4:18 am - Kamis,24 Mei 2012

SEJARAH ZIONISME

Selasa, 5 Januari 2010 0:38 | Sejarah | 9 Comments | Read 258 Times

zionisme1Pendahuluan

SEJARAH ditulis berdasarkan kemampuan manusia membaca literatur, dan peninggalan-peninggalan masa lalu. Tetapi adapula sejarah yang ditulis berdasarkan kepentingan penguasa, sehingga kebenarannya seringkali diabaikan. Sejarah semacam itu ditulis dengan tujuan agar masyarakat mengagungkan penguasa dan mengamini jasa dan kebijakan-kebijakannya. Untuk kepentingan penguasa, sejarah dihalalkan untuk di sabotase, sehingga pembodohan masal berlangsung.

Supersemar, serangan satu maret, PKI, dan historigrafi Indonesia pada umumnya, menurut Asvi Warman Adam, selaku sejarawan senior LIPI berlumuran kepentingan-kepentingan penguasa. Sehingga pada masa lalu ada istilah pembredelan, pelarangan peredaran buku merupakan bentuk kekhawatiran penguasa terhadap terkuaknya kebenaran sejarah yang akan mengancam status quo.

Sejarah yang ditulis pada zaman tertentu belum tentu di amini oleh zaman lainnya. Karena setiap masa dalam sejarah manusia selalu terdapat ruh zaman (zeitgheist) yang berbeda, masing-masing generasi mempunyai fersi sejarahnya. Maka dianjurkan setiap generasi menuliskan sejarahnya. Hal tersebut disebabkan karena penemuan literatur dan bukti sejarah baru turut menyumbang pembacaan baru atas sejarah, dan perkembangan metode dan ilmu sangat menentukan perkembangan historiografi.

Meminjam kategorisasi Muhammad Arkoun dalam membaca sejarah, dapat ditemukan istilah “sesuatu yang belum terpikirkan” pada tempoe doeloe, pada sekarang menjadi “terpikirkan”. Ketika saya duduk di bangku stanawiyah dulu belum memikirkan bahwa PKI ternyata beranggotakan orang-orang Islam, bahkan ulama, karena buku-buku pelajaran sejarah tidak pernah menyatakan hal itu. Yang ada dalam buku sejarah bahwa PKI adalah partai komunis yang atheis anti Tuhan, sehingga tak mungkin beranggotakan orang-orang beragama. Konstruk sejarah yang minor mendekte kognisi manusia untuk menyalahkan korban (victimizing).

Perkembangan ilmu menyumbang terhadap perkembangan historiografi. Syahrur yang berujar bahwa zaman sekarang lebih kompatibel untuk membaca sejarah daripada masa lalu, karena perkembangan ilmu pengetahuan telah menjadi seperangkat alat pembaca atas sejarah. Pembacaan sejarah model interdisipliner tentunya lebih lengkap dalam membaca fakta dan dokumen sejarah dari pada hanya mengandalkan satu perangkat ilmu pengetahuan. Pendekatan sejarah multi disipliner itu dikenal sebagai total history yang dikembangkan oleh sejarawan kenamaan Perancis Denis Lombard. Aplikasi sejarah total ada pada magnum opus nya Nusa Jawa Silang Budaya.

Gambaran historiografi di atas juga terjadi pada sejarah peradaban lainnya. Sejarah ras manusia pada zaman nazi dibedakan menjadi beberapa ras, dan yang diyakini sebagai ras paling mulia dan pertama adalah ras Arya. Pandangan rasis tersebut menghasilkan genosida atas ras-ras lainnya. Pertarungan sejarah juga terjadi tentang banyaknya korban pembunuhan rasisme ala nazi. Versi korban mengatakan bahwa warga Yahudi yang dibunuh Hitler mencapai tujuh juta. Versi sejarah lainnya, termasuk Roger Garaudi membantah fakta tersebut. Tuduhan mereka yang tidak setuju berujar bahwa jumlah tujuh juta terlalu di mark up untuk kepentingan politis zionisme pasca perjanjian Boulfour, untuk mencari simpati dunia agar negara Yahudi segera terbentuk, sehingga para semit itu tidak mengalami diaspora lagi.

Perang argumen atas keberhasilan armada laut juga menjadi perbincangan tersendiri. Banyak orang menganggap bahwa rombongan Vasco da Gama dan Columbus adalah armada terbesar dan awal penjelajah dunia. Sehingga dikabarkan ekspedisi itu awal dari penemuan beberapa teknologi, termasuk kompas. Sumber sejarah lain membuktikan bahwa ratusan tahun sebelum perjalanan Vasco da Gama, laksamana Ceng Ho dari dinasti Ming telah lebih dulu menjelajah belantara lautan dan daratan keseluruh penjuru pelosok dunia. Perjalanan pasukan Cheng Ho pada masa silam telah mencapai daratan Afrika. Bukti sejarah ditemukan bahwa kompas pada tahun 1000 M telah di pakai kebanyakan navigator Cina.

Penemuan bukti-bukti sejarah baru membuat tandingan atas dominasi sejarah yang selama ini dituliskan sekaligus menjadi pembelaan peradaban tertentu terhadap peradaban lainnya (baca timur vs barat). Timur dan barat juga ditentukan atas penulisan sejarah. Karena masing-masing peradaban secara psiko-peradaban tak mau di anggap lemah, dan masing-masing peraban menginginkan lebih mulia dari peradaban lainnya, maka apabila kemuliaan itu tidak dicapainya pada masa sekarang, secara otomatis bukti sejarah menjadi stempel dan pembelaan diri (apologi) atas kejayaan-kejayaan masa silam yang pernah dicapai peradaban tertentu. Penemuan baru atas kejayaan pelayaran armada laut Cheng Ho memberikan stempel heroik kejayaan dunia timur atas barat.

SEPERCIK SEJARAH ZIONISME

HIJRAHNYA Yahu­­­­­di ke Palestinaa adalah hasil inisiatif gerakan Zionis sedunia. Ide ini terwujud pasca perjanjian Zionis pertama World Zionist Organisation (WZO) pada tahun 1897 di Basle, Switzerlandlah yang menjadi titik tolak imigrasi tersebut. Walau bagaimanapun imigrasi Yahudi hanya berlaku 20 tahun setelah perjanjian itu. Tepatnya setelah Sir Arthur Belfour, seorang Zionis Kristian yang menjadi Menteri Luar Kerajaan Inggris mengizinkan perpindahan Yahudi dari seluruh dunia ke bumi Palestina melalui satu deklarasi yang dikenali sebagai “The Balfour Declaration” pada tahun 1917.

Untuk menyikapi isu Palestina, seseorang sebaiknya melihat proses sejarah awalmula zionisme terbentuk, dan tidak hanya melihat keterpotongan sejarah dan isu politik yang terjadi. Karena tanpa melihat itu, para sarjana banyak yang terjebak pada anggapan bahwa isu Palestina adalah isu percekcokan antara dua bangsa yang memperebutkan hak atas sebidang tanah. Perlu dipahami, bahwa isu palestina tidak diawali dengan perebutan tanah. Tetapi hal itu bermula ketika bangsa Yahudi datang dari segenap pelosok dunia meninggalkan tanah air mereka berhijrah ke bumi Palestina lantas menjajah bumi tersebut dan mengusir penduduk asalnya.

Bangsa Yahudi bukan dari satu kelompok. Pada awalnya ia bangsa yang bernasib tak mujur, karena mereka selalu mengalami diaspora, menyebar di seluruh pelosok dunia. Bagi Yahudi keturunan dari Ashkenazi, yang berasal dari wilayah Khazar Rusia, menurut Arthur Kostler pengarang buku The 13th Tribe- kebanyakan mereka datang dari Eropa, Rusia, Eropa barat, Amerika dan juga Amerika Selatan. Bagi Yahudi keturunan Shepardi (Yahudi dari keturunan Bani Israel) kebanyakan mereka datang dari Iraq, Yaman, Maghribi, negara-negara Arab yang berdekatan dan juga dari negara-negara Afrika. Gerakan Zionislah yang menyatukan mereka di bawah satu cita-cita dan akhirnya mereka berkumpul di bumi Palestina yang mereka namakan sebagai “Erezt Yizrael” (Bumi Israel). Buku Theodore Herzl (penggagas gerakan Zionis) yang berjudul Der Junder Staadt (The Jewish State) pada tahun 1896 telah meniupkan semangat baru kepada mereka untuk berhimpun di bumi Palestina setelah sekian lama mereka tinggal bertebaran di seantereo dunia.

