2:36 pm - Kamis,24 Mei 2012

Kepuasan Itu Relatif

Kamis, 4 Maret 2010 7:31 | Hikmah | 0 Comment | Read 188 Times

ngeewehTanbihun.com — Kepuasan seseorang berbeda-beda. Di kecamatanku ada orang yang kerjaannya menebas tanah yang ada di pinggir jalan. Dia sangat bangga, karena luas tanahnya sudah tak ada yang menandinginya. Sampai orang-orang menyebutnya sebagai tuan takur alias tuan tanah. Setiap tanah yang ia beli ditanami gedung, toko, yang siap disewakan. Dan mungkin ia lagi merancang kekayaan turun temurun yang tak akan habis dimakan tujuh turunan. Naifnya, ketika saudaranya sakit, ia tak pernah mau menjenguknya, hajat hidup yang dibatasi keuangan saudara-saudaranya tak bisa ia tolong, karena kebakhilannya. Sehingga justu uangnya yang melimpah itu sekedar kebanggaan untuk dihitung menjelang tidur, dengan begitu ia telah kehilangan banyak saudara-saudaranya. Karena uangnya yang berjibun, kadang secara tak sengaja menjadi tumpuan pertolonagn, tetapi pada kenyataannya tak mungkin itu menolong saudaranya, karena takut kekayaannya akan berkurang, takut tanahnya cuel (berkurang ).

Saudara-saudara dan tetangganya mulai mengguncingkannya dengan nada minor. Mendengar pernyataan minor itu, ia malah berseloroh, “mudah bagi ku untuk cari sedulur,” karena pengalamannya selama ini menunjukkan bahwa orang-orang berderet mengaku sebagai saudaranya, ketika jelang lebaran. Mereka ngantri untuk meminta jatah zakat dari Pak Haji Tuan Takur ini. Sehingga ia tak butuh saudara, kalau jelang syawal berjibun orang mengaku sebagai saudaranya. Dan pegawainya yang berjumlah ratusan juga ia hitung sebagai nominal sedulur.

Kontras dari itu, ada orang lagi di Pekalongan. Ia saya katakan sebagai altruis sejati. Yang dipentingkan dalam hidupnya adalah kepentingan public, orang lain, ummat, dan dia malas kalau memikirkan tentang kepentingan dirinya sendiri. Agaknya sudah bawaan sejak lahir dia begitu. Ia mengusahakan berdirinya sekolahan, pondok pesantren, pembebasan tanah wakaf, berbagai macam pembiayaan pendidikan dengan jaminan sertifikat rumahnya sendiri. Ia hobi hutang untuk kepentingan-kepentingan umat. Anehnya juga bangga dia menyebut hutang-hutang itu. “Sekarang aku masih ada hutang 90 juta untuk bangun pondok,” ungkapnya sambil berkelekar. Rumahnya reot dengan lantai yang berlubang-lubang, sebagian temboknya masih kecampuran geribig. Tapi jangan heran kalau di samping rumahnya berdiri Pondok Pesantren, sekolahan yang bagi orang sepertiku menyebutnya megah. Ia malah menimpali, “semua itu berawal dari hutang dan keberanian untuk nekad,”

Sesuatu yang erat kaitannya dengan amal jariyah, menjadi sesuatu yang menggairahkan untuk diperjuangkannya sampai titik hutang penghabisan. Karena khidmadnya pada masyarakat, ia tak habis berfikir untuk bekerja. Ia terlalu sibuk untuk orang lain, sehingga ia tak terbersit merancang masa depannya dengan planning yang macam-macam.

Juga pernah aku bersinggungan dengan Mbah Dauzan Farook, mendiang yang bookholik ini puas kalo tiap harinya diisi dengan keliling silaturahmi sambil meminjamkan buku-buku. Uang pensiunan yang tiap bulan diterimanya sebesar tujuh tarus lima puluh ribu ia belikan buku untuk dipinjamkan kepada setiap orang yang ia jumpai dimanapun. Perangainya tak pernah khawatir kalau koleksi yang dipinjamkannya hilang. Bahkan tak jarang, buku-buku yang dipinjamkan lengah tidak dicatat. Baginya, dulu waktu beliau ikut berjuang merebut kemerdekaan, nyawa yang dijadikan taruhannya, maka kalau sekedar buku hilang itu sudah menjadi resiko yang tidak seberapa.

Beliau merasa bahwa gaji yang diterimanya setiap bulan sebagai pensiunan veterannya beban kalau tidak dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Karena dari kecil ia didik dalam dunia kepustakaan oleh ayahnya, karena ayahnya merupakan salah seorang dewan pustaka Muhammadiyah. ia akrab dengan dunia hobi baca sejak kecil, maka jalan pengabdiannya ia lakukan dalam dunia pustaka dari mulai usia muda sampai akhir hayatnya pada tutup usia 83 tahun.

Beliau bawaannya muring-muring, kalau sehari saja tidak berkunjung ke rumah seseorang untuk sekedar mengantar buku-buku yang kadang dipesan dan tidak. Baginya menawarkan bacaan yang bermanfaat sama halnya dengan mengajak seseorang untuk terus memperdalam ilmu dan usaha ini bagian dari dakwah, karena mengajak kepada kebaikan.

Kata temanku, menanggapi semangat yang kontras dengan kekuatan tubuh Mbah Dauzan, dia bilang: “seharusnya tubuhnya sudah tak kuat lagi, setiap hari berjalan mengunjungi pembacanya, tetapi semangatnya untuk mencerdaskan bangsa menjadi pemicu tubuh yang ternta berumur 80 an tahun itu menyusuri kota Yogyakarta. Sampai ribuan orang menjadi anggota kelompok bacanya. Ia mempunyai kepuasan yang aneh bagi sebagian orang, tetapi mulia bagi orang lainnya.

Melihat banyak macam kepuasan seseorang, ada yang bersifat kepuasan tubuh, ada yang kepuasan ruhaniah. Kepuasan tubuh terdiri dari dari makan, minum, sex. Peringkat kepuasan tubuh manusia biasanya melebihi binatang. Pesan moral ibadah puasa adalah untuk menekan nafsu binatang manusia yang terdiri dari makan, minum, sex menuju cahaya kepuasan ruhaniah. Atau kepuasan menatap bertumpuknya harta hasil menjarah keringat rakyat, menuju keringat penghidmatan pelayanan cinta kasih kepada fakir miskin yang memuaskan ruhani ini.

___________________________

Oleh : Asep Saefullah

Paesan, 12 September 2009

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Tagged with:

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner