Beberapa hari yang lalu kita diramaikan dengan kedatangan hari Valentine (Valentine Day) atau hari kasih sayang. Sebagian orang tak menyetujui para remaja ikut-ikutan merayakan, bukan tak setuju pada kasih sayangnya yang sungguh diperintahkan oleh Nabi: “tidak beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri.”
Masyarakat muslim tidak setuju kepada Valentine Day kebanyakan didasari pada sentimen keagamaan. Valentine Day disinyalir berasal dari tradisi Kristen, karena memang Valentine adalah nama Santo dalam sejarah umat Kristen. Kasih sayang menurut hadis yang dikutip di atas harus terjadi tidak hanya pada hari-hari tertentu, tetapi harus berlangsung sepanjang menit dan detik. Karena tanpa kasih sayang, manusia tidak bisa dikatakan sebagai manusia yang utuh lagi. Secara akhlak seorang telah melepas imannya, walaupun sebagian orang mengartikannya tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Umat Kristen tentunya setuju juga kalau kasih sayang harus melekat pada setiap manusia. Ia melekat laksana hati pada diri manusia: di mana ada hati disitu ada cinta. Ia juga ibarat manis dan semut, dimana ada manis disitu ada semut. Kalau manusia yang perangainya tanpa cinta, maka dapat dibimbangkan keberadaan hatinya. Masihkah hatinya hidup, atau sudah padam tanpa cahaya kasih sayang. Kristen dikenal sebagai agama kasih, maka juga seharusnya pengikutnya berhati penuh cinta. Maka keberadaan Valentine Day hanya berfungsi sebagai simbol dari ekspresi kasih sayang sepanjang masa.
Kasih sayang merupakan bagian dari anatomi lahir batin manusia. Sedangkan hari kasih sayang hanya momentum untuk mengingat betapa cinta itu sangat penting. Dalam Islam pun dikenal simbol hari kasih sayang (yaumul marhamah). Hari kasih sayang itu yang mengetengahkan Nabi sendiri, yakni ketika Nabi hendak memasuki kota Makah pada hari ke dua puluh bulan ramadhan. Peristiwa ini juga disebut sebagai Fathul Makkah. Beliau bersabda: Hari ini adalah hari kasih sayang, Allah telah memuliakan orang-orang Quraisy, dan mengagungkan Kabah.
Kedatangan Nabi ke Makah membuat orang-orang Kafir Quraisy ketakutan. Mereka bertebaran melarikan diri ke segala penjuru. Padahal Beliau bersama sahabat datang dengan membawa kasih sayang dan perdamaian. Ummu Hakim, istri dari Ikrimah pada waktu itu memberanikan diri untuk menemui Rasulullah SAW, untuk memintakan perlindungan suaminya yang melarikan diri menuju ke Yaman. Setelah Ummu Hakim menghadap Rasulullah, beliau menjamin perlindungan bagi Ikrimah. Ikrimah pun pulang dari pelariannya dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Sudah tak terhitung sahabat Nabi yang masuk dalam kasih sayang Islam karena cinta yang terpancar dari aura Muhammad bin Abdullah.
Hari kasih sayangpun tentu dipunyai oleh warga Rifaiyah. Setiap bulan Rajab, warga Rifaiyah selalu menyelenggarakan peringatan Isra Miraj yang sangat kental dengan nuansa kasih sayang. Warga Rifaiyah menyelenggarakan peringatan yang menyedot pengunjung sampai ribuan ini dengan antusias. Mereka semua siap berkeringat gotong royong untuk mengangkat hajatan besar ini, diantaranya dengan mempersiapkan tempat yang senyaman-nyamannya untuk para hadirin-hadirat yang datang dari segenap penjuru dalam maupun luar kota.
Panitia dengan penuh pengorbanan menyiapkan tempat dengan lengkap dekorasi. Pada waktu istirahat, sudah sewajarnya panitia menyediakan snack ala sepantasnya dan kadang juga seenak mungkin. Setiap rumah akan menanggung 30 sampai 50 besek yang akan dihadiahkan sebagai cangkingan kepada setiap hadirin. Bahkan warga akan berusaha dengan mengganti dengan besek mentehan, seandainya pengunjung ada yang tak dapat besek.
Besek atau biasa juga dikenal sebagai berkat bagian terpenting dari peringatan rajabiah ala Rifaiyah. Berkat yang berasal dari kata Arab Barakah berarti mengandung unsur doa agar segalanya bisa tambah baik selepas mengikuti peringatan rajabiah ini. Sebagaimana arti barakah sendiri yang biasa dimaknai sebagai tambahnya kebaikan dalam kebaikan dari Allah SWT.
Kita semua sepakat bahwa mengunjungi peringatan rajabiah dan silaturahmi ke sanak kandang, sedulur, teman-teman, mutlak sebagai kebaikan. Dalam perilaku kebaikan itu akan ditambahkan lagi kebaikan-kebaikan yang lainnya, berupa tambahnya umur sebagai resiko silaturahmi, mendapatkan banyak pahala, tambahnya taqwa kita kepada Allah; Dijauhkan dari segala macam bala, karena ibu-ibu rata-rata membawa hadiah sebagai oleh-oleh sohibul hajjah, bukankah Shadaqah itu bisa menolak bala.
Pada hari itu, masyarakat saling menukar oleh-oleh, hadiah, dan menukar perasaan saling perhatian di antara mereka. Bisa dilihat beberapa orang membawa oleh-oleh sesuai dengan kesenangan orang yang dituju, baik kerabat, saudara, teman, atas saudara rifaiiyyin-rifaaiyyat.
Sudah menjadi maklum kalau warga Rifaiyah terkenal dengan keguyuban. Paling tidak keguyuban ini bisa terlihat dimana-mana, saat kekompakan menjadi semangat bersama dalam menyelenggarakan Festival, Hari besar Islam, Pengajian Selapanan, dan majlis-majlis lainnya. Ketika beberapa kali penulis mengunjungi pengajian selapanan di Wonosobo, terlihat jelas makna silaturahmi yang syarat perjuangan. Beberapa pengunjung datang dari lokasi berkilometer dengan berjalan kaki, juga kadang menggendong anak-cucu mereka untuk sebuah cita-cita jalinan cinta atau yang biasa disebut sebagai silaturahmi.
Hari kasih sayang Rifaiyah lainnya adalah hari Idul Fitri. Pada hari itu, semua warga Rifaiyah saling berkunjung secara berombongan. Mereka berkunjung ke sanak famili, teman-teman, dan para sesepuh untuk mengetengahkan bahasa hati dengan kalimat:
Sepindah Kerawuhan/Kulo lan sak Rombongan/Silaturahmi enten dalem jenengan/Kaping kalih mboten sanes ngaturake sedoyo kalepatan/Dlohir lan batin/Ghasab, ghibah ingkang/Samar lan kinaweruhan/Kulo jaluk halale lan/Mugiyo Panjenengan ngapunten
Lan nyuwun Pandongan/Mugiyo Jembar kalangan/Barakah risqi ingkang halal lan thayyiban/Tambah ilmu kang manfaat dunya akheratan/tetep Islam Dawam/Mati dipungkasi Khusnul Khotimah gowo Iman
(Pertama kedatangan kami/Satu rombongan bertujuan silaturahmi/Kedua kalinya kami/Menyatakan apabila ada kesalahan lahir maupun batin/Baik ghazab, ghaibah, yang samar maupun yang terang/Saya meminta semua itu dihalalkan/Dan mudah-mudahan anda memaafkan)
(Dan meminta doa/Agar diberi kelapangan hati/Berkah riski yang halal dan baik Tambah ilmu yang bermanfaat dunia sampai akherat/Juga tetap istiqomah memeluk Islam/Meninggalkan dunia dengan khusnul khotimah membawa Iman).