Persoalannya motivasi apakah yang membuat mereka menjadi bernafsu meninggalkan tanah kelahiran mereka di Eropa, Amerika dan di seluruh dunia untuk mendiami padang pasir Palestina. Dalam kasus ini kita dapat merujuk Kitab Perjanjian Lama (old testament) yang menjadi rujukan utama para agamawan Yahudi. Kita juga dapat merujuk kepada tulisan-tulisan para sarjana Yahudi yang dianggap mempunyai otoritas dalam bidang sejarah Yahudi.

Menurut kajian sejarah, sebab utama yang membawa kaum Yahudi hijrah ke bumi Palestina adalah karena doktrin agama. Bagi kaum Yahudi, entah itu mereka yang taat terhadap ajaran Yahudi, atau mereka yang sekuler, tetap meyakini bahwa Palestina merupakan tanah yang dijanjikan oleh Yahweh (Tuhan umat Yahudi) kepada bangsa Yahudi. Teori ini mendapat banyak kritikan dari sarjana Yahudi dari kalangan liberal sampai ortodok. Bagi para pengkritik, agama bukan faktor utama yang memotivasi kaum Yahudi dari pelosok dunia untuk berhijrah ke Palestina. Menurut mereka faktor politik, sosio ekonomi, pengaruh paham Nasionalisme di Eropa, kolonialisme, anti-Semitik yang mendominasi masyarakat barat ketika itu yang menjadi penggerak dan ide negara Israel untuk orang Yahudi.

Pandangan pertama kebanyakan dianut oleh mereka yang berkebangsaaan Yahudi dan beriman bahwa Yahweh yang telah menjanjikan kepada Bangsa Yahudi bumi Palestina melalui Nabi Ibrahim di dalam kitab Perjanjian Lama yang berbunyi: “Unto thy seed will I give this land” “Dan kepada keturunanmu akan kuberikan tanah ini”, (Genesis/Kejadian 12:7.)

Juga disebutkan dalam Genesis/Kejadian 13:15, “tanah” yang dijanjikan itu diperinci sebagai: “All the land which thou seest to thee will I give it and to thy seed for ever” (Seluruh tanah yang dapat kamu lihat sehingga akan ku berikan kepada keturunanmu selama-lamanya). Firman itu disampaikan ketika Nabi Ibrahim berdiri di atas bukit berdekatan dengan Bethel.

Lebih terperinci lagi, di dalam Genesis/Kejadian 15:18 disebutkan: “Unto thy seed have I given this land, from the river of Egypt unto the great river Euphrates.” (Untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir (Nil) sampai sungai besar Euphrates)

Theodore Herzl yang merupakan seorang atheis, meletakkan dasar negara Israel (Erez Yizrael) juga merujuk kepada Kejadian 15:18. Persoalannya di sini, adakah bukti-bukti dari “Taurat” yang menjadi legitimasi kepulangan mereka ke bumi Palestina? persoalan ini telah dijawab oleh pakar-pakar perjanjian lama dari beberapa sudut pandang.

Jawaban itu diantaranya penafsiran atas kata thy seed atau mereka yang berhak mewarisi bumi Palestina, terutama kota Baitul Maqdis yang mereka sebut sebagai Yerusalim. Apakah lafadz thy seed itu berarti hanya merujuk kepada bangsa Yahudi. Dr. Alfred Guillaume, Profesor dan pakar studi Kitab Perjanjian Lama (Old Testament Studies) dari University of London menyatakan:

“Generally supposed that these promises were made to the Jews and no to the Jews alone. But that is not what the Bible says. The words “to thy seed” inevitably include Arabs, both Muslims and Christians, who claim descent from Abraham through his son Ishmael”

Menurut Guillaume, ayat di dalam Genesis, 21:10-12 merupakan tafsiran atas lafad thy seed, sebagaimana Yahweh telah berkata kepada Ibrahim:

“Let it not be grievous in thy sight because of the lad and because of thy bondwoman; in all that Sarah saith unto thee hearken unto her voice: for Isaac I shall seed be called unto thee. And also the son of the bondswoman (Ishmael) will I make a nation, because he is thy seed.

Guillaume menambahkan bahwa tidak benar keturunan Isaac (Ishaq) dijuluki sebagai Israelites (Bani Israel), yang benar sebagai bani Israil adalah keturunan dari Ismail, karena Ismail yang paling sesuai untuk dinisbatkan kepada Ibrahim, dan dari keturunan Ismaillah yang paling layak menyandang thy seed.

Tambah Guillaume, apabila perjanjian yang Yahweh berikan kepada Nabi Ibrahim untuk mewarisi bumi Kan’an (Palestina) kepada keturunannya, yakni keturunan Ismail. Logiknya, menurut beliau, pewarisan tersebut dilakukan ketika upacara khitan salah seorang anak Ibrahim (Kejadian, 17:8). Jelas di dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa yang dikhitan adalah Ismail, dan Ishaq belum lagi dilahirkan pada waktu Ibrahim mengkhitankan Ismail.

Menurut Arthur Koesler, seorang pakar sejarah, kebanyakan bangsa Yahudi yang mendukung ide Zionisme dan juga ide hijrah ke bumi yang dijanjikan adalah Yahudi dari keturunan Ashkenazi. Yahudi Ashkenazi bukanlah dari keturunan Bani Israil (Yaaqub), tetapi dari bangsa Rusia Khazar yang telah memeluk agama Yahudi. Boleh dikatakan 70% Yahudi yang ada di bumi Palestina adalah mereka keturunan Yahudi Ashkenazi. Oleh karena itu, mereka tidak layak untuk mendapat gelar “thy seed”, karena tidak ada hubungan langsung dengan Nabi Ibrahim.

Ketiga, jika memang bumi Palestina dijanjikan kepada kaum Yahudi. Mereka berhak menduduki bumi tersebut (hanya sebagian). Yahudi telah kehilangan dan meninggalkan tanahnya sebanyak dua kali. Pertama saat mereka diserang oleh Nebuhadnezar pada tahun 586 S.M dan serombongan berhijrah ke Babylon, dan yang kedua pada tahun 70 M saat mereka diserang oleh Titus dari Empayer Roman, yang telah menyaksikan Yahudi terakhir meninggalkan bumi Palestina pada tahun 132M. Artinya, kalau memang Palestina adalah tanah yang dijanjikan. Pewarisan atas tanah itu sudah batal, karena umat Yahudi tidak bisa menjaganya. Yahweh telah menunaikan janji tersebut dan mereka gagal menjaganya. Janji tersebut hanya berlaku bagi perjanjian awal dan tidak berlaku bagi perjanjian kedua dan ketiga.

Bagi golongan yang menggunakan alasan agama, mereka berdalilkan pendudukan Bani Israel di bumi tersebut di zaman Yoshua bin Nun, zaman Daud dan Sulaiman yang pernah memerintah kawasan tersebut dan juga keturunan mereka yang berkuasa untuk beberapa abad seperti terdapat di dalam surat “The Kings” perjanjian lama. Hujah ini bukan hanya diamini oleh kaum Yahudi, juga dipercaya oleh segolongan umat Kristen Protestan (kini mereka mempunyai institusi yang bernama “International Christian Embassy in Jerusalem” (ICEJ) yang berpusat di Baitul Maqdis dan merupakan penyokong kuat ide pembentukan negara Yahudi).

Kaum Yahudi diriwayatkan di dalam Old Testament telah mendiami dan berkuasa di bumi Palestina. Maka mereka juga berhak untuk kembali mendiami bumi tersebut karena nilai-nilai sejarah dan kenangan bangsa Yahudi yang terdapat di bumi Palestina. Maka usaha-usaha untuk mengembalikan mereka juga merupakan satu usaha yang bersifat “ketuhanan” dan bertepatan dengan kandungan Perjanjian Lama dan usaha mengulangi kegemilangan zaman para Nabi.

Dalil di atas telah ditolak oleh golongan Yahudi Ortodoks yang berpegang dengan ajaran Yahudi otentik seperti golongan Naturei Karta yang bermazhab Hesedim. Menurut mereka, akidah sebenarnya kaum Yahudi mengatakan bahwa setelah mereka diusir dari bumi Palestina di zaman Nebuchadnezzar, mereka tidak boleh lagi pulang ke negerinya tersebut, sampai datangnya Messiah di akhir zaman yang akan membawa mereka pulang dan memimpin mereka. Selagi Messiah ini tidak muncul, kaum Yahudi haram pulang ke bumi nenek moyang mereka. Ini jugalah merupakan inti ajaran Talmud (Meshna Tora) yang merupakan kitab penafsiran kepada Old Testament mereka.

Sewaktu gerakan Zionis muncul pada tahun 1897 dengan ide Herzl untuk mengembalikan orang Yahudi ke bumi Palestina dan menumbuhkan negara mereka sendiri, kaum Yahudi Ortodoks menentangnya. Rabbi-rabbi Yahudi di Eropa juga telah mengeluarkan fatwa bahwa Herzl telah murtad dan gerakan Zionis adalah sebuah gerakan sesat menyesatkan. Kalau seandainya tidak ada fatwa Rabbi Cook The Elder pada tahun 1925 dan juga peristiwa Holocaust serta sokongan Kaum Zionis Kristian di Eropa, niscaya projek Zionis tidak akan mendapat sokongan mayoritas kaum Yahudi. Oleh sebab itulah sehingga kini terdapat segelintir kaum Yahudi Ortodoks di Eropa, AS dan juga negara-negara Arab dan di Afrika Selatan yang menentang ide negara Israel dan juga gerakan Zionisme.

Bagi Micheal Prior, Illan Papei dan juga Elizabeth Barlow (lihat: Prior 2005, Speaking the Truth), mereka semua mengutarakan kritikan yang amat menarik. Bagi mereka kekeliruan para penganut Kristen Protestan yang menjadi penyokong dan penggerak Kristen Zionis adalah karena kesalahan mereka dalam memahami teks Perjanjian Lama. Mereka seharusnya membaca semua yang terkandung di dalam surat Raja-raja (The Kings) itu sebagai bahan atau cerita sejarah dan bukannya satu perintah suci untuk merebut kembali tanah yang dijanjikan itu. Menurut Barlow, tidak ada dalil di dalam kitab Perjanjian Lama yang menyuruh penganut agama Yahudi maupun Kristen untuk mengulangi peristiwa tersebut dengan membawa pulang kaum Yahudi ke bumi Palestina. Itu semua merupakan penafsiran yang jauh dari kehendak nash-nash kitab Perjanjian Lama.

Apapun dalil mereka, jelas penafsiran mereka terhadap agama dan -kitab suci mereka sangat goyah. Kebanyakan penafsiran golongan Zionis dilakukan demi menjustifikasi keberadaan mereka di bumi Palestina. Golongan Zionis yang menyadari bahwa projek Erezt Yizrael adalah bertentangan dengan aqidah Kaum Yahudi. Mereka terpaksa mencari tafsiran kitab Taurat (Torah) demi menyokong usaha mereka yang semata-mata timbul atas pengaruh Nasionalisme dan Imperialisme yang begitu kuat di Eropa pada waktu kemunculan ide persatuan Yahudi seluruh dunia. Tidak heran mengapa Herzl di akhir hayatnya mengubah pendiriannya untuk memindah Erezt Yizrael dari Palestina ke bumi Uganda. Kalau memang perintah kudus, mengapa boleh bertukar-tukar tempat pula? Apa kata dunia?

Diramu dari berbagai sumber.

Ahmad Saifullah

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Tagged with:

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner