Tanbihun- Setelah satu tahun lebih tabihun.com online banyak suka duka yang kami alami, dengan keterbatasan SDM dan dana kami berusaha selalu menghidupkan nafas kerifaiyah di media ini. Tidak sedikit approve yang kami terima, juga tidak sedikit cibiran yang dialamatkan kepada kami, namun bukan itu yang akan coba kami sajikan kepada para pembaca.
Seiring bergulirnya sang waktu, banyak sudah ide,usulan yang singgah ke redaksi media dakwah rifaiyah, ide-ide cemerlang itu muncul bak air bah pasca digelarnya MUKERNAS RIFAIYAH di Temanggung setahun yang lalu. Kami tertegun,takjub, demi mendengar & membaca berbagai macam usulan tersebut, disana kami menemukan semangat yang menyala-nyala, nafas harakah berkobar penuh kobaran api yang menyuarakan perubahan. Diantara ide-ide itu ;
- Dibentuknya lembaga khusus percetakan yang menerbitkan kitab-kitab rifaiyah dengan harga relatif lebih murah dibandingkan yang sudah beredar
- Dibentuknya Ikatan Cendekiawan Rifaiyah, yang didalamnya berisi para cendekiawan rifaiyah yang nantinya tentu didominasi oleh para sarjana dan intelektual muda
Dan masih banyak lagi yang lainnya, namun inti dari semua ide tersebut bermuara pada satu titik, yaitu perubahan, kalimat perubahan oleh sebagian orang sering dimaknai dengan suatu tindakan extrem yang menghendaki dilucutinya sistem/program lama dengan yang baru.
Bagi kami semua itu penting, tapi yang terpenting adalah kesiapan, seperti sudah menjadi penyakit menahun yang akut, kita sering terjebak pada satu kondisi atau kebiasaan, dimana dalam kondisi semangat yang menyala-nyala kita secara aklamasi mencetuskan satu ide, tanpa diimbangi dengan persiapan,tanpa dilakukan uji kesiapan,kita tidak begitu melihat kedalam, tapi lebih sering melihat keluar, ibarat kata ” Ormas lain punya ini, rifaiyah juga harus punya ” tanpa pernah berpikir lebih dalam, paling tidak 3 pertanyaan ini bisa dijadikan langkah awal :
1. sudah butuhkah rifaiyah ?
2. sudah mampukah Rifaiyah?
3. Sudah Siapkah Rifaiyah? “
Kemungkinan besar pertanyaan nomor satu jawabannya “YA”, tinggal 2 pertanyaan berikutnya, kalau dilihat dari usulan/ide diatas point pertama kebutuhan dan kemampuan rifaiyah sudah nyaris terpenuhi, semua kejumudan program-program rifaiyah kandas, terkapar pada pertanyaan nomor 3.
Terlepas dari alasan lain yang mungkin ada, kami punya pemikiran, salah satu ruh dari sebuah pergerakan atau pun nyawa dari sebuah program adalah “KESIAPAN”,siap secara mental, pendanaan, dan waktu, karena kita sering mendapati diri kita bergerak maju dengan langkah gagah memulai suatu program, tapi ketika kita dihadapkan pada waktu yang sudah mulai tersita oleh aktifitas pribadi atau keluarga, ketika fulus mulai bercabang yang membutuhkan kucurannya, kita pun mulai kacau balau, secara teratur mundur pelan-pelan,bahkan yang lebih tragis kita mendadak lemah “jantung” dan nafas pergerakan itu terhenti tiba-tiba pada kondisi yang tidak pas atau belum saatnya.
Untuk itu sebelum atau sambil menentukan langkah konkrit yang lebih besar marilah kita bersama-sama belajar menuangkan ide,pemikiran atau apapun namanya itu di media ini, anggaplah di media ini kita adakan test untuk diri kita masing-masing ;
- Seberapa besar ghirah/semangat kita untuk kemajuan rifaiyah?
- Sekuat apa mental kita menghadapi kendala?
- Se-istiqomah apa kita memijakkan kaki diatas nilai yang telah kita yakini?
- Seikhlas apa kita membagi isi kantong untuk Lillah, Billah,Fillah ?
Akhirnya, sebagai penutup, jangan jadikan tulisan ini sebagai bentuk perlawanan atau upaya membenarkan diri sendiri, jadikan ini sebagai salah satu pemicu koreksi untuk kita, sehingga langkah-langkah selanjutnya akan tetap tegap berdiri diatas kaki-kaki yang kokoh dan sehat.
Salam tanbihun
Em. Yazid 10 maret 2010






wah kesindir aku..tp insya Alloh aku futur sedelok aja kok kang. masalahe durung iso ngatur jadwal..sepurane yo kang.
Sebenarny tdk hny 3,tp bnyk pertanyaan untuk rifaiyah,dan dr smua pertanyaan itu hanya kitalah generasi penerus prjauangan KH.AHMAD RIFAI yg bisa menjawabnya. dan saya rasa sbagian pertanyaan dan smangat “perubahan” itu sdh mulai trjawab dgn di proklamirkany TANBIHUN.COM ini. dan saya rasa kang yazid dan kang rifai patut di anugrahi gelar ‘PAHLAWAN PERUBAHAN” bg Rifaiyah,.saya rasa bg kang yazid+rifai ini bukan pujian tp mnjd cambuk pnyemangat bg program pencerdasan rifaiyah ttp istiqomah kang! LANJUTKAN..!
Apa yg di Tulis kang Yazid adalah refleksi kritis dan mendasar, mengingatkan –klw tidak mau disebut memaksa dan menuntut– kita semua untuk tetap menjaga keistiqomahan, memegang api semangat ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i dan terus bergerak mengimplementasikannya. Saya yg lahir dikeluarga dan lingkungan Rifaiyah di Menjangan dan justru sedikit banyak mendapat pendidikan dari luar, dan saya sendiri ragu apakah saya layak disebut sebagai orang Rifa’iyah atau bukan, merasa tergelitik dan terpanggil untuk melakukan apa yg saya bisa lakukan untuk kemajuan Rifa’iyah. Saya yakin orang yg “Rifa’iyah” nya lebih tebal dari saya akan lebih merasa tertampar dengan tulisan kang Yazid itu. Tapi bagi saya tidak penting tebal atau tipis ke Rifa’iyahan seseorang, tapi yang penting adalah apa kerja nyata kita untuk Rifa’iyah. Kang Yazid, Kang Rifa’i, Kang Asep dan yg lainnya, tlg tegur saya jika dalam satu bulan saya tidak memposting 1 tulisan (Terutama tulisan yg berstandar Ilmiah) ke Media ini. Ini komitmen.
Akhmad “Elang” Mutaqin
Menjangan-Bojong-Pekalongan
0812 1817 3817 / 0815 8643 5251
@Akhmad “Elang” Mutaqin,
saya sering mengatakan kalau saya ini bukan rifaiyah secara organisasi,karena hampir sudah muak dengan segala program2 yg terjepit diantara mu’tamar & mukernas,tidak bisa keluar dari situ, hanya karena ajaran Syaikh lah yang mendorong saya untuk ikut mensyi’arkan ijtihad2 beliau ke media ini, mungkin masih banyak kawan2 yang pernah “tersakiti” atau paling tidak kecewa karena “rifaiyah”.
saya juga sering mengibaratkan, seorang pemuda rifaiyah yang baru keluar dari pesantren/perguruan tinggi, dengan semangat yang masih berkobar2, pulang ke kampung halamannya, niat hati hendak mengamalkan ilmunya untuk lingkungan terutama dalam wawasan organisasi rifaiyah, tapi apa yang terjadi? mereka mendapat sambutan yg kurang mengenakkan badan,bahkan tak jarang berujung pada penghakiman, “aneh”,murtad,tidak rifaiyah lagi merupakan kata2 yang lazim dialamatkan kepada para pemuda ini.
ibarat pengantin baru,nafsu sedang menyala2 eeeeeee…..tiba2 siisterinya ngomel2 yg ga karuan2a, akhirnya hilang sudah semangat si suami…….lemeezzz…
buat yang pernah mengalami nasib serupa, jangan patah arang, lanjutkan cita2 dan ide2 yg sempat tertunda disini,dimedia ini kita bebas berkreasi asal tidak keluar dari pakem ijtihad guru besar kita,kalau pun harus intiqol madzhab harus sesuai dengan qaidah2 yang telah digariskan oleh imam2 madzhab.
salam tanbihun
tulisan perjalanan juga mau….Mas Elang kan pengembara…mengelilingi nusantara…berkelana….pengalamannya pasti tiada tara…kalo ditulis bisa kita ambil hikmahnya dan bikin kita terpana….
@ahsa,Insya Allah akan diusahakan di posting disini.. (Klw boleh sama operatornya dan ga di sensor… hahaha)Salam.
@Akhmad “Elang” Mutaqin,
sangat dinantikan kisah2nya ….
@em.yazid, Tampilannya Makin oke dan lebih menarik kang Yazid. Mantap..
baru punya ide juga lbh bagus, minimal hal akan memberi inspirasi untuk yg lain. nanti juga waktu yang akan menjawabnya. kadang kita hanya berfokus pada tujuan, tanpa pernah mau menikmati indahnya perjalanan. jatuh bangun, mlaku thimik2, trs mandeg lagi, itu juga juga hrs dinikmati, bahkan pertentangan, serta perebutan untuk menentukan sopir perjalanan indah juga untuk dinikmati….. semua harus disyukuri….