12:44 pm - Kamis,24 Mei 2012

Rintihan dari Bogor

Senin, 31 Agustus 2009 21:02 | Opini | 0 Comment | Read 452 Times

The Journey of Death

Sungguh sangat diperlukan suatu kehati-hatian dalam menjalani hidup di Desa Paesan Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Baik dalam hal cara berpakaian, cara bergaul, dan cara bermuamalah. Terus terang saja, semenjak saya sekolah di SMA Negeri 1 Kedungwuni, hidup saya di masyarakat seakan mendapatkan tekanan dan cemoohan. Berhubung di SMA tersebut para siswanya diberi kebebasan untuk memilih antara mengenakan seragam yang terdiri dari jilbab dengan rok dan baju panjang atau tanpa jilbab dengan rok dan baju lengan pendek. Sehingga menurut masyarakat sekitar, saya dianggap menyalahi aturan agama dan di Rifaiyah sendiri tidak boleh campur antara laki-laki dan perempuan. Setiap kali ada pengajian dari ustadz setempat yang kebetulan bertempat di musola dekat rumah saya, si Ustaz tersebut sering menyelingi pengajiannya dengan berbagai sindiran-sindiran yang diarahkan pada orang -orang sekitar yang menyalahi adat ala Rifaiyah. Misalnya saja, menyindir orang yang punya TV di rumahnya atau saya yang sekolah di SMA Negeri pernah merasa tersindir juga. Si Ustadz bilang bahwa zaman sudah semakin edan karena sekolah-sekolah sudah mencampuradukkan antara wanita dan laki-laki di satu ruangan dalam keadaan membuka aurat. Padahal, menurut saya jika seorang tersebut bisa mengendalikan diri dalam artian bisa membatasi dan memahami situasi tersbut bagi saya tidak masalah.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi di era globalisasi, cara berpikir orang pun harus semakin maju dan logis. Kita harus tahu ke mana arah tujuan hidup kita dan punya peta kehidupan dalam menjalani hidup ini. Seperti halnya dalam memetakan sebuah pendidikan atau studi kita. Kita harus sudah tahu ke manakah nantinya selepas SMP, mau meneruskan ke SMA yang notabene bisa meneruskan ke PT atau meneruskan di SMK agar bisa memiliki keahlian setelah lulus ??? Ataukah mungkin ada yang memiliki angan-angan untuk meneruskan di Ponpes saja. Itu terserah kita. Yang penting kita sudah punya mindset tentang hal itu semua. Pengalaman saya dulu saat duduk di bangku SD, belum memiliki peta hidup. Sehingga selepas SD tidak berpikir panjang untuk memilih SMP yang kualitasnya benar-benar baik. SMP saya di Mts Salafiyah Simbang Kulon. Tapi, bagi saya tidak apa-apa, karena saya mendapat banyak pengalaman tentang pengetahuan agama yang jauh lebih banyak. Semenjak kelas 3 SMP, baru saya mulai terpikir tentang peta kehidupan. Guru Matematika SMP saya pernah bilang, kita harus punya arah dan tujuan yang terstrukturisasi. Sehingga dalam menjalani hidup ini, kita tidak akan mengalami kesulitan. Jadi, setelah mendengar nasihat-nasihat dari guruku tersebut, sesampai di rumah saya langsung membuat peta kehidupan. Dimulai dari selepas SMP, saya akan meneruskan di SMA mana.

Bersambung…..

________________________________________

Ali Ahkamulloh

Bogor Agricultural University

Agronomy and Horticulture Departement

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

profil madrasah tsanawiyah salafiyah simbang kulon (1),sekolah smpn di bogor gratis gak (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner