Oleh : Muhammad Abidun Zuhri
Bismillahirrahmanirrahim.
Tanbihun.com – Sebagai santri Syaikh Ahmad Rifai sepatutnya kita mengkaji pikiran-pikiran beliau yang beliau tuangkan dalam kitab-kitabnya, karena dari situlah kita dapat mengetahui pikiran-pikiran beliau secara meyakinkan. Hal ini berbeda dengan cara mengetahui pikiran-pikiran beliau melalui riwayat-riwayat yang tidak tertuang di dalam kitab beliau, karena masalah periwayatan itu harus melalui bermacam-macam syarat, di antaranya perawi harus adil, muttashil, dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat. Apabila terjadi pertentangan antara riwayat dengan apa yang ada di dalam kitab Syaikh Ahmad Rifai, maka yang didahulukan adalah apa yang ada di dalam kitab beliau, karena apa yang ada di dalam kitab itu lebih meyakinkan daripada riwayat tersebut.
Di antara pikiran beliau adalah apa yang pada masa sekarang sedang ramai dibicarakan orang, yaitu masalah sunnah dan bid’ah yang rujukannya adalah salaf-shaleh. Dalam hal ini beliau telah menegaskan dalam kitab Abyanal Hawaij sebagai berikut.
فَتَابِعِ الصَّالِحَ مِمَّنْ سَلَفَا وَجَانِبِ الْبِدْعَةَ مِمَّنْ خَلَفَا
“Ikutilah salafush-shaleh dan jauhlah bid’ah dari orang-orang khalaf (belakangan)”. Abyanal-Hawaij, juz ke-4, korasan 56.
Artinya, Syaikh Ahmad Rifai mengajurkan kepada murid-muridnya untuk mengikuti praktik beragama yang telah dilakukan oleh salafush-shaleh, yaitu para pendahulu umat Islam karena salaf artinya yang dahulu atau yang lebih awal.
Selian itu beliau juga memerintahkan kepada santri-santrinya untuk menjauhi bid’ah dari orang-orang khalaf. Bid’ah adalah cara beragama yang baru yang mirip dengan apa yang diperintahkan syara’ (walaupun sebenarnya sangat berlawanan) untuk tujuan berlebih-lebihan di dalam penyembahan kepada Allah. Karena bid’ah itu perkara yang baru, maka ia muncul bukan dari orang-orang salafush-shaleh, tetapi muncul dari orang-orang khalaf, yaitu orang-orang yang datang setelah salaf, karena makna khalaf menurut bahasa itu pengganti atau yang baru.
Perlu dijelaskan di sini bahwa tambahan kata ‘shaleh’ setelah salaf mempunyai arti yang sangat penting karena tidak semua orang salaf perlu diikuti. Shaleh artinya yang baik dan sesuai dengan syara’. Demikianlah Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsir Ibnu Katsir.
Oleh karena itu, salafush-shaleh artinya para pendahulu yang baik dan sesuai dengan syara’. Dengan demikian, tidak semua orang salaf itu harus kita ikuti, karena ada orang salaf yang tidak shaleh alias dia orang yang buruk dan tidak sesuai dengan syara’. Sebagai contoh adalah kaum Khawarij. Mereka adalah ahlu bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam. Mereka muncul sejak zaman dahulu, yaitu sejak zaman para sahabat. Walaupun mereka adalah golongan orang salaf, kita tidak boleh mengikuti mereka karena mereka bukan salafush-shaleh, akan tetapi salaf-ghairu shaleh alias salaf yang telah keluar dari garis syara’.
Siapakah Orang Salaf ?
Banyak orang mengaku mengikuti salafush-shaleh, namun belum tentu pengakuan mereka itu benar. Seperti dikatakan dalam pepatah Arab, “Semua mengaku kekasih Laila, namun Laila nan jauh dari mereka.” Banyak orang mengaku mengikuti salafush-shaleh dan mengaku golongan Ahli Sunnah, namun salafus-shaleh dan golongan ahli Sunnah jauh dari pengakuan mereka semua.
Yang menarik di sini, Syaikh Ahmad Rifai telah memberikan keterangan siapakah yang disebut dengan orang salaf itu? Beliau mengatakan di bawah ini.
