya manusia itu dapat diukur dari orientasinya. Ketika manusia kebanyakan sudah mempunyai cita-cita jangka pendek, tak pernah memperhatikan jangka menengah, panjang, bahkan jangka akherat, maka kadar keberadaban manusia semakin menurun. Berarti sebaliknya manusia dikatakan beradab ketika ia panjang orientasinya ke depan sampai mementingkan kehidupan akherat.
Ketika kita mementingkan posisi jabatan yang hanya lima tahun dan mengabaikan perhitungan di mizan kelak, maka kita dikatakan orang yang tak berperadaban. Karena kepentingan abadi dikorbankan untuk kepentingan sesaat. Apalagi jumlah pengorbanan materi untuk meraih kepetingan kursi sebading lurus, bahkan melebihi dengan gaji selama lima tahun. Itu bukan sekedar tidak beradab, tetapi tidak berakal, alias akalnya tidak dipakai.
Saya dapat cerita dari teman saya yang kebetulan menyambangi beberapa mantan caleg. Ternyata, kebanyakan mantan caleg yang masuk sebagai legislatif, maupun yang gagal, rata-rata mereka mempunyai hutang sampai ratusan juta. Hutang itu kebanyakan untuk menebus mahalnya api neraka, sebab rata-rata hutang itu dipakai untuk modal menyuap calon penyontrengnya. Karena hutangnya sampai ratusan juta, maka di antara mereka mengalami stress akut. Dalam konteks tersebut manusia sungguh bukan sekedar tak beradab lagi, tapi sudah memasuki tahap tak berakal. Karena mereka bersusah payah membiayai kecelakaan atas dirinya.
Jadi untuk mencapai manusia beradab dibutuhkan pemakaian akal sehat. Ciri-ciri dari pemakaian akal sehat adalah ketika manusia memperhitungkan baik -buruk, benar – salah segala perbuatan yang akan dilakukannya. Kalau perbuatan manusia hanya didasari pada suka dan tidak suka, maka manusia kurang menggunakan akalnya, maka mustahil dikatakan beradab.
Saat kita makan, maka pertimbangan pertama yang harus dipentingkan adalah apakah makanan itu sehat atau tidak buat kita. Karena kita manusia yang terdiri dari jasmani dan rohani, maka sehat secara jasmani berarti makanan tidak menyebabkan penyakit apapun, dan bergizi untuk tubuh kita. Sehat secara rohani berarti makanan itu halal secara agama; juga dibeli dari uang halal, jenis makanannya juga halal, kemudian kita memakannya juga harus dengan cara halal yakni tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan tidak dicintai oleh Allah dan bisa membahayakan kesehatan manusia.
Tetapi dalam banyak kesempatan kita sering mendengar bahwa makanan itu kaitannya dengan masalah selera, nafsu makan, juga masalah wisata, makanya ada istilah wisata kuliner. Dari istilah-istilah itu menunjukkan bahwa makanan itu masalah suka dan tidak suka, nafsu dan tidak nafsu, adapun pertimbangan baik-buruk makanan adalah pertimbangan nomor dua setelah suka dan tidak suka.
Kita tak heran, kalau kebanyakan penyakit kontemporer, kata dokter disebabkan karena pola makanan. Tetapi menurut saya bukan pola makanan yang harus disalahkan tetapi manusia yang tidak memakai akalnya ketika ia berhadapan dengan makanan, yang diapakai hanya nafsu dan selera. Kalau yang disalahkan pola atau model makanan, maka manusia selalu mencari kambing hitam, atau menyalahkan yang lain, bukan menyalahkan dirinya. Pernyataan yang paling tepat masalah penyakit disebabkan karena nafsu makan manusia yang tidak dikontrol oleh akalnya.
Ciri manusia beradab lainnya adalah ketika ia lebih mementingkan nilai dibandingakan dengan materi. Kalau prinsip time is money (waktu adalah uang) itu prinsip manusia kurang beradab, maka manusia beradab berprinsip time is benefit (waktu adalah laba) laba itu bisa diartikan keuntungan. Kalau waktu kita gunakan untuk ibadah kepada Allah dan bermuamalah kepada sesama manusia maka kita mempunyai keuntungan (benefit) pengabdian dan silaturahmi.
Alasan yang paling penting kenapa manusia harus lebih mementingkan nilai dibandingkan materi, karena materi cenderung hancur, fana, dan relative, sedangkan nilai akan langgeng dan menghiasi manusia selamanya. Kalau anda memilih calon isteri hanya mementingkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuh, tanpa mempertimbangkan kecantikan hatinya, dan elok akhlaknya (inner beauty), maka anda akan berhenti pada memilih cashing tanpa mempertimbangkan signal. Nabi menganjurkan untuk memilih calon istri berdasarkan beberapa criteria, tetapi yang paling dipentingkan adalah agamanya (akhlaknya).
Kepentingan manusia beradab tingkat khasul khas adalah manusia yang tidak mempunyai kepentingan apapun, karena ia telah meleburkan kepentingan dirinya dengan kepentingan-kepentingan Allah. Hidupnya hanya berjalan menurut apa yang dikatakan oleh Allah melalui firman, wahyu, dan ayat-ayat kauniyahnya. Pedoman hidupnya: takhaluqu bi akhlaqillah.
Manusia pada tingkat ini bercirikan selalu membawa kepentingan ummat ketika berhadapan dengan Allah dalam setipa munajatnya, dan ia membawa kepentingan-kepentingan Allah dan Rasulnya ketika berhadapan dengan manusia, sehingga tak tersisa sedikitpun waktu untuk memikirkan kepentingan dirinya.
Kepentingan jenis ini bisa dinamakan sebagai kepentingan wahdatul wujud atau bersatunya kepentingan kawula lan hamba. Dia tidak pernah mau merancang tentang keuntungan-keuntungan, cita-cita pribadinya, tetapi ia hanya ikut dan menghamba sepenuhnya kepada Allah. Pada maqom ini perbutaan manusia selalu dilandasi prinsip asal Allah tidak murka kepadaku, kemudian meningkat kepada prinsip Asal Allah mencintaiku. Maka kejelekanku dihapan makhluk tidak akan membuatku resah, apalagi sedih.
Dalam bahasa al-qur’an maqom ini distilahkan sebagai maqom mukhlashin yakni orang-orang yang ikhlas. Maka tak heran kalau pernyataan al-Qur’an mengatakan bahwa orang yang tak bakalan bisa digoda oleh syetan adalah penghuni maqom kemurnian ini. Sampai jelang ajalnya, Rasulullah hanya mementingkan kepentingan umatnya, dengan menyebut berulang-ulang umati…umati…umati…dihadapan Allah. Tetapi ketika dihadapan umat, pesannya selalu ittaqullah…ittaqullah…
Kepentingan Bangsa
Tidak hanya manusia perseorangan yang mempunyai kepentingan. Setiap makhluk mempunyai kebutuhan dan kepentingannya sendiri-sendiri. Suku, Bangsa, kabilah, dan golongan-golongan juga mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Biasanya kepentingan mereka berkaitan dengan kebutuhan pokok, dan kebutuhan mendesak bangsa itu. Bangsa Arab dulu sebagai penghuni gurun padang pasir panas. Mereka sangat merindukan melimpahnya air, sehingga al-Qur’an dengan bahasa iming-imingnya tentang balasan di sorga: dibawahnya mengalir bengawan, dibawahnya mengalir sungai.
Ibnu Khaldun dalam Muqodimah, menceritakan bahwa sumber air (oase) pernah menjadi rebutan suku-suku Arab pra Islam. Suku yang kuatlah yang bisa menguasai sumber kehidupan manusia itu. Atas corak masyarakat semacam itu, seseorang tidak bisa menolak keniscayaan untuk bergabung sebagai anggota suku tertentu, karena ia tidak akan mendapatkan kesempatan menikmati air untuk kebutuhan diri dan binatang peliharaannya seandainya ia tidak mempunyai identitas sebagai salah satu anggota suku-suku.
Dalam konteks ini, Muhammad adalah karakter manusia yang tidak mau bergabung dalam kelompok sectarian tertentu, tetapi ia berdiri di antara banyak suku. Maka peristiwa pemindahan hajar aswad, setelah Mekah dilanda banjir yang keempat, dan diangkatnya Nabi Muhammad sebagai pemimpin di Madinah pasca hijrah merupakan hasil perjuangan beliau untuk mempertahankan karakter identitas yang merdeka. Pribadi yang merdeka dari kepentingan-kepentingan sectarian.
Nabi merdeka dari kepentingan-kepentingan suku, bangsa, dan kepentingan kelompok tertentu sehingga beliau dipercaya oleh banyak suku sebagai penengah. Tak heran Nabi di Madinah disambut untuk menjadi fasilitator merukunkan segenap suku, bangsa, dan agama. Lahirlah Piagam Madinah sebagai konstitusi pertama yang berisi tentang perjanjian antar suku, bangsa dan agama yang mempunyai visi perdamaian. Dalam pernyataan Robert Bellah dalam Beyond Believe, piagam Madinah merupakan konstitusi pertama yang paling modern sebelum konstitusi-konstitusi lainnya muncul.
Untuk konteks sekarang juga dapat dilihat, bahwa setiap manusia mempunyai kepentingan, lebih luas lagi: setiap suku, bangsa, agama juga mempunyai kepentingan-kepentingannya sendiri. Beragam jenis penjajahan yang sampai sekarang berganti-ganti muka juga merupakan bentuk ekspresi kepentingan-kepentingan. Dulu ketika Inggris mempunyai wilayah penjajahan sangat luas mereka sampai mempunyai dendangan lagu dengan nada bangga yang bersyair: matahari tidak akan terbenam di wilayah Inggris. Karena ketika diwilayah Inggris matahari terbenam, maka di wilayah koloninya mentari baru menampakkan wajahnya.
Dulu waktu kita duduk di bangku SD sering diajarkan dalam sejarah bahwa bangsa Eropa menjajah bangsa Asia itu atas dasar motivasi tiga kepentingan: glory, gospel, golden. Bangsa penjajah mempunyai kepentingan keagungan, dalam arti semakin luas wilayah jajahannya, mereka semakin dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya. Kecenderungan itu juga terlihat dari perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa akhir khulafaurrosyidin dan masa-masa bani Umayyah dan Abasyiah.
Dalam perluasan wilayah koloninya, setiap bangsa juga membawa misi agama untuk disebarkan ke wilayah jajahannya. Islam sebagai agama muncul karena dibawa oleh para pedagang yang mempunyai misi dakwah. Melalui dagang, perkawinan, kepentingan dakwah mulai disebarkan. Dalam konteks ini berarti kepentingan berdagang dijadikan batu pijakan untuk meraih kepentingan yang lebih tinggi yakni berdakwah agama.
Penjajah Belanda ke Indonesia juga menyisipkan misi agama di dalam penjajahannya itu. Diterangkan oleh Kareel Steenbrink dalam Kawan dalam Pertikaian bahwa beberapa perusahaan yang ada di Belanda juga turut membiayai keberangkatan para evangelist dan missionaries dalam rangka menyebarkan ajaran Kristen ke bumi nusantara ini. Dalam sejarah juga dapat kita lihat bahwa asal mula ajaran komunisme juga berasal dari Belanda yang dibawa oleh Sneevlit yang kemudian di Indonesia mendirikan partai komunis pertama yang dinamai ISDV.
Kemudian selain gospel, bangsa-bangsa juga mempunyai kepentingan untuk meraup golden atau harta yang diincar dari wilayah jajahan. Untuk melancarkan misinya tersebut penjajah Belanda sampai menanamkan politik tanam paksa kepada rakyat Indonesia. Rakyatlah yang diperas keringat dan hartanya untuk menanam, kemudian hasilnya diunduh oleh bangsa penjajah.
