“Khidlir sudah hengkang dari Bumi Pekalongan, maka penduduk desa ini, warga kota batik tercinta ini sesunggungnya sudah tak mempunyai masa depan lagi. Masa depan kita semua adalah masa depan Kaum Saba.” Seru Penceramah di corong Masjid salah satu desa di Pekalongan. Pendengar tak bisa memahami apa yang baru saja diucapkan. Sorot mata mereka menunjukkan rasa penasaran terhadap pernyataan Pengisi Kultum, juga sebagian audien terkantuk-kantuk di beberapa sudut Masjid. Dai semakin lantang saja menyuarakan isi hatinya. Dari nada suaranya yang tinggi, intonasinya yang menggebu-gebu, beliau agaknya kecewa dengan apa yang selama ini dia lihat yang terjadi di lingkungannya.
Kalam hanya membisu. Ia menyimak dengan pasti jalan pikiran dan ungkapan sang Dai itu. Dalam hatinya berbisik, “kata-katanya bersayap, seperti baris-baris puisinya Kahlil Gibran.” Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Masjid. Tetapi sebagian teman-temannya terlena dalam kantuk.
“Uhhhh….ini itu penceramah yang nonton audien, atau pendengar yang menyimak kata-kata Penceramah,” hatinya gusar menggerutu keadaan yang diam menghanyutkan. Kalam juga tak enak hati, kalau warga tak bisa menikmati komunikasi yang dijalin Dai melalui lontaran kata-katanya.
“Mungkin mereka tidak paham….trus mereka seakan tak mau memperhatikan…tapi tak juga, memang warga desa sebagaimana warga desa, yang menganggap pengajian sebagai acara ritual yang menghasilkan ganjaran. Bagi warga desa ilmu pengetahuan agama yang disampaikan dalam tausiyah bukanlah factor, tetapi kehadiran dalam majlis ta’lim yang menjadi factor penting dalam timbangan di Mizan besok,” hatinya terus berbisik gelisah. Kalam juga tak enak pada sang dai yang datangnya dari Pekalongan Kota, tetapi sampai di Masjid disini seakan dicuekin warga.
Sambil sesekali membenahi posisi duduk, Kalam terus saja menatap Sang Dai. Duduknya tepat di bawah podium tempat Penceramah melontarkan kata-kata. Ia jadi berfikir dan mencerna kata-kata yang disampaikan penceramah dari tadi. Ia tertunduk dan menyimak lagi ungkapan-ungkapan yang harus diperjelas, agar tak merisaukan hatinya. Otaknya terus berputar memahami kata demi kata. Pengalaman bacaannya tehadap buku memberi gambaran tentang Khidlir, Kaum Saba, dan Penduduk Pekalongan.
“Ada apa dengan ketiganya ya…, Khidlir, Kaum Saba, dan Penduduk Pekalongan.” Ia mengulang-ulang tiga kata kunci tadi. Kalam jadi berdialog dengan dirinya sendiri; terus membuka memori-memori pengetahuan tentang ketiga hal itu. Tangannya mulai diangkat menutupi mulut, sambil matanya tajam menatap Dai. Yang ditatap terus saja melontarkan kata-kata ambigu, multi makna, dan butuh pengetahuan yang berjangka panjang. Tetapi hatinya mengembara diantara tiga kata kunci yang merisaukan dirinya. Sampai muncul rasa penasaran yang begitu mendalam.
“Biar nanti aku tanyakan kata-katanya yang kurang jelas, agar tak jadi ganjalan dalam hati. Aku yakin Ustadz itu tak sembarangan memvonis penduduk Pekalongan tak mempunyai masa depan lagi. Apalagi menyamakan dengan Kaum Saba….itu berlebihan….” dalam hati Kalam mulai bergemuruh dan sedikit menggrutu; dia mulai menyusun kata-kata untuk segera ditanyakan di sesi terakhir.
