Menurut Bawa Muhaiyadden, seorang guru di sekolah adalah seorang yang harus dapat mendidik anak-anak dengan kasih sayang, cinta, kesabaran, penerimaan, damai, persatuan, dan kualitas-kualitas yang baik, ia harus membesarkan mereka dengan penuh cinta, dan membiarkan sifat alaminya yang baik untuk tumbuh.
Namun, akhir-akhir ini di negeri ini banyak tersiar kabar pada berbagai media, baik di TV, radio, maupun surat kabar, bahwa ada kasus tentang kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya. Misalnya, kasus yang terjadi di Kota A di mana guru melakukan pemerkosaan terhadap lima siswinya, di Kota B terjadi penganiayaan oleh guru olahraga terhadap siswanya yang terlambat masuk, sementara di kota C guru menendang siswanya hingga jatuh pingsan hanya gara-gara belum melunasi LKS yang dibelinya ???
Di Indonesia, banyak perilaku guru yang dapat membunuh karakter anak, yaitu dengan membuat anak merasa rendah diri. Seorang guru yang tidak pernah memberikan pujian atau kata-kata positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif, akan membuat muridnya menjadi tak percaya diri alias minder. Bayangkan jika anak diajarkan oleh guru yang galak, yang merupakan ciri umum guru-guru di Indonesia (dalam hal ini tidak menjastis bahwa semuanya galak). Mereka jarang sekali memberikan pujian kepada anak, tetapi lebih sering mengkritik dan memarahi anak. Salah satu penyebab yang menjadikan anak merasa minder, adalah ketika pada saat di kelas dia tidak bisa menjawab pertanyaan atau ketika diminta maju ke depan papan tulis untuk menyelesaikan pekerjaan (soal) yang diberikan gurunya. Banyak guru yang bersikap negatif ketika mendapatkan muridnya tidak bisa menjawab, misalnya : “Kamu salah, kamu tidak pernah belajar ya di rumah !!! pasti main terus pekerjaannya !!!, “Liat anak-anak, betul tidak jawaban si Anu ?” Sungguh menyedihkan. Seharusnya reaksi guru adalah, “jawabannya belum lengkap, mungkin ada yang bisa menambahkan?” atau “Caranya sudah benar, coba kamu ulangi, mungkin ada yang lupa memasukkan angka?”.
Sering terjadi guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya (dires = dengan disuruh mengangkat salah satu kakinya di depan kelas atau bahkan suruh menghormat pada tiang bendera pada siang hari). Kita semua pasti pernah melihat atau mempunyai pengalaman tentang perilaku yang dilakukan guru kita. Sekali anak dipermalukan, ia akan merasa takut ketika harus menjawab pertanyaan gurunya, sehingga ia tidak percaya diri untuk bisa mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Hal inilah mungkin yang menyebabkan mengapa manusia Indonesia sering malu untuk berpendapat di muka umum, dan menjadi bangsa yang tidak PD???
Yang parahnya lagi adalah penerapan sistem rangking, sehingga sejak kecil anak sudah divonis dengan diberikan rangking (misal = 1 s.d. 30), atau tidak masuk rangking. Maka secara tidak langsung anak yang tidak mendapatkan rangking “divonis” bodoh. Mungkin inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa kualitas SDM Indonesia menjadi no. 4 terburuk di dunia. Seharusnya hasil kerja siswa cukup diberikan “nilai” dengan gambar stiker (bunga, mobil, atau kelinci) atau dengan menuliskan ; good, good effort. Satu hal lagi, tidak mencoret (apalagi memberikan nilai 0/ NOL) pekerjaan siswanya yang salah, tapi cukup dengan memberikan saran jawaban yang benar di sampingnya.
Sikap guru yang demikian memang bukan salah guru saja, namun kesalah sistem pendidikan pendidikan di Indonesia yang pada intinya hanya mengejar keberhasilan akademik: jadwal ajar, UTS dan UAS. So…jangan sampe pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” semakin membooming di negeri ini.
____________________________________________________________________________
Daftar Referensi
Megawangi, Ratna. 2007. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.
Kampus Tani, 4 Desember 2009
Ahkam Paesan