Terus biasanya dijawab oleh tuan Rumah:
Sak walike kulo/Lan sak keluarga/Mbok menawi enten salah/Ghazab ghaibah ingkang samar lan kinawaruhan/Tak jaluk halale lan keridloan/Mugiyo Allah ngapunten dateng kita sedoyo/Aku lan sak keluarga/Nuwun tambah dunga/Mugiyo panjang umur lan sehat/Barakah risqine, ilmune manfaat/Mati dipungkasi khusnul khotimah/Islam, iman dawam lestari ngantos akherat/
(Sebaliknya saya dan keluarga/Apabila ada kesalahan/Ghazab, Ghibah yang samar atau terang-terangan/Saya meminta kehalalan dan keridloan/Mudah-mudahan Allah memberi ampunan/Saya dan keluarga/Minta tambah doa/Mudah-mudahan panjang umur dan sehat/Barakah rizqinya dan ilmunya manfaat/Meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah/Islam Iman berlanjut sampai akherat).
Terus dipungkasi dengan doa bahasa Arab.
Hari kasih sayang idul fitri ini biasanya sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya oleh semua warga. Diantara ibu rumah tangga menyicil untuk membuat panganan yang akan disuguhkan kepada tamu yang datang pada hari kasih sayang. Karpet, babut, dan semua isi rumah telah dibersihkan pada bulan puasa. Bahkan sudah lazim bagi semua warga untuk mengecat rumahnya, membarui segala hal yang tampak. Semua itu dilakukan untuk menyambut hari kasih-sayang Rifaiyah, juga hari kasih sayang buat umat Islam di seantereo jagat. Walaupun ada istilah bahwa hari Idul Fitri itu bukan ditandai memakai pakaian baru, tetapi hari id adalah tambahnya taqwa bagi setiap hamba.
Semua yang baru yang ditampakkan oleh warga. Bukan berarti mengingkari makna dari kefitrahan, justru apa yang nampak baru itu sebagai simbol kefitrian. Memasuki hari kasih sayang fitri, berarti kita laksana dilahirkan kembali, segalanya harus baru, laksana bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Apa yang nampak dan yang abstrak harus baru.
Kalau dulu anak Adam penuh kemaksiatan kepada Allah, maka janji Allah melalui hadis Nabi: Siapa yang berpuasa penuh selama sebulan pada bulan ramadhan akan diampuni dosanya yang telah lampau dan yang akan datang. Seperti kaca manusia yang terkena debu dosa, dan noda itu dienyahkan dengan keikhlasan berpuasa, maka kaca hatipun bening laksana kaca baru. Maka tak hanya hati yang baru, tetapi perangaipun harus baru, yang nampak pun dibarukan untuk mendorong kebaruan dalam batin.
Hati setiap manusia akan terenyuh ketika semua warga dari yang belasan tahun sampai yang kakek-kakek berkunjung untuk saling mengakui kesalahannya; saling meminta maaf dan saling memaafkan; saling bercanda mengabarkan sesama dan saling mendoakan. Semua itu bagian dari ekspresi cinta dan kasih sayang. Demikian Islam mengajarkan tentang kasih sayang yang telah dalam bingkai budaya masing-masing.
Paesan, 14 Maret 2010
Ahmad Saifullah






kasih sayang mempu meresap sampai ketempat dimana air tidak bisa menjangkaunya
@em.yazid, luar biasa kata-kata itu Kang….sedikit tapi romantis…dan menginspirasi…
Menciptakan simpati kepada orang lain adalah kemampuan yang luar biasa untuk mengatasi kemurnian jiwa. Dan simpati dengan kata pujian adalah ucapan terindah.
kasih sayang pada hari Valentine sebagai ekspresi besar berasal dari perasaan yang teramat dalam,dan kadang bisa meneteskan air mata kebahagiaan.Asalkan air mata adalah nyata dan bukan air mata buaya.Orang yang banyak menangis,mereka lebih bahagia daripada mereka yang menahan tetes air matanya.
Air mata kebahagiaan mampu mencuci dan melembabkan luka dan kadang-kadang tanpa kata-kata bisa di terjemahkan. Air mata bahagia adalah suatu tanda besar dari kedewasaan dan kekuatan jiwa