Muhammad Darwisy (Nama Kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan) dilahirkan dari kedua orang tuanya, yaitu KH. Abu Bakar (seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu kesultanan juga). Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits.
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !
Tagged with: ahmad dahlan,
biografi kh ahmad dahlan,
riwayat hidup K H Ahmad dahlan,
riwayat hidup kh ahmad dahlan,
riwayat kh ahmad dahlan,
sejarah ahmad dahlan,
sejarah KH ahmad dahlan biografi kh ahmad dahlan (136),riwayat hidup kh ahmad dahlan (135),sejarah ahmad dahlan (133),biografi ahmad dahlan (109),sejarah kh ahmad dahlan (78),riwayat hidup Ahmad Dahlan (70),biografi k h ahmad dahlan (67),profil kh ahmad dahlan (62),riwayat kh ahmad dahlan (59)
Rancangan Pelaksanaan
MUDZAKARAH ULAMA SERUMPUN MELAYU TAHUN 2010
Muqoddimah
Latar Belakang
Dengan mentelaah petunjuk Allah SWT di dalam al Qur-an akan memberikan satu pemahaman yang syarikh atau tegas bagi kita, bahwa hanya dengan menegakkan Hukum Allah saja kehidupan di alam semesta ini akan berjalan sesuai dengan fitrahnya. Melahirkan kesejahteraan, kedamaian dan kemakmuran yang tiada bandingnya. Memberikan satu jaminan keberkatan yang tentu sangat berguna bagi kepentingan kehidupan ummat manusia. Hal ini yang menjadi keharusan untuk dipahami oleh hamba-hambaNya yang merindukan tegaknya Kebenaran yaitu Syari’at Allah di atas muka bumi ini.
Di dalam al Qur-an, Allah SWT telah memberikan petunjuk yang jelas bahwa sesungguhnya perjalanan menegakkan Syari’at Allah telah dirintis oleh para Rasul pilihan sejak perutusan Nuh a.s. hingga Muhammad saw sebagai penutup para Rasul dan Nabi sebagaimana dijelaskan di dalam al Qur-an surah asy Syuro ayat 13. Keseluruhan tersebut merupakan panduan yang berkesinambungan. Penyempurnaan terletak pada Rasul terakhir, Muhammad saw melalui penurunan al Qur-an surah at Taubah ayat 33 yang menjelaskan bahwa diakhir zaman pasti ditegakkan Daulah Islam secara mendunia atas Kekuasaan Allah SWT secara mutlaq yang akan diawali dengan janjiNya yaitu “turunya Al Mahdi” ( Hadits Shohih). Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad saw telah mengajarkan dan dilanjutkan melalui peran Khulafa Ar Rasyidin sebagai Khalifah Kenabian dengan masa perjalanan 30 tahun. Inilah panduan mutlaq bagi menjemput datangnya Daulah Islam Dunia yang dijanjikan Allah.
Dengan gambaran di atas, secara spesifik sejarah memberikan catatan penting yang semestinya menjadi i’tibar bagi hamba Allah yang bergerak menyongsong janji Allah tersebut. Catatan tersebut menunjukkan perjalanan kehidupan ummat manusia dalam rangka menegakkan Hukum Allah yang dipelopori oleh para Rasul dengan berjalan melalui dua fase. Fase pertama dilandasi oleh Taurat, Zabur dan Injil. Dan hal ini telah dirusak oleh penyimpangan para pendeta dan pengabar Kitabullah dan Sunnah RasulNya disebabkan pandangan materialistik sebagaimana dijelaskan di dalam al Qur-an surah at Taubah ayat 34. Kemudian fase kedua dilandasi al Qur-an dan as Sunnah dengan berpandangan kepada kebangkitan para Ulama, al ‘Arif dan al Khowasy dalam rangka membangun kembali citra perjalanan Islam menuju janji Allah. Disinilah letak peranan Ulama yang telah diberitakan dalam bentuk “sinyal” melalui al Qur-an surah al Baqoroh ayat 208 dan penjelasan Rasulullah saw melalui hadits-haditsnya yang shohih untuk meneruskan sejarah Khilafah Kenabian menuju wujud yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Dunia Islam Rumpun Melayu bermuatan fakta sejarah yang sangat mahal harganya sebagaimana digambarkan Allah di dalam al Qur-an surah al Qoshosh ayat 4 dan 5. Oleh karena itu, kepada para Ulama Serumpun Melayu kiranya telah memahami hal ini dan akan memandang betapa pentingnya pelaksanaan Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu menuju Mudzakarah Ulama Dunia.
Inilah indahnya cita dan citra Islam, sudah barang tentu melibatkan seluruh ummat Islam sebagai “Anshorulloh”.
