3:22 pm - Kamis,24 Mei 2012

Setiap Kepayahan Itu Bisa Mendatangkan Kemudahan

Rabu, 25 Nopember 2009 7:25 | UsulFikih | 0 Comment | Read 184 Times

اَلْمَشَقَةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرُkitab-1

“Setiap kepayahan itu bisa mendatangkan kemudahan”

Contoh yang mudah, dan biasa disinggung dalam pengajian-pengajian kuping (jipeng) adalah masalah orang yang kelaparan parah (al-masyaqatu), apabila tidak makan dalam beberapa jam, nyawanya bisa terancam melayang, maka dalam keadaan semacam ini, ia mendapatkan kemudahan (taisir) untuk memakan sesuatu yang bisa menolongnya untuk hidup. Misalnya tidak satupun makanan halal di dekatnya, dalam konteks semacam ini makanan yang haram menjadi halal.

Pada hakekatnya Qoidah ini memberi pengertian kepada kita, bahwa seseorang bisa menerjang batas-batas ketentuan hukum, kalau memang ada alasan yang membolehkan. Alasan orang yang terpaksa makan daging babi karena kelaparan, dan tidak ada satupun sesuatu yang bisa dimakannya: ia mempertahankan nyawanya, untuk mencapai tujuan syariat Islam. Karena kita tahu bahwa beberapa diantara maksud syariat Islam adalah untuk melindung jiwa, raga, kehormatan, dan hak milik manusia. Dalam kata lain: mempertahankan nyawa lebih penting dibandingkan keharaman babi.

Berbohong bagi semua orang termasuk perbuatan tercela, bahkan orang yang melakukannya termasuk dikategorikan sebagai munafik, sebagaimana hadist Nabi yang menerangkan ciri-ciri orang munafik.

آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان

“ciri-ciri orang munafik ada tiga: apabila berbicara berbohong, apabila berjanji melanggar, apabila dikasih kepercayaan berkhianat.”

Orang yang berbohong dalam kaitan dengan kaidah diatas tidak bisa dikatakan sebagai orang munafik. Misalnya ada orang yang berbohong dengan tujuan menyelamatkan nyawa seseorang, maka ia halal untuk berbohong, bahkan baginya dianjurkan untuk berbohong. Misalnya ada orang yang tiba-tiba masuk ke rumah kita, selang beberapa menit ada orang yang menyusul mencari, dan ditangannya terdapat pendang. Orang itu marah-marah dan menanyakan keberadaan orang yang dikejar akan dibunuh karena sesuatu hal. Maka bagi orang yang mendapati keadaan semacam itu dihalalkan untuk berbohong kepada orang yang meburu, toh walaupun orang yang ngumpet di rumah kita adalah maling sekalipun.

Sewaktu-waktu kita akan dihadapkan pada hal-hal yang menghimpit dan memaksa kita mengerjakan sesuatu. Sebagaimana yang saya alami ketika mencoba mencari ilmu bahasa di Pare Kediri. Di sana penulis kehabisan uang, sehingga secara terpaksa penulis tidak membayar ongkos kereta, karena tak mungkin bayar, uang siapa yang dibayarkan pada pencatut itu.

Sebagaimana orang yang mengadakan perjalanan (musafir)  yang diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk meringkas (qashar), menjamak shalatnya dengan ketentuan yang telah diterangkan dalam kitab fikih. Hal itu terkait dengan beratnya perjalanan yang mendatangkan kemudahan berupa fasilitas jama dan qashar. Dalam hal orang berpuasa pun diperbolehkan untuk berbuka ketika ia melakukan perjalanan atau si shaim dalam keadaan sakit. Ia mengqodlo pada hari-hari ketika ia sudah mampu dan sehat, apabila tidak bisa menqodlo maka ada keringanan memberi makan para fakir miskin.

Shalat juga demikian. Ada jalan alternatif bagi mereka yang berat melakukan shalat dengan berdiri, maka duduk sebagai pilihan dalam menjalankan ibadah lima waktu ini. Apabila duduk juga sudah tidak bisa, maka alternatif lainnya dengan berbaring. Sampai pada akhirnya si penderita bisa melakukan shalat dengan menggunakan isyarat.

Meringankan keberatan dalam beribadah dan bermuamalah merupakan toleransi agama Islam terhadap para mukalaf. Ia juga bentuk ekspresi hati ajaran Islam yang penuh perasaan dan kelembutan. Ekspresi ini tampak kentara, misalnya dalam ajaran memimpin shalat jamaah yang dianjurkan untuk menyegerakan dan mempercepat, beda anjuran untuk shalat sendirian (munfarid) yang dianjurkan untuk berlama-lama.

Kemudahan dalam beragama juga merupakan bentuk bahasa penggugah bagi para mukalaf agar mereka ikhlas dalam melakukan ibadah. Ia tak bisa merengek bahwa perintah Allah adalah berat, karena Allah dan Rasul sendiri telah menawarkan banyak alternatif kemudahan bagi para abid yang sekiranya mengalami keberatan natural dalam menjalankan perintah dan cegah agama. Wallahu alaam

Paesan, 24 November 2009

Ahmad Saifullah

Guru Online
Sebarkan Dan Simpan Dalam Bentuk Word & Pdf !

Penulis:

Tagged with:

cerpen agama islam tentang munafik (1)

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda

Masukkan email disini,jangan lupa cek email anda untuk pengaktifannya :

Delivered by FeedBurner