Di saat banyak kaum Muslim dipersalahkan atas kasus terorisme, mantan Panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib justru mengusulkan pelarangan buku-buku Sayyid Quthb.
Sebelum ini, dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV swasta, Ja’far juga menyerukan agar dalam menangani kasus terorisme, pemerintah tidak saja mulai memberangus paham-paham radikal dan terorisme dengan cara represif, tapi juga pemerintah didesak untuk mengawasi, bahkan melarang peredaran buku-buku berideologi radikal, serta pengawasan terhadap halaqoh (pengajian kelompok kecil).
Menurut Djafar, merebaknya aksi teror ini disebabkan karena adanya pemahaman yang salah. Buku-buku yang dia maksud banyak melahirkan kesesatan.
Saat ditanya, apakah semua pembaca dan pemilik buku Das Capital dan Marxisme mesti menjadi komunis atau PKI dan buku-bukunya harus dilarang? Ia hanya menjawab, “Ya, tetapi banyak orang yang sudah teracuni dengan buku-buku Sayyid Quthb,“ ujarnya pada www.hidayatullah.com.
Sayyid Quthb merupakan pemikir gerakan al-Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Banyak bukunya menjadi inspirasi dakwah kaum Muslim di seluruh dunia. Di antaranya adalah buku, Fi Zhilal al-Qur’an yang telah diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia.
Usulan pelarangan terhadap buku Sayyid Quthb ini memang bukan hal baru. Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam wawancara dengan sebuah majalah berita mingguan meminta aparat intelijen meneliti buku-buku karya cendekiawan Muslim Sayyid Quthb dan Hasan Al-Banna. Hal itu pula yang diusulkan oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono. Sementara Departemen Agama membentuk Tim Penanggulangan Terorisme (TPT) untuk mengkaji makna “jihad”.
Namun salah satu tokoh pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abu Ridho, Lc mengaku heran. “Buku-buku Sayyid Quthb sudah beredar sejak tahun 80-an. Namun sampai hari ini, tak ada ulama dunia mana pun keberatan, apalagi menganjurkan pelarangan. Apalagi mencaci-maki. Jika ada yang salah, pasti sejak dahulu ulama sudah melarangnya,” katanya.
Bahkan, menurutnya, sejak tahun 80-an buku-buku Sayyid Quthb bisa diperoleh secara bebas di Saudi Arabiyah. “Saat masih mahasiswa, saya bahkan mendapat hadiah buku-buku Sayyid Quthb dari lembaga resmi pemerintahan Saudi,” ujarnya. “Apakah saat itu, banyak ulama besar kita yang tak mengerti bahasa Arab?” tambahnya. www.hidayatullah.com
peredaran buku berisi paham radikal (1),tahsabuhum jamawaqulubuhum zatta (1),www larangan sayyid quthb (1),www salafy or id/print php?id_artikel=664 (1)






apa dasar pelaranga sebuah buku….. klo setiap yg berbeda harus dilarang?
apa ada motif lain di balik penghembusan isu tersebut?
ayo kita analisa ya kang?
@maman, kedua kelompok ini, yaitu Salafi dan Ikhwan itu..sudah dari dulu berseberangan. Ja’far yang Salafi tentu pandangannya ngga jauh beda dengan Syaikh Muqbil ataupun Syaikh Rabi’ Bin Hadi yang “membenci” ikhwan al muslimin beserta tokoh2nya.
@Rifai Ahmad, mungkin yang lebih pas wahabi, realitasnya kita semua pengikut ahlussunnah adalah salafi/salafiyyah. kebetualan orang2 wahabi mengaku-ngaku hanya mereka saja yang salafi dan yang di luar mereka ahlul bid’ah, bahkan kalau ketahuan berseberangan dengan mereka, ulama mereka mengharamkan menjawab salam dari kelompok yang berbeda dengan mereka. baca saja karya ulama wahabi (yang di indonesia mengaku salafi), terhadap kelompok lain selain kelompok mereka pasti semua dianggap sebagai ahlul bid’ah.
sepertinya sudah menjadi tradisi ajaran mereka, setiap yang berbeda dengan mereka langsung dianggap ahlul bid’ah, bahkan sesama turunan dari paham wahabi tapi beda guru (di indonesia salafi/wahabi terpecah menjadi beberapa kelompok) mereka akan saling membid’ahkan. termasuk keluarnya dja’far umar thalib dari kelompok lama, langsung dicap sebagai ahlul bid’ah, sebaliknya dja’far sendiri menganggap kelompok sebelumnya juga ahlul bid’ah.
coba tengok http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=664
jadi kira2 itu salah satu dasarnya, padahal menuruit saya akarnya dja’far umar thalib dan group ihkwanul muslimin (IM) itu sama, yaitu sama2 wahabi ya.
tinggal menunggu lobi siapa yg paling kuat untuk melarang kelompompok lain.
wahabi sendiri terpecah jadi berapa ya kira2, di Indonesia aja mungkin lebih dari 10 firqoh kali ya….. dan bukan hanya wahabi aja yg terpecah, hampir semua golongan juga terpecah, contohnya tarjumah kita juga terpecah ….
apa ini yg di sindir oleh alqur an “tahsabuhun jami’a waqulubuhum satta”…. kelihatanya mereka itu bersatu, tapi hati mereka bercerai berai?….. karna sejatinya yg bisa menyatukan itu adalah hatinya.
semoga aja di tanbihun ini kita bisa menyatu walau kita sadari kita2 ini juga berbeda. minimal bisa menahan diri untuk menghargai….
dari dulu semangat kita kok semangat fasisme. masing-masing ingin melarang dan menghapus yang lainnya. Dulu MUI dan sebagian orang melarang Ahmadiyah, Ahmadiyah juga ingin membubarkan MUI. Dulu, masa ORBA, banyak pelarangan buku-buku Komunis. padahal yang dilarang kalau kita baca berisi roman sejarah kayak karya-karyanya pramudia anantatoer. kalau semangatnya saling melarang, meniadakan maka yang akan terjadi permusuhan dan kemusnahan. karena yang disirami adalah dendam.
dengan mengajurkan melarang untuk beredarnya buku_buku sayyid qutb itu sama artinya jafar umar thalib mulai membelot menghianati perjuangannya sendiri untuk memperjuangkan islam sebagai pemimpin dunia.