1:47 am - Kamis,24 Mei 2012

Matinya Generasi Kami

Ahad, 3 Mei 2009 6:51 | Analisis | 1 Comment | Read 157 Times

isNabi pernah bersabda,” Hayatul Umati ala yadayil gulami ” ( Hidupnya Umatku itu di atas kedua tangan pemuda ), Sukarno pernah berucap,” Beri aku sepuluh orang pemuda maka aku akan merubah dunia.” Semua pakar sepakat, bahwa tonggak sebuah perjuangan menuju perubahan adalah generasi muda, apabila generasi mudanya memiliki dedikasi untuk maju maka perubahan yang dicita-citakan akan cepat terlaksana, namun sebaliknya jika para pemudanya cenderung fatalistik, maka kemajuan hanya akan menjadi sebuah mimpi disiang bolong semata.

Seorang pemuda dikenal dengan sikap idealismenya yang tinggi, semangat dan pemikiran yang meledak-ledak, selalu berusaha melawan arus dan menciptakan suatu iklim yang sesuai dengan hasratnya. Ia tidak akan segan untuk mendobrak tradisi, memecah kejumudan dan berseberangan dengan para sesepuh masyarakat. Setiap ide yang mengalir di kepalanya akan ia pertahankan sampai titik darah penghabisan, meskipun ia sadar akan resiko yang akan diterimanya.

Jika ada seorang pemuda yang begitu membeo, tunduk patuh dan rela mengebiri idealismenya dalam rangka sami’na wa atho’na kepada para sesepuh yang nota benenya adalah manusia biasa, maka jangan-jangan mereka sebenarnya adalah seorang yang sudah sangat tua namun terjebak dalam tubuh anak muda.

Menyuarakan pendapat, mengemukakan pikiran adalah hal yang disenangi dalam Islam, tidakkah anda pernah berfikir tentang sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori yng mengisahkan tentang Ibnu Abbas yang waktu itu masih remaja dan beliau hadir ditengah-tengah para sahabat utama termasuk sayyidina Umar Bin Khottob, ketika itu mereka berselisih pendapat tentang tafsiran surat An Nashr.  Setelah mereka semua tak dapat menemukan titik temu, maka sayyidina Umar meminta pendapat kepada Ibnu Abbas tentang tafsiran surat A n Nashr, maka dengan gamblang Ibnu Abbas kecil mengemukakan pendapatnya tanpa canggung, tanpa ewuh pakewuh, namun tetap dalam koridor tata krama islami.

Generasi muda Rifaiyah yang seharusnya menjadi lokomotif pergerakan organisasi ini hendaknya mengeksploitasi segala kemampuannya untuk diterapkan dalam organisasi Rifaiyah ini, tanpa takut terasingkan, tersingkirkan ataupun kualat. Sebab mendorong Rifaiyah ke depan bukan pekerjaan mudah, oleh karenanya generasi muda Rifaiyah tidak cukup hanya menunggu saja, akan tetapi juga harus berpartisipasi aktif dalam menggerakkan gerbong organisasi ini sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Selalu mobile dalam segala aktifitas kemudian mendedikasikan semuanya itu untuk kemajuan organisasi adalah semangat dan cita-cita yang harus selalu kita dengungkan di hati kita, para pemuda Rifaiyah.

By Aditya Mahendra

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Manusia yang berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, lahir di Demak, nyantri di Pati, kuliah di Jakarta, rumah di Bekasi...........

Tagged with: ,

matinya umar (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner