Tanbihun- Ta’dhim atau penghormatan dari santri kepada kyainya itu memang wajib, tapi bagaimana jika sam’an wa to’atan(mendengar dan mentaati) secara mutlak?tanpa memperdulikan salah/benar? dalam kata lain bisa disebut taqlid buta. kenyataan ini diakui memang ada meski tidak semuanya.
Seorang santri akan terbentur dinding dilema, manakala didapati kyainya khilaf, hatinya termangu diantara mau mengingatkan dan membiarkan, kenapa bisa terjadi demikian? menurut pendapat penulis pribadi paling tidak ada 2 penyebabnya,dan keduanya saling mempengaruhi satu sama lainnya, tidak bisa dipisahkan ;
- Otoriternya kyai, sebagian kyai ada yang bersikap keras, ia merasa dirinya diatas santri-santrinya,terutama dalam segi pengetahuan, dari hati yang merasa diri lebih unggul ini akan timbul sikap menutup diri dari masukan atau teguran dari pihak luar. dan yang lebih tragis lagi ada yang tidak segan-segan memarahi santrinya yang berani mengingatkannya ketika ia salah, tak cukup dimarahi kadang diikuti dengan memvonis santrinya membangkang,ujung-ujungnya santri tersebut disumpahi ilmunya tidak berkah.
- Taqlid buta santri, seperti telah disinggung diatas, sebagian santri sering menyalah artikan ta’dhim, mereka merasa telah melanggar aturan (ta’dhim) jika berani mengingatkan kyainya, parahnya lagi jangankan mengingatkan,untuk mengemukakan pendapat saja mereka sungkan.
Dua faktor ini saling mempengaruhi dan saling membawa dampak, sudah sepatutnya kyai harus memberi contoh bahwa dirinya pun manusia biasa yang bisa saja khilaf dan disaat itu terjadi santri harus berani mengingatkan, seperti halnya ketika imam salah, makmum harus berani mengingatkan. Demikian juga dengan santri selayaknya harus bisa meletakkan rasa hormat pada tempat dan waktu yang seharusnya, jangan sampai rasa ta’dhim yang tidak pada tempatnya menyebabkan gurunya semakin tergelincir dalam jurang khilaf.
Konon, 2 faktor ini pula yang sebenarnya menjadi cikal-bakal terkotak-kotaknya santri rifaiyah, ada yang anti pati dengan organisasi rifaiyah, alasannya karena fatwa dari gurunya yang melarang santri-santrinya masuk atau mengakui organisasi rifaiyah. ini yang jarang kita ketahui, sejarah “asbabul nuzul” sering terlupakan atau memang sengaja ditutupi oleh pihak-pihak tertentu.
Untuk lebih detailnya Insaya Alloh akan penulis lanjutkan lain waktu, penulis mengharapkan saran dari ikhwan semua, apakah sejarah-sejarah kelam itu harus dikuak disini? atau kita biarkan saja menjadi masa-lalu yang efeknya masih dapat kita lihat dan rasakan sekarang. Setidaknya sebagai generasi penerus kita bisa belajar dari sejarah pendahulu dengan segala nuansanya.
Oleh : Em. Yazid
Kama qola (1)






Nasi kalau dimakan dengan lauk dan sayur, pagi-pagi pasti keluar menjadi hal yang berubah bentuknya: biasa disebut tahi. itu namanya didalam tubuh kita ada pencernaan melalui mulut, lambung usus dan sampai buang hajat. tetapi banyak orang yang taklid itu gak berani mencerna. jadi kalau yang dimakan nasi pagi-pagi akan keluar nasi lagi. input pengetahuan dari Guru bilang bahwa bintang kecil dilangit yang biru maka selamanya dia akan bilang bahwa bintang di langit yang biru. Padahal kalau berani mencerna sedikit saja maka dia tak akan percaya pada kebohongan lagu itu. kaerna selamanya bintang itu kelihatan pada malam hari, dan selamanya langit malam tak kan pernah menampakkan wajah kebiruannya, tetapi kehitamannya. maka tak mungkin bintang kecil kelihatan pada siang hari. maka di dalam kitab-kitab itu kebanyakan Qola, bukan qultu. orang-orang takut berijtihad karena para alim mematok standar orang yang berijtihad harus hapal ini dan itu. maka jangan memubadzirkan indera, otak, akal kita yang kalau tak dipakai untuk mencerna akan semakin aus. printer aja kalo gak kepake setengah bulan pasti bermasalah. input kita boleh bermacam-macam pengetahuan asal outputnya hasil pencernaan dan olahan kita sendiri. Nabi sendiri bersabda “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. Nabi tidak bersabda “shalatlah kamu sebagaimana aku shalat.” pada sabda itu ada toleransi untuk berpendapat yang diberikan oleh Nabi kepada sahabat-sahabatnya. maka tradisikan qultu bukan kama qola lagi.
emang bedae opo antara santri tarjumah dan rifaiyah?
itu yg mesti di jawab ndisik, dan apa ukuranya seorang itu dikatakan tarjumah and juga dikatakan rifaiyah.
kalo santi tarjumah di definisikan dengan santri yg mengamalkan dan berpegang hanya kitab tarjumah, dalam prakteknya klo ada masalah referensinya atau marji’nya selalu bukan kitab tarjumah, klo bahsul masalain yg di pake untuk pegangan pasti bukan kitab tarjumah, apa itu juga msh dikategorikan santyri Tarjumah?
klo rifaiyah, tentunya adalah santri yang ikut atau masuk ke jamaah Rifaiyah. Rifaiyah itu adalah sebuah organisasi. kenapa namanya rifaiayah? mungkin karena yg menjadi sentral organiosasi ini adalah syeh Rifai…. so bener juga tidak semua santri tarjumah itu menjadi santri Rifaiyah. mungkin juga ada santri rifaiayah dan bukan tarjumah.
Jadi kalo ada yg bilang saya santri tarjumah dn bukan santri Rifaiyah, ada benarnya juga. karna itu tidak semua santri tarjumah otomatis jadi santri Rifaiyah.
taklid buta seperti inilah yang jadi masalah. tapi kalo dikasih tau ujung2nya bakal bilahng: “tu si anu anti sama taklid, apa dia tu mujtahid bla bla bla”
waduh!