Tanbihun – Disuatu sore disebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an – Madrasah Diniyyah, sambil menunggu jam pulang anak perempan saya, saya mengamati anak-anak juga guru-guru madrasah, pedagang jajanan pun tak luput dari pengamatan saya.
Saya coba menyapa beberapa anak yang usianya mungkin baru 5 sampai 7 tahun, saya menayakan beberapa pertanyaan yang dulu waktu saya aktif di madrasah menjadi sapaan harianku kepada semua anak-anak didik saya,
“lee…..nok….. hari ini dapat uang saku berapa?
dengan bermacam mimik wajah mereka serempak menjawab seakan berlomba ingin yang pertama menjawab
” seribu pak ! saya dua ribu ” demikian teriak mereka dengan bangga
” uang segitu banyak apa dihabiskan semua sore ini ?” pertanyaan kedua saya lontarkan sambil mengamati wajah-wajah polos mereka
” ya…..habis lah pak,malah kurang ” salah seorang anak yang memang terkenal bandel
” kalau saya, cuma lima ratus saja yang buat jajan,yang lima ratus lagi saya tabung pak ! ” saya mencari-cari suara siapa itu,ternyata seorang gadis kecil
Saya terharu menyaksikan keluguan dan keceriaan mereka. anak-anak membutuhkan belian lembut dari guru meski berupa sapaan-sapaan yang ringan-ringan saja, seperti ” tadi pagi di sekolah pelajarannya apa? ada masalah tidak dengan guru atau teman-temanmu? “ atau juga ” wah pakaiannya rapi banget, sudah makan belum tadi? . meski ini terlihat sederhana,namun dapat ditangkap oleh anak-anak sebagai suatu hal yang positif,mereka akan merasa diakui keberadaannya, diperhatikan jiwanya. saya sering melakukan ini,hampir setiap hari, justru diluar jam-jam kelas saya lebih asik memahami karakter dan keinginan anak-anak, mereka pun terlihat lebih bebas mengutarakan pendapatnya.
Tapi, kini semua itu telah sirna, guru-guru sekarang lebih mirip seperti pedagang jajanan, mereka menawarkan ilmu,memberikan penjelasan, habis jam kelas ya langsung pamit pergi.tak ada interaksi lain,mereka terjebak pada pakem kelas atau sekolah. mungkin yang membedakan hanya pada bayaran saja, guru-guru ikhlash berjuang tanpa minta imbalan.
Saya jadi teringat seorang guru ( kyai ) yang pernah memberikan nasihat terbaiknya kepada saya ” anakku ………………salah satu kelebihan dunia pesantren dibandingkan sekolah umum,dipesantren ilmu diajarkan dengan sepenuh jiwa dan hati,maka ia akan masuk kedalam jiwa dan hati pula,akhirnya itu akan menjadi ruh dari jiwa santri,meski pun pada tataran kehidupan selanjutnya si santri bisa saja tergelincir ke dlm lubang salah,ia akan dipanggil oleh ruh jiwa sucinya, berkah ilmunya akan menuntunnya kembali,tinggallah ia ,apakah akan mengikuti panggilan itu atau membiarkannya saja berlalu.
Ruh dan jiwa ilmu itu ada pada saat penyampaiannya, ada ketika proses ” transfer” ilmu dari guru kepada murid-muridnya, makanya dipesantren untuk mengaji sebuah kitab yg relatif kecil, semisal matan taqrib dibutuhkan waktu yang tidak singkat, mungkin akan lebih singkat jika murid dikasih buku tarjamahannya saja,tapi itulah proses pembentukan karakter.






tanpa ke ikhlasan dan penghayatan dalam penyampaian ilmu, ibarat melempar pasir ke rumpun bambu,rame tapi tak meninggalkan bekas apa-apa.
itulah yg terjadi disebagian madrasah/pesantren,mereka sukses menjadi santri yg hafal ribuan nadhoman,fasih membaca al-qur’an.pandai ceramah,tapi kosong,tanpa ruh…..tak heran jika akhirnya bermunculan santri/ustadz yang hanya alim lahiriyyahnya,tapi jahil bathinnya.hatinya tidak peka lagi dalam membaca kebutuhan ummat dan tantangan jaman.
mereka dihormati hanya sebatas lahirnya ( didepannya saja ) tapi dalam hati ummat merasa tak menemukan yg mereka butuhkan,dan ujung2nya ghibah dibelakang.
dosa dan dosa akan semakin mengakar kuat…… na’udzu billahi min dzalika.
apa sekararang masih ada?
Insya Allah masih ada, karna ruh itu masih menyala, dan menerangi…. disana ada keberkahan, yg saat ini susah sekali ditemukan pada sistim pendidikan yg katanya modern.
saya pernah datang ke sebuah padepokan kecil, dipinggir kali. seorang sepuh yag menurut pengakuanya, gak bisa ngaji… dia kumpulkan anak2 gak mampu, untuk hidup bersama di padepokanya, semua berjumlah 70-80 anak. disana dia ajarkan ngaji dasar. semua anak disana gratis tak dipungut apa2. pak tua itu juga tidak bekerja, bahkan pak tua itu gak bisa bahasa Indonesia. dia gak pernah susun proposal untuk meminta bantuan, demi minta belas kasihan. dengan keihklasanya ternyata dia bisa menghidupi dan mendidik anak2 itu. kami kadang orang2 kota datang kesana untuk belajar keihlasan pak tua itu….. kami datang berombongan membawakan kebutuhan mereka. mungkin itu terwujud karna niat yg suci di serta tingkat keihklasan dan kepasrahan yang tinggi… dengan nalar kadang susah untuk dipahami… dan itu masih di temukan…
@maman,
Alhamdulillah,berbahagialah org yg masih bisa menemukan sirojul ummah….rengkuhlah untaian hikamh darinya.
setuju atas tindakan yang di lakukan KANG YASSID terhadap santrinya,teruskan perjuangan anda ,smoga ilmu yang engkau ajarkan bermanfaat dunia akhirat