|
The Journey of Death
Sungguh sangat diperlukan suatu kehati-hatian dalam menjalani hidup di Desa Paesan Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Baik dalam hal cara berpakaian, cara bergaul, dan cara bermuamalah. Terus terang saja, semenjak saya sekolah di SMA Negeri 1 Kedungwuni, hidup saya di masyarakat seakan mendapatkan tekanan dan cemoohan. Berhubung di SMA tersebut para siswanya diberi kebebasan untuk memilih antara mengenakan seragam yang terdiri dari jilbab dengan rok dan baju panjang atau tanpa jilbab dengan rok dan baju lengan pendek. Sehingga menurut masyarakat sekitar, saya dianggap menyalahi aturan agama dan di Rifaiyah sendiri tidak boleh campur antara laki-laki dan perempuan. Setiap kali ada pengajian dari ustadz setempat yang kebetulan bertempat di musola dekat rumah saya, si Ustaz tersebut sering menyelingi pengajiannya dengan berbagai sindiran-sindiran yang diarahkan pada orang -orang sekitar yang menyalahi adat ala Rifaiyah. Misalnya saja, menyindir orang yang punya TV di rumahnya atau saya yang sekolah di SMA Negeri pernah merasa tersindir juga. Si Ustadz bilang bahwa zaman sudah semakin edan karena sekolah-sekolah sudah mencampuradukkan antara wanita dan laki-laki di satu ruangan dalam keadaan membuka aurat. Padahal, menurut saya jika seorang tersebut bisa mengendalikan diri dalam artian bisa membatasi dan memahami situasi tersbut bagi saya tidak masalah. |
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi di era globalisasi, cara berpikir orang pun harus semakin maju dan logis. Kita harus tahu ke mana arah tujuan hidup kita dan punya peta kehidupan dalam menjalani hidup ini. Seperti halnya dalam memetakan sebuah pendidikan atau studi kita. Kita harus sudah tahu ke manakah nantinya selepas SMP, mau meneruskan ke SMA yang notabene bisa meneruskan ke PT atau meneruskan di SMK agar bisa memiliki keahlian setelah lulus ??? Ataukah mungkin ada yang memiliki angan-angan untuk meneruskan di Ponpes saja. Itu terserah kita. Yang penting kita sudah punya mindset tentang hal itu semua. Pengalaman saya dulu saat duduk di bangku SD, belum memiliki peta hidup. Sehingga selepas SD tidak berpikir panjang untuk memilih SMP yang kualitasnya benar-benar baik. SMP saya di Mts Salafiyah Simbang Kulon. Tapi, bagi saya tidak apa-apa, karena saya mendapat banyak pengalaman tentang pengetahuan agama yang jauh lebih banyak. Semenjak kelas 3 SMP, baru saya mulai terpikir tentang peta kehidupan. Guru Matematika SMP saya pernah bilang, kita harus punya arah dan tujuan yang terstrukturisasi. Sehingga dalam menjalani hidup ini, kita tidak akan mengalami kesulitan. Jadi, setelah mendengar nasihat-nasihat dari guruku tersebut, sesampai di rumah saya langsung membuat peta kehidupan. Dimulai dari selepas SMP, saya akan meneruskan di SMA mana. Bersambung….. ________________________________________ Ali Ahkamulloh Bogor Agricultural University Agronomy and Horticulture Departement |
profil madrasah tsanawiyah salafiyah simbang kulon (1),sekolah smpn di bogor gratis gak (1)






teruskan Kam untuk menulis di tanbihun.com. Tulisanmu lugas, mudah dimengerti, runut dan menggugah. segala unek-unek bisa disambunglidahkan disini. selamat berjuang di Bogor. hidup tak selebar daun kelor halal haram.
@asep, hehehe…nggak kok. Cuman iseng2 saja. Hanya sekadar ingin membuktikan, benar tidaknya teori yang pernah Saya baca di salah satu buku. Tapi Saya lupa judul dan pengarangnya, bahwa seseorang dapat mengurangi keadaan stres dengan cara menuliskan tentang semua menyebabkan stres tersebut.
Pengalamane sampeyan persis dg pengalamanku kang…aku dulu juga sekolah di SMAN 1 Demak..huh..celaan hinaan sampe pernah bapakku dihukumi fasik gara-gara itu…katanya apa manfaatnya nyekolahin anak tinggi2…disekolah umum lagi. Tapi mereka semua sekarang keweleh sendiri…sebab mereka sdh pada nyekolahin anaknya disekolah2 umum…aku siih senyum2 aja….wong dulu satu kampung yg sekolah SMP cuman aku karo masku kok..tapi sekarang hampir setiap anak sudah mulai sekolah minimal SMA
@rifai, Iya. Terima Kasih. Saya memang sudah menyadari bahwa pasti akan ada respon negatif dari masyarakat setelah Saya masuk di SMA N 1 Kedungwuni. Tapi, tidak apa2. Mereka belum tau kalau di SMA ku ada pemisahan antara Lk dan Pr. Sebelum pelajaran dimulai juga ada kegiatan membaca Al Quran bersama. Pada bulan Ramadhan juga ada pesantren kilat. Apalagi akhir-akhir ini juga sudah RSBI. Jadi, no problem.
Untuk memulai hal baru memang diperlukan keberanian dan fokus,untuk itulah kita disini.
Teruslah menulis ! kalau pun ada yang mencibir, biarkan saja, nanti juga akan terbiasa, seperti halnya dengan mas ahkam & fai yang gigih menerjang cemooh demi cita-cita.
@em.yazid, Iya. Terima Kasih. Insya Allah saya akan selalu menyempatkan diri untuk menulis. Meskipun belum seberapa. Yang penting bernilai dan bermanfaat untuk orang lain.
lebih dramatis lagi kisah Mas Yazid yang ketiban fitnah masyarakat. jalan benar yang diperjuangkannya membangun TPA, malah menjadi pecundang dituduh yang macam-macam. tanbihun.com tempat mangkalnya para tertuduh. tapi jangan khawatir becik ketitik, olo ketoro…
@asep,
Hmmmmmmmmmmm…….
Benar juga bro…..yang aktif menulis disini memang kebanyakan berangkat dari kegelisahan,yang sudah dicoba dipraktekkan ditengah2 masyarakat, tapi respons baliknya bukan yang diharapkan, dan kita belum siap dengan itu.
Marilah kita belajar dari masa lalu, untuk esok yang lebih baik, jujur saja, saya sendiripernah mencoba menyingkirkan bahkan mencoba “membunuh” rasa peduli dengan masyarakat lingkungan,apalagi dengan rifaiyah, no…banget,tapi gambaran perjuangan syaikh haji ahmad rifai,seakan didepan mata, bagaimana beliau ditindas dan diperlakukan tidak adil oleh penguasa belanda,dan difitnah habis-habisan oleh “ulama” hubbubl jah wal mal “. karena itulah saya disini, mencoba mengurai hasrat didada,mungkin masih jauh dari harapan, namun berhenti bukanlah pilihan bijak,guru besar kita tidak berhenti meski harus diasingkan,beliau terus menorehkan gagasan-gagasannya diatas kertas,hingga kita bisa membacanya sampai sekarang.
Marilah kita tulis unek-unek kita, biarkan membuncah, pada saatnya nanti Insya Alloh akan berwujud seperti yang diharapkan. semoga.!!!
hehehe….kang Yazid emang tragis nasibnya kok…sampe sekarang juga masih tragis….menjadi orang yg termarginal di tengah komunitasnya sendiri….
jangan-jangan tragis sejak dalam kandungan. emang sejatinya Mas Yazid itu Mutiara, tetapi hitam jadi tak kelihatan. apalagi di malam hari….he…he…X 1 milyar
kadang orang melihat sesuatu itu sesuai zaman dia, padahal kita hiduyp bukan di zaman itu. demikian juga kadang kita melihat pada anak kita, kita juga harus sadar bahwa dia hidup di zaman dia yg udah berubah. spt anak saya, mash sd kls 5 udah biasa OL dan sudah bisa main haker, ngeblokin e-mail temen2nya.
demikian juga dalam masalah agama, kadang kita itu sering bertabrakan karna zaman dah berubah, sedang pola fikir masih spt dulu, jadinya ya gak nyambung ya….
nulispun juga sama ya kang…. agar bisa nyambung sama komunitasnya, hrs se-frekwensi dg temen2, tapi kadang frekwensi lagi beda, gak nyambung juga.
saya mo belajar nulis di komentar dulu aja, gmn kang ripai, bolh kagak.
@maman, Boleh bangets mas…cuman akan lebih manfaat kalo nulis di postingan..kami sangat mengharapkan partisiasi dari temen2 kok. Ga peduli apakah itu sefrekwensi atau tidak…yang penting nulis..ntar klo ada yg ga setuju kan dia akan menyanggah…oke Om maman