3:51 am - Kamis,24 Mei 2012

Saya Bukan Rifaiyah, Tapi Santri Tarjumah !

Sabtu, 27 Maret 2010 11:34 | Rifaiyah | 3 Comments | Read 205 Times

Tanbihun- Ta’dhim atau penghormatan dari santri kepada kyainya itu memang wajib, tapi bagaimana jika sam’an wa to’atan(mendengar dan mentaati) secara mutlak?tanpa memperdulikan salah/benar? dalam kata lain bisa disebut taqlid buta. kenyataan ini diakui memang ada meski tidak semuanya.

Seorang santri akan terbentur dinding dilema, manakala didapati kyainya khilaf, hatinya termangu diantara mau mengingatkan dan membiarkan, kenapa bisa terjadi demikian? menurut pendapat penulis pribadi paling tidak ada 2 penyebabnya,dan keduanya saling mempengaruhi satu sama lainnya, tidak bisa dipisahkan ;

  1. Otoriternya kyai, sebagian kyai ada yang bersikap keras, ia merasa dirinya diatas santri-santrinya,terutama dalam segi pengetahuan, dari hati yang merasa diri lebih unggul ini akan timbul sikap menutup diri dari masukan atau teguran dari pihak luar. dan yang lebih tragis lagi ada yang tidak segan-segan memarahi santrinya yang berani mengingatkannya ketika ia salah, tak cukup dimarahi kadang diikuti dengan memvonis santrinya membangkang,ujung-ujungnya santri tersebut disumpahi ilmunya tidak berkah.
  2. Taqlid buta santri, seperti telah disinggung diatas, sebagian santri sering menyalah artikan ta’dhim, mereka merasa telah melanggar aturan (ta’dhim) jika berani mengingatkan kyainya, parahnya lagi jangankan mengingatkan,untuk mengemukakan pendapat saja mereka sungkan.

Dua faktor ini saling mempengaruhi dan saling membawa dampak, sudah sepatutnya kyai harus memberi contoh bahwa dirinya pun manusia biasa yang bisa saja khilaf dan disaat itu terjadi santri harus berani mengingatkan, seperti halnya ketika imam salah, makmum harus berani mengingatkan. Demikian juga dengan santri selayaknya harus bisa meletakkan rasa hormat pada tempat dan waktu yang seharusnya, jangan sampai rasa ta’dhim yang tidak pada tempatnya menyebabkan gurunya semakin tergelincir dalam jurang khilaf.

Konon, 2 faktor ini pula yang sebenarnya menjadi cikal-bakal terkotak-kotaknya santri rifaiyah, ada yang anti pati dengan organisasi rifaiyah, alasannya karena fatwa dari gurunya yang melarang santri-santrinya masuk atau mengakui organisasi rifaiyah.  ini yang  jarang kita ketahui, sejarah “asbabul nuzul” sering terlupakan atau memang sengaja ditutupi oleh pihak-pihak tertentu.

Untuk lebih detailnya Insaya Alloh akan penulis lanjutkan lain waktu, penulis mengharapkan saran dari ikhwan semua, apakah sejarah-sejarah kelam itu harus dikuak disini? atau kita biarkan saja menjadi masa-lalu yang efeknya masih dapat kita lihat dan rasakan sekarang. Setidaknya sebagai generasi penerus kita bisa belajar dari sejarah pendahulu dengan segala nuansanya.

Oleh : Em. Yazid

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Blogger yang selamanya jadi murid ... ... ... ...

Kama qola (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner