Perjalanan yang panjang, bagiku, bagi anak desa yang tak pernah bepergian jauh. Sepanjang umurku ini, inilah perjalanan terjauhku yang menjangkau kota orang, dan melewati banyak kota. Aku merasa bahagia dengan perjalanan ini, karena bisa melihat banyak kenyataan yang selama ini tak ku saksikan sebelumnya.
Ada beberapa anak seumuranku menenteng kentrung kecil dengan khas lagunya yang suka menyindir penumpang: ” yang pura-pura tidur tak doakan….tidur beneran…dan yang memberi semoga cepat pergi haji….dan naik gaji” Setelah itu terdengar nyanyian Bang Iwan Fals
Di jalanan kami sandarkan cita-cita…
Ada diantara mereka yang tak beralas kaki. Panasnya aspal tak sepanas hidup mereka, sehingga sengatan aspal yang terbakar sinar matahari di kakinya dirasakan sebagai sengatan biasa. padahal telah memecahkan telapak kakinya. Gelap kulit, dan rambut kepirangan warnanya jarang kesentuh air di tutupi debu jalanan yang telah mengebalkan tubuh mereka dari berbagai macam penyakit. Tapi aku sempat terkesan dengan lagu dan suaranya yang bening dan tinggi.
Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta
lagu itu mengiringi kepergianku dari kampung halaman menuju kawah candra dimuka yang entah aku sendiri belum bisa membayangkan. Hanya rasa penasaran campur degdegan berkecamuk di hati. Orang tuaku memang bertabur mimpi untuk memiliki anak shaleh yang diharapkanya mungkin sejak mereka masih lajang. Terutama Ibuku yang selalu ketat dalam hal yang namanya ngaji. Selalu beliau yang mengontrol aku agar istiqomah mengikuti sorogan di mushola dan masjid setiap pagi dan petang. “syarat utama jadi anak shaleh itu ngaji le….makanya kamu dikasih nama sama Bapakmu itu: Ngajiyo alias belajarlah.” Suara itu masih saja muncul sekelibatan. Mengaduk-aduk perasaan cintaku kepada Simak.
Sungguh indah seandainya lagu itu dilantunkan ibu kepadaku, dia bisa bertanya dengan kalimat indah “kemana kau pergi cinta?” dalam hatiku langsung menjawab “cinta akan mencari ilmu Mak….doakan ya…” aku tersenyum sendiri mendengar dialog hatiku sendiri.
“Mak…kini anakmu sudah besar. Sudah mau mandiri, dan kalianpun sudah percaya bahwa aku bisa hidup mandiri jauh dari orang tua.” Lamunanku dibuyarkan dengan sentuhan tangan Bapak di kepalaku. Tak biasanya dia menyentuh dengan kasih sayang seperti sekarang ini. aku tatap Bapak, ternyata matanya berlinang air mata. Tak sengaja satu tetes membasahi kepalaku. Aku jadi terenyuh yang langsung memunculkan air mata.
Ahmad Saifullah