Sebelum pernyataannya dipahami benar oleh pendengarnya, Dai itu malah berseru lagi, “Kita semua lebih bodoh dari orang Arab Jahiliyah.” Kalam jadi kaget dengan pernyataan yang semakin lama semakin memanas. Ia langsung interupsi, “Maaf Pak. Kata-katanya menyudutkan. Aku sebagai warga Pekalongan asli merasa tersinggung.” Tangannya mengacung. Wajahnya merah, tanda ia agak mangkel dengan kata-kata yang bersayap dan menohok perasaan.
“Saya menyimak tiap kata yang Bapak sampaikan. Yang menurut saya pribadi pembicaraan menarik, karena tentang masa depan kita semua. tetapi aku melihat banyak di antara pendengar yang tak bisa menangkap maksud pembicaraan Bapak.” Pendengar mulai sadar dari kantuknya. Dengan suara interupsiku tadi membuat mereka mulai memasang telinga dan mata tentang kejadian di Pengajian pagi ini.
Langit temaram remang masih saja tampak. Pertanda jarum jam belum menunjuk ke angka enam pagi. Kondisi hadirin, sembilan puluh persen sadar. Inilah saat yang dinantikan, Kalam memberi tawaran. “apa kita buka sesi pertanyaan saja?” sebagian warga yang hadir kurang setuju. Dengan suara lirih terdengar lontaran kata, “Masak kuliah subuh ada dialognya. Yang tertib seperti biasanya aja.” Sebagian warga desa menyetujui kebanyakan orang untuk tidak membuka dialog, karena memang biasanya tak pernah ada dialog untuk sesi acara kuliah subuh.
Terpaksa Kalam harus menyimpan deretan kalimat pertanyaan yang sudah disiapkan dari tadi. Dan ia mangkel campur malu, karena tawarannya tak diindahkan oleh penduduk kampung. Ia hanya membela diri dengan sebersit kutipan, “fainnahum la ya’lamuuna.” Sesungguhnya mereka semua itu tidak tahu, terhadap apa yang dari tadi disampaikan penceramah, tetapi ketika Kalam memberikan jalan bermaksud membuka dialog, malah kebanyakan mereka tak mau untuk berkomunikasi.
Warga penduduk saling pandang, tak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Penceramahpun hanya berdiri membisu, seiring munculnya ide dialog dari Kalam yang tak disetujui warganya. “gimana? Bisa dilanjutkan?” penceramah melanjutkan dan beliau terus berkata tentang banyak hal tentang Pekalongan.
“Pekalongan masa depan, buminya akan mengalami kerusakan yang parah. Kita semua tahu, ratusan pabrik loundy celana berbahan bakar kayu. Berapa pohon sehari yang harus di tebang. Dan berapa kubik air hujan yang tidak menjadi air tanah karena pohon yang menyimpan air dan mengalirkan air ke dalam tanah di tebangi.” Dai terus saja bersemangat berkoar melontarkan kata dan kalimat, tapi warga semakin terbengong, komunikasinya terputus oleh rasa kantuk yang menyita sampai hampir setengah jam lalu.
Kalam yang dari tadi menahan gejolak perasaan setengah marah, campur bingung langsung mengacungkan tangan, sambil keras-keras bersuara, “Mohon maaf Pak Kyai, mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya ingin bertanya gimana….kalian semua paham tidak dengan isi ceramah yang barusan sampeyan dengar?” tiba-tiba suara senyap menyelimuti Masjid al-Karomah, sampai-sampai derik jangkrik kedengaran oleh telinga Ibu-ibu yang tertutup kain mukena. Ada suara lirih mendadak menyembul diantara barisan shaf duduk jamaah Ibu-ibu.
“kulo dereng paham, saestu kulo dereng mudeng“
(saya belum paham, sunggung saya belum mengerti)
Suaranya berat, agak diseret. Kedengarannya ia berasal dari pita suara wanita berumur enam puluhan. Disusul suara ibu-ibu yang lain yang bagaikan suara kur bersuara “kulo nggih dereng paham” (saya juga belum paham). Cakrawala mulai menampakkan bias sinar matahari, burung-burung di langit mulai kelihatan berkelompok menuju ke arah barat, pertanda bahwa pengajian segera ditutup. Dai yang dari tadi mendengarkan segera bersuara “ya…yen ngeten, dibuka sesi Tanya jawab mawon nggih,” (ya…kalau begitu di buka sesi dialog saja ya).