Tujuan
Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu bertujuan untuk :
1. Membangun kesepakatan Ulama Serumpun Melayu, sebagai tapakan awal menuju Mudzakarah Ulama Dunia.
2. Memantapkan program dan langkah dunia Islam melalui pelaksanaan seminar, musyawarah dan simposium.
Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu adalah :
1. Tercapainya pernyataan bersama dalam bentuk Kesepakatan Ulama Serumpun Melayu untuk melaksanakan Mudzakarah Ulama Dunia.
2. Terbentuknya Tim Penyusun Panitia Mudzakarah Ulama Dunia.
3. Tersusunya rumusan hasil-hasil Mudzakarah sebagai bahan untuk menetapkan langkah-langkah operasional pelaksanaan Mudzakarah Ulama Dunia.
Istilah Dan Pengertian
Dalam pelaksanaan Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu yang direncanakan pada tahun 2010, ada beberapa istilah yang erat kaitannya terhadap subtansi pembicaraan. Istilah-istilah tersebut dijumpai baik melalui musyawarah-musyawarah pendahuluan sebagai persiapan menjelang hari pelaksanaan, sosialisasi-sosialisasi, kajian-kajian keIslaman maupun topik-topik pembahasan pada kegiatan seminar dan simposium. Oleh karena itu, dipandang perlu istilah-istilah tersebut dan pengertiannya disajikan dalam naskah ini, antara lain sebagai, berikut :
Mudzakarah
Mudzakarah memiliki arti penting dan strategis dalam upaya menjemput tegaknya Daulah Islam Dunia berdasarkan kehendak Allah SWT, karena didalamnya mengandung satu tuntunan untuk merendahkan hati dan kepasrahan diri yang prima dalam menerima seruan Kebenaran Dinullah yang bersumber dari petunjukNya di dalam al Qur-an dan as Sunnah RasulNya yang shohih.
Mudzakarah adalah suatu proses untuk saling mengingatkan berdasarkan petunjuk dalil yang qoth’i sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Robb, melalui sistem yang benar dan dibenarkanNya serta menjauhkan diri dari segala bentuk anasir-anasir atau pola-pola yang merupakan hasil buah pikiran manusia.
Al Ulama
Al Ulama merupakan sosok yang telah dipilih Allah dan RasulNya untuk mengemban amanah Ad Diin dan Ad Dunia di atas muka bumi ini. Inilah isyarat penting yang telah ditunjukkan melalui dua hadits Rasul, yaitu “al Ulama pemegang amanah Allah atas makhluqNya” dan “al Ulama pemegang amanah para Rasul”.
Hal tersebut menunjukkan bahwa al Ulama adalah suatu derajat yang telah ditetapkan Allah bagi hambaNya yang paham terhadap makna tanggung jawab keummatan, selalu berupaya untuk tidak mengkhianatinya serta senantiasa mengharapkan keridloan Allah dalam segala kiprah hidupnya. Bahwa peletakan cintanya kepada Allah, Rasul dan Jihad dijalanNya adalah di atas segalanya.
Inilah tatanan utama yang membuat al Ulama disebut al ‘Arif dan al Khowasy karena ketulusan hatinya dalam memelihara ketho’atan sehingga ia akan berupaya semaksimal mungkin menepati perintah Allah berdasarkan panduan yang benar serta menjauhkan dirinya dari mencampur aduk antara al Haq dengan al Bathil sebagaimana tersebut di dalam al Qur-an surah an Nur ayat 37.
Rumpun Melayu
Rumpun Melayu adalah salah satu rumpun bangsa di dunia yang memiliki ciri khas spesifik, selain warna kulit, bahasa dan kebudayaan. Rumpun Melayu merupakan zona geografis yang meliputi beberapa Negara di kawasan Asia Tenggara yang pada dasarnya memiliki corak budaya yang sama. Hal ini disebabkan karena Rumpun Melayu sangat identik dengan Islam.
Apabila mengamati terhadap faktor sejarah perjalanan hidup ummat manusia berdasarkan petunjuk al Qur-an, maka akan memberikan suatu pemahaman yang khusus, bahwa dunia Islam Rumpun Melayu memiliki muatan fakta sejarah yang amat mahal nilainya. Rumpun Melayu tercatat sebagai rumpun bangsa kedua yang mengalami penindasan dan penjajahan terlama di dunia setelah Bani Isroil yang diangkat Allah sebagai rumpun yang berkuasa di atas muka bumi pada masanya. Dengan demikian sebagaimana ditunjukkan Allah SWT di dalam al Qur-an surah al Qoshosh ayat 4 dan 5 bahwa Allah akan mengangkat ummat yang tertindas menjadi pemimpin-pemimpin bertarap dunia, maka kelak kebangkitan Islam Dunia diharapkan diawali dari Rumpun Melayu.
As Silmu
Lafadz “as Silmu” yang dicantumkan Allah SWT dalam al Qur-an surah al Baqoroh ayat 208 memberikan suatu isyarat perintah yang wajib diupayakan dan dilaksanakan oleh hamba-hambaNya yang beriman secara baik dan benar melalui proses dan tahapannya sebagaimana diterangkan di dalam al Qur-an surah al Insyiqoq ayat 19.