Kepentingan Berkedok
Ada kepentingan yang sifatnya hipokrisi, munafik belaka. Contoh yang masih lekat dalam ingatan kita adalah tentang ambisi Bush untuk menghabisi kekuasaan Saddam Husein. Sengaja dibuat api sebelum Juragan Bush CS melihat indahnya asap peperangan. Senjata pemusnah masal, serangan WTC 11 September, Teroris dijadikan isu alasan untuk menghabisi kuasa lelaki berkumis tebal itu. Tidak hanya itu: mereka juga menghabisi negeri Afganistan.
Kepentingan yang berkedok keselamatan dunia dan bangsa Amerika dari terorisme dan peperangan malah dilecut dengan peperangan. Ini suatu hal yang sangat bodoh dilakukan oleh penguasa yang katanya Negara super power ituu. Kepentingan-kepentingan pribadi keluarga Bush juga sangat mempengaruhi kebijakan perang yang menggoyahkan perdamaian dunia ini. Terdengar kabar bahwa keluarga besar Sadam Husein dengan bani Bush bermusuhan sampai balung-sumsum tujuh turunan. Dulu semenjak perseteruan Saddam VS Bush Tua, di keset atau tempat pemberhentian langkah sepatu setiap orang yang akan memasuki ruang tamu, bergambar wajah Bush; juga tisu toilet di salah satu Istana peristirahatan Saddam bergambar wajah Bush. Penghinaan-penghinaan tersebut membawa kepentingan dendam, dan kepentingan itu dilancarkan menggunakan alat negara. Sehingga peperangan harus terjadi, dan kemudian yang menjadi kurban adalah manusia yang tak berdosa.
Dendam pribadi kedua keluarga besar itu membuahkan beberapa rekayasa-rekayasa informasi yang seakan program saling memusnahkan adalah jalan satu-satunya untuk kemaslahatan umat manusia sejagat. Nyatanya isu menakutkan tentang senjata pemusnah massal sampai sekarang tidak pernah terbukti. Itu hanya sebatas ambisi dendam keluarga Bush terhadap keluarga Saddam.
Hitler yang dikenal sebagai pemimpin kejam asal Jerman. Juga mempunyai kepentingan pribadi yang berkedok kepentingan Negara. Hitler masa kecil termasuk jenis manusia yang kurang beruntung. Ia sering mendapat serangan fisik dari ayahnya. Salah sedikit, Hitler dihajar. Ibunya sering menangis mendengar rintihan Hitler. Tetapi lama kelamaan kekejaman ayahnya menjadi semacam ritual bagi Hitler. Sehingga tiap hari mendapat cambukan sekitar 38 cambukan hanya dianggap oleh Hitler sebagai sentuhan bahkan usapan saja. Ia tertawa, ketika ayahnya menyabet memakai rotan.
Tetapi ketika dia besar memegang tampuk kekuasaan Jerman waktu itu, Hiter mulai menghabisi bangsa Yahudi. Ia rasis dengan mengunggulkan bangsa Arya dan membenci bangsa Semit. Kebecian Charli Chaplin senior itu ternyata menurut analisis Psikoanalisis hasil ekspresi dendam masa kecil yang dilampiaskan pada masa dewasa. Ayahnya yang sering menghajarnya ternyata orang berdarah Yahudi, berdarah semit, maka ekspresi dendam Hitler dijatuhkan kepada siapa saja manusia, khususnya laki-laki dari bangsa Yahudi, juga semit. (zid/tc/09)
Paesan, 17 Oktober 2009
Ahmad Saifullah
arti kamuflase (13),arti ittaqullah (1),definisi kepentingan abadi (1),kepentingan manusia terhadap agama (1),pemimpin pemindahan hajar aswad (1)