Kalam yang dari tadi kepalanya tertunduk, mulai mengangkat kepala dengan rasa optimis, ia mulai sumringah untuk segera bertanya. “saya Pak Ustadz yang dari tadi ingin bertanya…di awal ceramah tadi Pak Ustadz ngomong katanya Pekalongan tidak mempunyai masa depan, karena Khidlir sudah pergi dari bumi Pekalongan, dan yang paling membuat perasaan ini tidak terima, katanya penduduk Pekalongan lebih bodoh dari para jahiliyah waktu Nabi, padahal kita semua tahu bahwa kita menyembah Allah SWT, sedangkan mereka menyembah Latta, Uzza, dan Manat….Maksudnya apa Ustadz tolong diterangkan?” Kalam yang dari tadi memasang telinga, sekarang lebih menajamkan pendengarannya. Ia benar-benar penasaran atas apa yang dari tadi disampaikan Ustadz.
“begini Mas…” suaranya datar berwibawa karena nadanya agak ngebas. Beliau membetulkan pecis dan letak sorban seraya berujar,
“kita semua tahu bahwa membuang limbah ke sungai adalah bentuk perbuatan merusak bumi, yang dilarang oleh hukum Negara dan agama, tapi masyarakat tidak sadar, atau sudah sadar, tetapi masih saja melanggar, padahal betapa tingkat kemaksiatan yang hukumannya paling menyakitkan adalah dia yang berani merusak bumi.”
“Maksud Ustadz, mereka yang membuang limbah ke sungai, termasuk mereka yang merusak bumi?”
“Iya…saya mengikuti pendapat Imam Qurtubi dalam Tafsir Jamiul Ahkam, beliau berpendapat bahwa yang dikatakan termasuk sebagai perilaku merusak bumi adalah mereka yang menebangi pohon berbuah dengan membabibuta, tanpa tebang pilih, juga mereka yang berani mengotori sumber mata air. Pendapat Qurtubi juga diperkuat firman Allah dalam surat al-Baqarah, ayat 205: “dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”
Dai yang belum begitu tua ini terlihat terbuka, dan sikapnya mempersilahkan siapa saja yang masih mempunyai ganjalan tentang isi pengajian agar segera menanyakannya.
“Trus kaitannya dengan Nabi Khidlir bagaimana Ustadz,” suara lantang terdengar dari deretan shaf paling belakang, kelihatannya suara Ali yang baru saja nyelonong bertanya.
“Nabinya orang Indonesia itu kan Nabi Khidlir, karena persemayaman beliau, dilihat dari kisah pertemuannya dengan Nabi Musa adalah di laut, sedangkan Negara kepulauan yang paling kesohor hanyalah Indonesia, jadi Khidlir lebih kerasan di kepulauan Indonesia, tetapi karena kita semua tak menghormati air, mengotori laut, maka laut tempat persemayamannya menjadi tidak nyaman lagi, maka sudah sepantasnya bumi Pekalongan ditinggalkan, karena lautnya kurang nyaman lagi.” Karena tak ada tanggapan dan pertanyaan lagi Ustadz terus saja menerangkan:
“Boleh anda bertanya siapa yang dimaksud sebagai perusak bumi. Dalam al-Qur’an sangat jelas bahwa manusialah yang ditunjuk sebagai dalang perusak bumi, baik melalui pengetahuan malaikat, maupun melalui firman Allah SWT langsung.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” . Ar-Ruum ayat: 41
Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa yang kemungkinan dirusak manusia adalah dua zona, lautan dan daratan. Lautan tentunya terdiri dari beberapa macam makhluk. Yang paling dominant di laut adalah air, ikan, flangton, dan jutaan makhluk lainnya. Daratan terdiri dari tanah, air, udara, oksigen, dan beberapa komposisi lainnya.
Semua sudah tahu bahwa membuang limbah ke sungai yang sampai kelaut merupakan bentuk perusakan yang menyeluruh, yakni melalui daratan dan sampai ke lautan. Tapi terus saja ikhtiar merusak bumi selalu dipilih oleh manusia. Contoh yang setiap hari membuat hati kita merintih adalah beberapa sungai di kota Pekalongan yang berwarna pekat. Aliran airnya sudah terpolusi oleh limbah.”
“Tapi anehnya di Pekalongan, Pemerintahnya tidak mampu bertindak tegas dalam menjalankan tugas melindungi lingkungannya dan masyarakat terkesan cuek dengan kerusakan lingkungan yang sudah terlalu parah ini. Semuanya hal itu membuat frustasi bagi orang-orang yang mengetahuinya.”
“Sehingga sampai bingungnya, kadang Bapak wali kota Pekalongan hanya bisa berbangga apabila sungainya berwarna, karena dengan berwarnanya air berarti banyak masyarakatnya yang tidak nganggur. Alias pekerjaan jalan terus.”
Kalam yang dari tadi menyimak, dan menahan diri untuk tidak bertanya lagi karena ingin memberikan kesempatan kepada teman-teman yang lainnya untuk bertanya, terpaksa harus mengeluarkan beberapa jurus pertanyaan, karena teman-temannya tidak ada yang tanya lagi.
“Terus kaitannya dengan nasib kita ibarat nasib kaum Saba itu apa Ustadz?”
“Dulu kaum Saba diberikan kenikmatan oleh Allah berupa lahan subur yang tanahnya apabila ditanami bibit tumbuhan apapun akan tumbuh subur, sehingga mereka semua hidup dengan kenikmatan-kenikmatan. Ternyata kesuburan tanah dan berbagai kenikmatan yang diberikan Allah membuat mereka lupa dan mengkufuri nikmatnya, maka janji Allah pun diselenggarakan, yakni: Siapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka akan ditambah kenikmatan itu, dan barangsiapa saja yang mengkufuri nikmat Allah, maka sesungguhnya adzab Allah sangat pedih.”
“Kaum Saba mendapatkan Azab yang sangat pedih berupa tanah yang menjadi kering kerontang, hanya bisa ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan berduri. Pekalongan akan bernasib sama, kalau seandainya sungai terus saja dialiri limbah industri, juga ratusan pabrik laundry memakai bahan bakar kayu untuk menjalankan mesinnya.”
“Saya sudah melihat bahwa di daerah Peninggaran, Longkeyan, Kesesi, dan wilayah-wilayah Pekalongan selatan mulai jarang pepohonan, dan di beberapa lokasi bertumpuk kayu hasil tebangan warga yang rencananya akan dijual ke bos pabrik laundri celana. Maka tak mustahil beberapa tahun lagi Pekalongan bisa menjadi wilayah langganan banjir dan longsor layaknya wialayah-wilayah lain di Indonesia, karena sudah tiada lagi pepohonan yang berfungsi sebagai wahana penyimpan, dan penyalur air hujan menjadi air tanah. Kita semua tak mustahil menjadi bagian dari rel sejarah kaum Saba.”
“Adapun hukuman yang pantas bagi perusak bumi sebagaimana diutarakan dalam al-Quran dalam surat al-Maidah ayat 33: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
Dengan nada semakin lantang, dan agak emosi Ustadz terus saja menyemprotkan kata-kata, Misalnya limbah industri itu meresap menjadi air tanah dan meracuni sumur warga, sehingga sekarang banyak orang terkena kangker yang diduga oleh dokter disebabkan karena limbah industri, mereka juga banyak yang meninggal karenanya, maka para pembuang limbah itu termasuk dalam kategori membunuh yang tidak langsung, dan para perusak bumi ditegaskan mendapat hukuman untuk dibunuh sebagaimana yang diutarakan Surat al-Maidah ayat 32:
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu. sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”
“Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang memelihara kehidupan manusia dan lingkungannya, sehingga kehidupan kita tidak sekedar kehidupan tetapi kehidupan yang menghidupi dan menghidupkan”
Terpaksa Ustadz segera menghentikan dialog, karena sinar fajar pagi kekuningan telah membias di pelataran masjid.
“Mohon maaf apabila ada kekhilafan dan kekuarangan,
wassalamu’alaukum warahmatullahi wabarakaatuh.”
Paesan, 29 September 2009
Ahmad Saifullah