Apabila dihubungkan dengan ayat sebelumnya tentang kriteria Ulama yang penuh harap akan keridloan Allah, maka lafadz “as Silmu” tidak hanya dapat diartikan dengan kata “Islam” sebagaimana yang sering kita jumpai di dalam terjemahan al Qur-an pada umumnya. Akan tetapi ia bermuatan bobot hukum yang mutlaq bahwa tegaknya Daulah Islam Dunia harus dipangkali dengan adanya upaya membangun kesepakatan Ulama secara mendunia berdasarkan panduan manajemen al Qur-an dan siistem yang dibenarkan Allah yaitu as Siyasah, serta menjauhkan diri dari sistem dan pola manajemen Jibti dan Thoghut. Dengan demikian lafadz “as Silmu” bermakna “ittifaqu al Ulama”.
Tansiq
Tansiq didefinisikan sebagai upaya penyatuan hati antar Mukmin atas dasar iman kepada Allah SWT, hal ini berdasarkan al Qur-an surah al Hujurot ayat 10, bukan penyatuan pandangan dan langkah atas dasar pikiran dan kepentingan materialistik semata sebagaimana pola yang dibangun oleh orang-orang Kafir Ahli Kitab dan Musyrikin yang biasa dikenal dengan istilah “aliansi” sebagaimana dijelaskan al Qur-an surah al Anfal ayat 73. Inilah langkah awal yang wajib diupayakan oleh hamba-hamba Allah dalam rangka membangun kesepakatan Ulama menuju tegaknya bangunan Khilafah Islam secara mendunia.
Jihad
Secara bahasa, Jihad berarti bekerja keras, sungguh-sungguh atau suatu daya kemampuan yang menuntut kesungguhan dalam mengamalkannya. Sedangkan secara istilah, Jihad berarti mengerahkan segala kemampuan dan keberadaan dirinya, baik berupa harta maupun jiwa dengan satu tujuan pokok, yaitu menegakkan nilai-nilai Kebenaran di atas muka bumi Allah. Inilah yang dimaksud Jihad sebagaimana hadits shohih yang Rasululloh saw bersabda, “ litaku-na kalimatullahi hiyal-ulya”, yang bermakna “mengangkat bobot Islam ke permukaan pandangan ummat manusia sehingga hanya aturan Allah saja yang wajib diberlakukan di atas muka bumi ini”.
Qital
Secara bahasa, qital berarti perang atau mengangkat senjata dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Akan tetapi apabila ditelaah secara kaidah hukum serta berdasarkan ilmu al Qur-an, qital berarti suatu perintah wajib bagi ummat Mukmin untuk mengislamkan keadaan dan dunia dengan penuh kesungguhan melalui program yang bersifat antisipatif , guna mengatasi segala kiprah kaum Kafir dalam upaya memadamkan cahaya Dinullah di dalam kehidupan ini. Inilah qital yang wajib dilaksanakan ummat Mukmin, meskipun perintah tersebut adalah hal yang dibenci.
As Siyasah atau Siasiyah
As Siyasah memiliki kesamaan arti dengan thoriqoh, manhaj, shiroth atau sabil yang berarti suatu sistem atau metode operasional yang wajib dipahami dan dilaksanakan oleh ummat Muslim dalam mengatur dan menjawab segala problema hidup ummat manusia di dunia ini melalui panduan manajemen al Qur-an dan juga Hadits RasulNya yang berderajat Shohih dan bukan melalui jalur politik dan demokrasi ala Barat. Inilah satu-satunya sistem yang dapat mengantarkan ummat manusia memperoleh kesejahteraan, kedamaian dan ketenangan. Mengantarkan ummat Islam menuju indahnya bangunan Daulah Islam Dunia di bawah ridlo Allah SWT.
Khalifatullah Gelar Kesultanan
Apabila mencermati sejarah perjalanan Islam dan ummat Islam di wilayah Nusantara maka akan diperoleh suatu gambaran tentang peranan Ulama tempo dulu dalam pola penataan masyarakat yang bernuansa Islami. Mulai dari masyarakat kalangan atas hingga kalangan menengah ke bawah. Semuanya tertata sedemikian rupa sebagai suatu perwujudan nilai-nilai Islam ke dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat kala itu. Hal yang sama juga terjadi pada lapisan kerajaan atau kesultanan. Salah satu ciri khas yang dibangun oleh para Ulama tempo dulu dalam wilayah kesultanan adalah pemberian gelar kepada Raja atau Sultan. Khalifatullah adalah gelar yang diberikan oleh para Ulama tempo dulu kepada para Sultan yang memerintah pada masing-masing wilayah di Nusantara melalui gerakan Wali Songo. Dengan demikian tampak jelas bahwa kesultanan-kesultanan yang dibangun pada kala itu merupakan kerajaan yang bercorak Islam dan budaya Islam.
Khalifah atau Khilafah
Secara bahasa, Khalifah berarti pengganti sebagaimana diterangkan di dalam al Qur-an surah al Baqoroh ayat 30, akan tetapi bila ditelaah berdasarkan ilmu Qur-an, lafadz “Khalifah” dapat memberikan beberapa pengertian antara lain :
1. Amirul Ummah
Yaitu gelar yang diberikan Allah SWT kepada seorang hamba yang ditunjuk dan diangkatNya untuk memperbaiki keadaan hidup ummat manusia di berbagai belahan dunia melalui sistem yang benar dan dibenarkanNya sebagaimana al Qur-an surah an Nur ayat 55.
2. Amirul Mukminin atau Imamah
Yaitu gelar yang diberikan Allah SWT kepada salah seorang hambaNya yang dikaruniai berbagai keahlian dan kecerdasan yang prima guna mengantarkan ummat manusia memperoleh kesejahteraan, keberkahan dan kemakmuran di bawah aturan dan ridloNya sebagaimana diterangkan di dalam al Qur-an surah al Baqoroh ayat 124. Sosok inilah yang kelak akan ditunjuk dan diangkat Allah sebagai “Imam atas ummat manusia”.
Musyawarah
Musyawarah adalah suatu proses yang wajib dilaksanakan oleh ummat manusia sebagai sarana untuk menyelesaikan permasalahan atau perselisihan, serta memutuskan segala sesuatu berdasarkan kesepakatan bersama. Sedangkan di dalam Islam, musyawarah adalah hal yang sangat prinsip dan strategis dalam menyelesaikan suatu permasalahan, serta mengambil keputusan-keputusan yang bertujuan untuk kemaslahatan bersama berdasarkan petunjuk al Qur-an dan al Hadits yang berderajat Shohih.
Intelektual Muslim
Di dalam prinsip Islam, setiap hamba Allah diberikan potensi berupa keilmuan, ketrampilan dan keahlian. Salah satunya yang kita kenal dengan istilah “Intelektual Muslim”. Intelektual Muslim adalah hamba Allah yang diberiNya karunia berbagai potensi berupa kecerdasan otak yang prima serta keahlian-keahlian khusus pada masing-masing bidang ilmu dan selalu merujukkannya pada ketetapan Allah di dalam al Qur-an.
Anshorulloh
Di dalam gerakan tajdid sebagaimana yang telah dirintis oleh Rasulullah Isa as sampai dengan Rasulullah Muhammad saw, selalu ada satu komponen penting yang tidak pernah terpisahkan. Mereka adalah barisan pengikut setia yang rela mengorbankan harta dan dirinya guna membantu perjuangan Rasul-Rasul Allah tersebut dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran di atas muka bumi ini. Mereka inilah yang disebut dengan istilah “Anshorulloh” atas dasar al Qur-an surah ash Shof ayat 14, yang berarti para penolong Allah.
Peran Al Ulama Sebagai Langkah Strategi
Mengawali tulisan ini, kiranya para Ulama dapat memafhumi bahwa tulisan yang sangat sederhana ini tidak lebih dari harapan akan mendapatkan tempat di hati para Ulama pilihan Allah sebagai al ‘Arif dan al Khowasy. Kemungkinan tulisan ini dapat dianggap sebagai taushiyah yang sangat sederhana, namun kiranya dapat bernilai positif untuk dipertimbangkan, mengingat bahwa suara jeritan nurani ummat telah terdengar di seluruh penjuru dunia disebabkan nilai ad Din dan kemanusiaan telah dinafikan oleh Kafirin dan Musyrikin serta ditenggelamkan melalui hasil teknologi modern dan peradaban messianik mereka.
Dalam kenyataannya, jeritan kemanusiaan telah dan sedang mendambakan “sosok Ulama” yang peka dan mampu membaca sorotan, lirikan dan pandangan Kafirin dan Musyrikin terhadap Dunia Islam dan ummat Muslimin. Berpangkal dari permasalahan inilah kiranya Allah akan tunjukkan KebenaranNya, bahwa peran Ulama akan merupakan langkah strategis bagi membangun citra dan cita Islam menuju Daulah Islam Dunia yang dijanjikan Allah. Para Ulama sebagai al ‘Arif dan al Khowasy telah memahami betapa Kebenaran al Qur-an adalah mutlaq dan bahkan dinyatakanNya sebagai “tiada kebengkokkan” sebagaimana dijelaskan di dalam al Qur-an surah az Zumar ayat 28, yang dengan itu Allah telah menetapkanNya sebagai “Norma Hukum atas ummat manusia” yang berdasarkan al Qur-an surah al Jatsiyah ayat 20.
Dalam perjalanan menuju janji Allah, memang secara logika adalah bukan perkara yang mudah dan betapa rapatnya berbagai program kejahatan kaum Kafir terhadap Islam dan ummat Islam, sebagaimana telah ditunjukan Allah dalam al Qu-an, sehingga antara yang digambarkan al Qur-an dengan kenyataan benar-benar telah terpadu, antara lain :
1. Berbagai pertemuan antar mereka secara mendunia, berupaya untuk memadamkan Cahaya Kebenaran Islam, walaupun hal itu mereka sadari sebagai suatu kemustahilan sebagaimana dijelaskan di dalam al Qur-an surah ash Shof ayat 8.
2. Mengorbitkan sembilan aktor intellektual melalui tindakan yang beralibi dalam peran mafia, mereka berupaya untuk merusak Dunia Islam dengan segala cara yang diterangkan di dalam al Qur-an surah an Naml ayat 48 dan 49.
3. Mengadakan persekongkolan untuk mengkondisikan secara paksa dengan menyuarakan permusuhan yang mendalam atau intimate enimity terhadap ummat Islam sedunia sebagaimana dijelaskan al Qur-an surah al Hajj ayat 72.
Menanggapi semua itu sudah barang tentu para Ulama telah paham, karena telah diinformasikan oleh al Qur-an. Sekarang tinggal menetapkan kebersamaannya dalam satu titik temu sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT di dalam al Qur-an surah Muhammad ayat 31 melalui prose bermudzakarah. Sungguh betapa agungnya Allah menetapkan dan mengamanatkan permasalahan besar tersebut kepada al Ulama dan Rasulullah saw menjelaskan perihal Ulama sebagai pemegang amanah para Rasul dan melalui penjelasannya pula bahwa al Ulama itu sebagai pemegang amanah Allah atas makhluqNya. Para Ulama adalah sosok yang dikehendaki Allah untuk memandu ummat Islam dalam menjemput janji Allah yang pasti, yaitu Daulah Islam Dunia yang nantinya akan diawali dengan KetetapanNya yaitu kepemimpinan “al Mahdi” ( Hadits Shohih Riwayat Abu Daud; Ibnu Majah; Al Hakim) dan berlanjut dengan Ketetapan Allah yaitu bangunan “Khilafatul Muslimin” secara mendunia dan akan terjadi kemuliaan atas Mukminin dan kehinaan atas Kafirin sampai akhir zaman.
Dengan mengingati terhadap petunjuk dan ketetapan Allah SWT dalam al Qur-an dan penjelasan Rasulullah saw dalam al Haditsnya sudah cukup dan sangat jelas, maka alangkah baiknya, sekiranya para Ulama dalam berpacu dengan waktu, mengonsentrasikan diri untuk menbangun kesepakatan dunia melalui tahapan berdasarkan manajemen al Qur-an dan petunjuk serta panduan Rasulullah saw.
Adapun sebenarnya, pangkal kehancuran pola kehidupan kaum Yahudi dan Nashoro dan mengakhiri perjalanan sejarah Khilafah Bani Isroil sebagai fase pertama sebagaimana dicantumkan di dalam al Qur-an surah al A’rof ayat 160 dan bahkan mereka berakhir dengan menjadi ummat yang terkutuk melalui lidah Daud as dan Isa as sebagaimana diterangkan di dalam al Qur-an surah al Maidah ayat 78 semua itu adalah akibat dari ulah para Ulama mereka yang telah berubah kiblat menjadi kuam materialis dan bahkan menjadi penghambat Kebenaran Islam tempo dulu yang tercantum dalam al Qur-an surah at taubah ayat 34.
Sejarah ini kiranya dapat dijadikan sebagai i’tibar bagi para muttabi’ur Rasul dalam kiprah pembangunan masyarakat ummat manusia di seluruh dunia pada akhir zaman untuk fase kedua atau fase terakhir sekarang ini. Allah tiada lagi mengutus NabiNya setelah Muhammad saw yang dinyatakanNya di dalam al Qur-an surah al Ahzab ayat 40 sebagai penutup para Nabi, maka kiranya dapat menjadi petunjuk utama dan dapat menjadi peringatan mutlaq serta pokok perhatian para Ulama sebagai al ‘Arif dan al Khowasy. Peristiwa tersebut adalah merupakan tahapan perjalanan yang memang telah diatur dan ditentukan Allah.
Untuk itu ada beberapa bukti, antara lain adalah :
1. Pernyataan Rasulullah saw perihal keberadaan para Mujadid pada setiap awal seratus tahun ( Hadits Riwayat Abu Daud, al Hakim, al Baihaqi dari jalan Abu Huroiroh dengan derajat Shohih), akan merupakan proses perjalanan waktu menuju Ketetapan Allah, yaitu Penegakkan Daulah Islam Dunia secara mutlaq atas KekuasaanNya.
2. Gambaran tentang kenyataan sejarah, bahwa ummat Islam Rumpun Melayu mempunyai perjalanan “sejarah termahal di dunia” setelah perjalanan Bani Isroil yang digambarkan di dalam al Qur-an, semua itu adalah untuk diambil sebagai i’tibar sebagaimana perintah Allah di dalam al Qur-an surah yusuf ayat 111. Janji Allah cukup dan sangat jelas tentang penetapanNya untuk menjadi “Pemimpin-Pemimpin bartaraf dunia” yang tersebut di dalam al Qur-an surah al Qoshosh ayat 5. Yang dengan itu merupakan perjalanan awal menuju keberlakuan Hukum Islam atas ummat manusia seluruh dunia sampai akhir zaman.
Memperhatikan permasalahan tersebut berarti yang menjadi dambaan ummat manusia dan kemanusiaan adalah sosok para hamba Allah yang dikategorikan al ‘Arif dan al Khowasy karena Allah SWT telah menetapkan dalam surah Fathir ayat 28 dan Rasulullah saw telah menjelaskan. Hal ini berarti bahwa pola berittifaq dalam rangka bermudzakarah adalah merupakan langkah strategis sebagai jaminan dalam memelihara citra perjalanan ummat Islam menjemput Janji Allah yang pasti. Memang sungguh dapat diakui kebenarannya, bahwa jalan ke Roma ada mempunyai 1001 jalan, akan tetapi jalan menjemput Janji Allah terwujudnya Daulah Islam Dunia hanyalah satu jalan sebagai alternatif yang tiada duanya yaitu “Mudzakarah al Ulama”. Inilah sebenarnya rahasia Kebenaran al Qur-an yang tidak mungkin dapat ditelaah dan dipahami oleh Kafirin dan Musyrikin yang selama ini bersikap sebagai predator, aggressor dan Jinggoisme atas ummat manusia yang berada di benua tempat Allah SWT mengutus Rasul keutamaanNya dan menurunkan al Qur-an sebagai penyempurna seluruh Kitab-Kitab Allah terdahulu.
Langkah-Langkah Persiapan
Pengkajian Al Islam
Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu adalah suatu wujud Jihad dari ummat Muslim dalam upaya Li ‘ila-I kalimatullah, mengangkat bobot Islam ke permukaan pandangan ummat manusia. Upaya ini telah dirintis melalui beberapa tahapan kerja dan Insya Allah akan terus berlanjut sampai tingkat Mudzakarah Ulama Dunia yang direncanakan pada tahun 2015.
Agar langkah kerja tersebut tetap terjaga kemurnian dan kebersihannya serta senantiasa berjalan berdasarkan petunjuk al Qur-an dan al Hadits Shohih, maka Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama (DP3MU) Serumpun Melayu bersepakat untuk mengadakan Pengkajian al Islam yang dikemas dalam bentuk Kaderisasi Muballigh Sunnah (KAMUS). Kaderisasi ini dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan setiap pekan serta didukung dengan aktivitas tadabbur al Qur-an atas dasar perintah Allah SWT dalam surah an Nisa ayat 82 setiap pagi hari. Aktivitas Pengkajian al Islam ini dilaksanakan di Auditorium dan Masjid al Muqoffa Yayasan Amanat kesejahteraan Ummat Islam Pusat Palembang.
Pengorganisasian
Pada tanggal 4 sampai dengan 6 Shafar 1427 H bertepatan 4 sampai dengan 6 Maret 2006 dilaksanakan “Mudzakarah Ulama se-Sumatera” di Asrama Haji Palembang. Hasil Mudzakarah Ulama tersebut antara lain, telah mengamanatkan panitia yang ada untuk menindaklanjuti pelaksanaan Mudzakarah Ulama tersebut dengan “Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu”.
Dalam proses pelaksanaannya, panitia tersebut memandang perlu untuk menyempurnakan susunan kepanitiaan sesuai dengan luasnya tanggung jawab yang akan diembannya. Maka berdasarkan petunjuk Allah SWT sebagaimana difirmankanNya di dalam al Qur-an surah ash Shof ayat 14, selanjutnya Panitia Mudzakarah Ulama se-Sumatera disempurnakan menjadi Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu yang disingkat menjadi “DP3MU” Serumpun Melayu yang bertindak sesuai dengan fungsinya.
DP3MU Serumpun Melayu terdiri dari dua pembagian kerja dalam bentuk Dewan Perancang Mudzakarah Ulama yang disingkat DPMU dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama yang disingkat PPMU Serumpun Melayu. PPMU dengan susunan lengkap yang akan mengatur, menjabarkan dan melaksanakan program kerja sesuai dengan petunjuk dan pengarahan dari DPMU menuju terlaksananya Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu.
Sosialisasi
Dalam upaya menyebarluaskan informasi selengkap-lengkapnya tentang program Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu yang Insya Allah diselenggarakan pada tahun 2010, maka DP3MU melalui Panitia Pelaksana memandang perlu mengadakan sosialisasi kepada seluruh komponen ummat Islam di berbagai wilayah dan Negara yang berada di dalam kawasan Rumpun Melayu yang meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan, Brunei Darussalam, Singapura dan Philipina.
Selain itu untuk menunjang program sosialisasi tersebut, Panitia telah membuat situs resmi yaitu : http://www.al-ulama.net dan e-mail : panpel@al-ulama.net This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it dengan harapan agar informasi tentang eksistensi Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu tersebut dapat dengan mudah diakses dan diperoleh.
Musyaswarah
Salah satu tahapan proses yang digagas oleh DP3MU dalam upaya mensukseskan program Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu tahun 2010 adalah melaksanakan musyawarah-musyawarah yang disusun secara berkala dan berkesinambungan. Musyawarah-musyawarah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Musyawarah Harian
Musyawarah ini diselenggarakan setiap bulan guna memperoleh informasi-informasi penting seputar perjalanan DP3MU dan membahas beberapa poin penting sebagai bahan pembicaraan pada musyawarah pleno DP3MU. Musyawarah ini sendiri selain dihadiri oleh pengurus harian DPMU juga dihadiri oleh pengurus harian PPMU.
2. Musyawarah Pleno
Musyawarah ini diselenggarakan secara periodik setiap enam bulan guna memperoleh satu pemahaman dan kebulatan tekad dalam kebersamaan serta membahas rencana dan program kerja DP3MU ke depan. Musyawarah ini sendiri tidak hanya dihadiri oleh semua anggota DP3MU saja, akan tetapi juga turut dihadiri oleh para Ulama yang diundang secara khusus oleh DPMU.
3. Musyawarah Utama atau Khusus
Musyawarah ini diselenggarakan secara khusus oleh DP3MU apabila ditemukan suatu permasalahan khusus yang dipandang penting untuk dibicarakan dan diputuskan secara bersama.
Rancangan Pelasanaan
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Berdasarkan hasil musyawarah yang diselenggarakan oleh Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu, maka kegiatan Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu tersebut Insya Allah akan dilaksanakan di Palembang antara Bulan November dan Desember tahun 2010 selama tiga hari.
Agenda Musyawarah
1. Agenda Acara
1. Menyatukan hati dalam ad Din al Islam melalui “Pernyataan Bersama”
2. Seminar
3. Penyampaian “Informasi Strategis” melalui “Temu Hati dan Wicara”
4. Membentuk tim penyusun panitia sedunia
5. Pernyataan bersama Ulama Serumpun Melayu guna menghadapi “Dialog Dunia”
6. Simposium
2. Materi Seminar
1. Menelusuri dan menteladani perjalanan Rasul dan para Sahabat untuk menjemput Daulah Islamiah
2. Metode operasional untuk membangun kesepakatan para “Ulama Sedunia”
3. Materi Simposium
1. Dua sistem yang sesungguhnya tidak pernah sama
2. Gambaran Daulah Islam Sedunia dalam menjemput Janji Allah
Peserta Mudzakarah
1. Sasaran
Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu ini akan terus disosialisasikan kepada para Ulama secara individu dari kalangan organisasi masa Islam di berbagai Negara serta kesultanan yang berada di wilayah geografis Rumpun Melayu.
2. Jumlah Peserta
Peserta Mudzakarah direncanakan berjumlah 500 orang Ulama dari berbagai Negara yang terdiri dari :
1. Indonesia : 300 orang
2. Malaysia : 81 orang
3. Brunei Darussalam : 9 orang
4. Thailand Selatan : 9 orang
5. Philipina : 9 orang
6. Singapura : 9 orang
7. Negara lainnya : 83 orang
Akomodasi Peserta
Semua peserta Mudzakarah difasilitasi oleh Panitia Pelaksana meliputi penjemputan peserta di tempat-tempat kedatangan antara lain Bandara, Stasiun kereta api, Pelabuhan laut dan Terminal bus kemudian penginapan peserta dan konsumsi selama berlangsungnya Mudzakarah.
Pendanaan
1. Sumber Dana
Dana yang dibutuhkan diperoleh dari infaq umat Muslim para aghniya dan donatur yang tidak mengikat.
1. Pusat Pendanaan
Untuk memudahkan dalam menggali sumber-sumber dana, baik yang berasal dari berbagai wilayah maka Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu telah membuka rekening yang dapat diakses dengan rekening sebagai berikut :
- Bank Niaga Cabang Palembang Rekening Nomor : 139-01-02744-11-0
- Bank Syari’ah Mandiri Cabang Pembantu 16 Ilir Palembang Rekening Nomor : 0980010078
1. Anggaran Dana
Dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu diperkirakan sebesar Rp. 2.000.000.000,00 atau terbilang dua milyar rupiah, yang dialokasikan untuk kebutuhan sebagai berikut :
1. Administrasi
2. Acara
3. Sosialisasi
4. Dokumentasi
5. Keamanan
6. Sarana dan Prasarana Penunjang
7. Transportasi Lokal
8. Akomodasi
9. Kesehatan
10. Konsumsi
Penutup
Janji Allah akan tegaknya Daulah Islam Dunia di akhir zaman adalah suatu kemutlaqkan yang tidak dapat dibantah dan dipungkiri lagi sebagaimana tersebut di dalam al Qur-an surah at Taubah ayat 33. Keniscayaannya merupakan suatu jaminan yang pasti akan mengantarkan masyarakat manusia menuju kehidupan yang sejahtera dan damai sebagaimana dijelaskan dalam al Qur-an surah al Maidah ayat 66, serta tidak akan pernah berbenturan dengan kekuatan alam yang dahsyat . Hal inilah yang harus diyakini oleh tiap-tiap diri pribadi Muslim yang merindukan tegaknya Kebenaran di atas muka bumi ini.