Wajib wong bodo iku arep anut
Ing alim shaleh adil kang wus nurut
Ing alim shaleh kangdihin ditut
Yaiku alim shaleh zaman shahabat patut.
Artinya:
Orang bodoh wajib mengikuti
Orang alim yang shalih dan adil yang telah mengikuti
Orang alim yang shaleh yang lebih dahulu (salafush-shaleh)
Yaitu orang alim yang shaleh pada zaman sahabat. Abyanal Hawaij, juz 4, korasan 56
Kata-kata syaikh Ahmad Rifai tadi bukanlah kata-kata yang kosong dan tanpa dasar. Sungguh, itu adalah kata-kata mutiara yang patut dihafal oleh setiap orang yang mengaku sebagai santri beliau. Banyak hadits dan atsar yang mendukung apa yang disampaikan beliau. Di antaranya adalah sabda Rasulullah saw,
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
“Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taat (kepada sang khalifah) walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Habasyi, karena sesungguhnya orang yang masih sempat hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi geraham (peganglah kuat-kuat), dan jauhilah perkara-perkara baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan,
اِتَّبِعُوْا آثَارَنَا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ.
“Ikutilah jejak-jejak kami dan janganlah berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi”. Imam Syathibi, Al-I’tisham, 1/107
Imam al-Auza’i mengatakan,
عَلَيْكَ بِآثارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ.
“Hendaklah kamu mengikuti jejak-jejak orang salaf, walaupun orang-orang menolakmu!” Imam Khathib al-Baghdadhi, Syaraf Ashahabi Ahlil Hadits, hlm. 7/Sundoluhur, 20 Mei 2010/tanbihun online.
Walhamdu lillahi rabbil-‘alimin.
contoh ittiba (14),alfadhlu lil mubtadi\ (1),semua orang mengaku kekasih laila (1)






Assalamu’alaikum…
Tulisan yang bagus…
Sekarang yang mengurus Tanbihun.com siapa ya?
Mas Bidun bisa menulis juga nih….
dulu bukannya cuman Kyai Rifa’i atau Ustadz Rif’ai (silahkan pilih, cara tua/cara muda). hehehe…
Semoga Allaah memberikan Kita Hidayah menjadi Sholeh dan yang lebih penting semoga Allaah memberikan kita Istiqomah selalu. Amin….
Istiqomah… adalah harapan semua orang beriman.
wa’alaikumussalam
yang ngurus tanbihun masih sama seperti awal, alhamdulillah.
kalau penulisnya alhamdulillah kami tidak membatasi,ustadz abidun dari dulu emang sudah nulis,cuman kesininya “cuti”. mungkin krn kesibukannya,tp sepertinya sekarang sudah mulai atif lagi. semoga tulisan2nya bermanfaat untuk pencerahan umat.
mas rif’an …. kami jg menunggu urun artikel dari anda.
semoga istiqomah
wassalam.
Assalamualaikum Kang Rif’an mu’azin. Saya termasuk yang dulu suka mengunjungi web site anda. Anda adalah yang mengawali. saya tidak tahu kenapa kesininya berhenti.
“Alfadhlu lil mubtadi – walau ahsanal muqtadi”. Keutamaan adalah bagi sang perintis – walau yang mengikuti hasilnya menjadi lebih baik”. Saya harap anda berkenan menulis disini. menulis apa saja yang baik- baik.monggo.
Assalamualaikum.. mau ikut rembag, emang giringan KH. Ahmad Rifai itu juga berpendapat seperti ulama hadis (yang cenderung merujuk kebenaran dengan periwayatan yang sahih)atau masih netral seperti Imam Ghozali dan ahli sufi lainnya??? Suwun
@fuqaha
sejauh saya baca dari kitab-kitab Syaikh Ahmad Rifai beliau menegaskan kewajiban menggunakan syara’ dalam menentukan kebenaran. dan syara’ itu berdasarkan dalil al-qur`an, hadits, ijma’ dan qiyas. seringkali beliau mengkritik kebenaran diukur dengan adat atau tradisi atau tidak mau menerima syara’ gara-gara tradisi yang sudah turun temurun berlainan dengan syara’.
yang sampean maksud netral gimana? mohon penjelasannya..