Menghapus Trauma dan Mengangkat Ummat dengan Tasawwuf
Seorang ahli fiqih terkemuka di Madinah pada awal periode setelah wafatnya Rasulullah saw. adalah Ali bin Husein bin Ali bin Abi Talib yang lebih dikenal dengan nama Zainal Abidin yang berarti ‘panutan para ahli ibadah’. Dia adalah cicit Nabi Muhammd saw., cucu Ali bin Abi Talib ra., putera Husein yang menjadi korban pembantaian yang dilakukan tentara Yazid bin Mu’awaiyah pada 10 Muharram 61 H di Karbala.
Zainal Abidin ditawan kemudian dibawa ke Kufah, dihadapkan pada gubernur Ubaidullah bin Ziyad yang membawanya ke Damaskus untuk diajukan pada peradilan Khalifah Yazid. Namun akhirnya dibebaskan dan diantar ke Madinah, kota tempat Rasulullah saw. dimakamkan.
Trauma berat yang dialaminya menyebabkan dia memilih jalan hidup yang menjauhi kekejian dan kesesatan, mendekat pada keridho’an Allah swt. Waktunya dihabiskan untuk beribadah, memperdalam ilmu Fiqih dan bersujud, sehingga mendapat nama tambahan As Sajjad yang berarti orang yang senang sujud.
Puteranya yang bernama Imam Muhammad al Baqir, berceritera tentang ayahnya: “setiap kali mendapat nikmat Allah, ayah langsung bersujud, setiap kali beliau membaca ayat Al Qur’an tentang sujud langsung bersujud. Setiap kali selesai shalat fardhu langsung bersujud. Setiap kali berhasil mendamaikan orang yang berselisih, ayah langsung melakukan sujud. Disebabkan sering bersujud, tampak bekas dikeningnya, sehingga beliau dijuluki As Sajjad”.
Pada diri Zainal mengalir darah Quraisy berasal dari ayahnya, dan darah bangsawan ibunya yang bernama Sulafah, puteri raja Persia. Dia lebih mengandalkan pada amal dan ibadahnya sendiri dari pada menapaki jejak garis keturunan nasabnya. Bila sedang berada di Makkah, waktu malamnya lebih banyak diisi dengan shalat dan thawaf di Masjidil Haram, sedang waktu siangnya dipergunakan untuk beramal shalih dan mensyi’arkan ajaran Islam. Sewaktu sahabatnya Thawus al Yamani bertanya mengapa dia berbuat demikian sedang orang lain tidak, apalagi Zainal Abidin keturunan Rasulullah saw., Ali bin Abi Thalib ra. dan Fatimah ra. serta Husein, dia menjawab: “Tidak, tidak wahai Thawus. Jangan sebut-sebut ayahku, ibuku dan datukku. Sungguh Allah swt. telah menciptakan surga bagi siapa yang taat kepadaNya dan berbuat kebajikan, meskipun dia budak hitam dari negeri Habsyi. Dan ia menciptakan neraka bagi siapa yang bermaksiat kepadaNya, meskipun ia seorang Quraisy. Tidakkah kau dengar firman Allah:
“Apabila sangka-kala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya”.
(Surat Mukminun ayat 101)
Selanjutnya dia berkata: “Demi Allah tidak ada yang dapat memberi manfaat kelak pada hari kiamat kecuali amal kebajikan yang akan berada di depanmu dan menjadi petunjuk jalanmu”.
Doa’, dzikir dan munajatnya dijadikan pegangan kaum sufi dan para ulama di belakangnya, diantaranya:
“Bismillahirrahmanirrahiim,
Tuhanku
Kesalahan telah menutupku dengan pakaian kehinaan
Perpisahan dariMu telah membungkusku dengan jubah kerendahan
Besarnya dosa telah mematikan hatiku
Hidupkan aku dengan ampunanMu
Wahai Citra dan Dambaku
Wahai Ingin dan Harapku
Demi KeagunganMu
Tidak kudapatkan pengampunan dosaku selainMu
Tidak kulihat penyembuhan lukaku selainMu
Aku pasrah berserah padaMu
Aku tunduk bersimpuh padaMu
Jika Kau usir aku dari pintuMu
kepada siapa lagi aku bernaung
Jika Kau tolak aku dari sisiMu
kepada siapa lagi aku berlindung
Celaka sudah diriku
lantaran aib dan celaku
Malang benar aku
karena kejelekan dan kejahatanku
Aku bermohon padaMu
Wahai Pengampun dosa yang besar
Wahai penyembuh tulang yang patah
Anugerahkan padaku penghancur dosa
Tutuplah untukku pembongkar cela
Jangan lewatkan aku di hari kiamah
dari sejuknya ampunan dan maghfirahMu
Jangan tinggalkan aku
dari indahnya maaf dan penghapusanMu
Illahi,
naungi dosa-dosaku dengan awan rahmatMu
curahi cela-celaku dengan hujan kasihMu
Illahi,
Kepada siapa lagi hamba lari kecuali pada maulaNya
Adakah selain Dia yang melindungi dari murkaNya.
. . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . ..
( dan seterusnya, dari: ‘The Sufism Verses’)
Dikisahkan bahwa Zainal Abidin adalah anak yang sangat hormat pada ibunya. Waktu seorang sahabat bertanya kepadanya perihal sikap ‘Birrul Walidain’, menyantuni, menghormati kedua orang tua dimana belum pernah terlihat dia makan satu nampan (piring besar berisi makanan dan lauk-pauknya untuk dua sampai empat orang) bersama ibunya, Zainal menjawab: “Memang demikian, karena aku takut terdahulu tanganku ke dalam nampan makanan daripada kerling mata ibuku, sehingga bila terjadi demikian, maka aku sudah menyakiti hatinya”.
Walaupun Ali bin Husein Zainal Abidin banyak beribadah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah swt., ia tidak pernah mengabaikan masyarakat di sekitarnya. Ia selalu tampil sebagai pemimpin spiritual bagi ummat dimanapun dia berada. Ia selalu memanfaatkan dirinya sebagai sumber ilmu dan panutan akhlak mulia; demikian komentar Al Ghazali dan ulama sufi lainnya.
Peristiwa Karbala dengan segala akibatnya memberikan pelajaran penting baginya, betapa sebagian besar masyarakat Islam pada waktu itu telah diliputi kebingungan, kebekuan pikiran, serba salah dalam bertindak, dan selau terbentur menghadapi teror dan kedzaliman para penguasa. Sebagian lagi bersikap acuh-tak acuh, menghindari protes dan membiarkan apa saja yang terjadi, walaupun hal itu diketahui akan membawa ke arah kehancuran.
Ali bin Husein Zainal Abidin bertindak dengan sangat hati-hati membenahi keadan masyarakat, menyadarkan mereka akan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Ia mengupayakan perbaikan secara menyeluruh, membebaskan mereka dari sifat apatis dan larut dalam kemerosotan moral.
(Ensiklopedi Islam).
Abu Ali Al Fudhail bin Iyadh ra. berkata:
“Tempuhlah jalan-jalan hidayah, janganlah karena sedikitnya para penempuh
jalan itu lalu kamu terhalang jalan,
jauhi jalan-jalan kesesatan dan jangan kau tertipu karena banyaknya orang
yang binasa”.
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash ra. ia berkata, Rasulullah saw. berdo’a:
“Allahumma yaa musharrifal quluubi
sharrif quluubanaa ‘alaa thaa’atik”.
(“Yaa Allah, yaa Tuhan Yang membolak-balikkan hati
gerakkanlah hati kami untuk selalu menta’atiMu”).
Dari Aisyah ra. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. membaca do’a, sedangkan ketika itu ia bersandar kepadaku:
“Allahummaghfir lii warhamnil wa alhiqnii birrafiiqil a’laa”.
(“Yaa Allah, ampunilah daku, limpahkanlah rahmat kepadaku dan pertemukan aku dengan teman-teman yng bermartabat tinggi”
(Riwayat Bukhari dan Muslim).
keturunan ali bin abi thalib (9),Ali bin husein (1),Keturunan Ali bin abi talib (1),kumpulan doa ali bin abu thalib (1),Membuang trauma dgn islam (1)






Allahumma sholli ala muhammad wa ali muhammad
assalamu alaika ya hujjatullah
assalamu alaika yabna rosulillah
assalamu alaika yabna amiron mukminin
assalamu alaika yabna fatimatiz zahro
assalamu alaika ya zainal abidin
……………..
Setahu saya, Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan anak laki-laki, kecuali Fatimah ra. Karena anak laki-laki beliau wafat sebelum dewasa/menikah. Dan setahu saya pula, dalam syariat ISLAM, garis keturunan mengikuti garis laki-laki (ayah), karena itu, maka Fatimah ra., tentu saja tidak bisa menurunkan garis Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu, anak-anak yang lahir dari rahim Fatimah ra. dan keturunannya, tidak bisa dianggap cucu, cicit, dsb. Jadi kalo menurut saya, Ali bin Husein bin Ali bin Abi Tholib tidak bisa dianggap keturunan Rosululloh ? Tapi dia adalah keturunan Ali Bin Abi Tholib. Bukan begitu ?
keturunan Rosulullah itu dari fatimah, antum baca tafsir surat alkausar…..
kalo antum baca sholawat, dalam sholat siapa itu ali Muhammad?…. ali Muhammad itu siapa?
antum athu hadist tsaqolain?????
antum tahu ayat tathhir????
ini salah satu hadist tsaqolain itu
1). Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali
Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata ”Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya.
Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian akan Ahlul Bait-Ku”…..”