Oleh karena itu, dalam upaya menjemput Janji Allah tersebut, tiap-tiap diri pribadi Muslim dengan segala keberadaan dirinya dituntut untuk lebih peka dan mampu memahami petunjuk manajemen al Qur-an dengan diiringi kesungguhannya dalam wujud jihad bil amwal wal anfus. Di sinilah letak “Syahid” sebagaimana ditunjukkan Allah SWT di dalam firmanNya : “Robbana bima anzalta wat-taba’na ar-rosula, faktubna ma’asy-syahidina”.
“Nashrun minnallah wa fathun Qori-b”
Kita bersyukur memiliki Ulama sekaliber K.H.Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, Kita bersyukur memiliki K.H. Hasyim Asy’ary dengan N.U nya, kita bersykur memiliki K.H. A.Rifa’i dengan Rifa’iyahnya, kita bersyukur memiliki ulama- ulama besar para Mujaddid dan Mujahid lainnya yang menerangi bumi Nusantara dengan Cahaya keilmuan Iman dan Islam, yang akan membawa bangsa ini setapak- demi setapak menuju ridho ilahy dan kebahagiaan dunia akherat.
Mbah Dahlan, jariyahmu begitu melimpah. Petilasan langgarmu masih jelas tampak dan menyisakan kenangan di Kauman Yogyakarta. tetapi sekarang sepi dari kegiatan sorogan al-Qur’an yang dulu sempat engkau selenggarakakan.
Kegiatan keagamaan sekarang berpusat di Masjid Gede Kauman. di seberang petilasan rumahMu dulu terdapat perpustakaan keliling Mabulir (majalah, keliling bergilir) yang dikomandani veteran Dauzan Farook, tetapi sekarang disana, di rumah tua itu tinggal kenangan tentang budaya literasi yang sempat diperjuangkan.
Dulu, engkau mendirikan PKO, pusat kesehatan umat tak lain karena empati dan kasih sayangMu terhadap mereka yang pesakitan, dan perhatianmu terhadap kesehatan umat. tapi entah sekarang …motivasi PKU apakah masih seperti semangatmu dulu untuk taawun ala al birri …karena di telinga sering nyangkol kabar tentang mahalnya biaya berobat di PKU.
Pendidikan Mualimin-mualimat yang engkau gagas mempunyai visi sosial keagamaan. Hal itu kau tunjukkan ketika salah seorang muridmu sempat protes, karena selama seminggu hanya diajari surat al-Maun. engkau jawab enteng “apakah kandungan surat ini sudah engkau amalkan?” muridmu tergagap, sehari kemudian muridmu memburu anak yatim dan fakir miskin, untuk mengamalkan kandungan surat yang mengajurkan menyantuni dan tidak menghardik keduanya.
Pendidikan yang dulu engkau gagas sekarang tambah maju, dan gedungnya megah, mewah sistem pendidikannya tambah OK. bahkan sekarang telah berderet universitas-universitas. tetapi aku tak tahu apakah masih sevisi dengan visi pendidikan Mu. aku kurang tahu. tapi yang jelas sempat nyangkol ditelingaku kabar tentang uang sumbangan untuk jurusan kedokteran di universitas anak cucumu yang mencapai ratusan juta.
Aku harus bersedih ketika melihat pemakamanmu yang kurang terurus, karena memang terlarang orang menziarahi Mu. padahal engkau sekarang bukan hanya milik Muhammadiyah, Engkau milik bangsa Indonesia dan umat Islam. Aku yang Rifaiyah juga merasa memiliki dan kalau bisa berusaha mencitaiMu. Aku ingin menyabiti rerumputan yang mengitari pemakamanmu di Karangkajen.
Bos, kalau nulis kamu-mu, kecil saja, Mu digunakan untuk Allooh Ta’aala…. salam…
Mang Asep, komentar anda sungguh menyentuh. Tanpa terasa air mata menitik dari sudut- sudut mataku, seraya memanjatkan do’a ke hadirat Nya untuk beliau:
Allaahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa’aafihii, wa’fu ‘anhu…..Wa-akrim nuzulahu…Amiin.
[...] http://tanbihun.com/profil-ulama/riwayat-kh-ahmad-dahlan/ Tinggalkan sebuah Komentar [...]