Dalam Riayatul Himmat KH. Ahmad Rifai mengkategorikan kepasrahan (taslim) dan ketundukan (inqiyad) sebagai syarat sahnya Iman. Dalam pengertian, iman itu tidak sekedar meyakini tentang keenam hal, tetapi ia juga jawarih harus nampak kepasrahan dan ketundukan dalam perilaku manusia sehari hari. Kalau seandainya ia beriman bahwa Allah Zat yang Maha Mengetahui, dan mengimani keberadaan malaikat pencatat amal perbuatan manusia, maka konsekwensinya ia harus meninggalkan larangan dalam suasana ramai maupun sepi. Karena dimanapun tempat disitu ada penglihatan Allah. Dan ada buku besar malaikat yang mencatat tiap tingkah amal perbuatan manusia.
Taslim dan inqiyad itu sebuah proses ketundukan penuh tanpa menawar dulu. Dalam ketundukan yang pasrah ini akal tak boleh menawar dengan satupun pertanyaan. Kepasrahannya laksana perawan di malam pertama, ia tak mengelak karena rasa sakit yang akan dideritanya; ia tak kan membantah dengan akalnya yang menjangkau suatu hari sampai masa 9 bulan ia akan kesusahan mengandut janin, dan merasa pesakitan tatkala jabang bayi kepingin melihat sinar matahari. Ia hanya pasrah pada pasangannya.
Taslim dan Inqiyad di tauladankan Musa pada peristiwa pengejaran Musa dan umatnya oleh Firaun. Perintah yang datang dari Tuhan menyuruh Musa untuk terus lari ke arah laut. Kalau boleh menawar dengan nalar, Musa akan bilang: “Tuhan kenapa kok perintahnya lari ke pantai, padahal Engkau tak menyiapkan kapal untuk rombonganku, bukankah lebih aman ke hutan atau ke pegunungan, karena disana ada gua untuk bersembunyi ada hutan untuk mengecoh pasukan Firaun?”
Tapi karena ketasliman dan keinqiyadan Musa kepada semua perintah Allah, maka nalar yang semacam itu bukan saatnya yang tepat untuk membantah perintah Allah. Ia hanya ikut pada apa yang diperintahkan Juragannya. Padahal waktu itu juga banyak kaumnya yang protes pada Musa tentang jalan yang terasa salah diambil oleh Musa. Tapi ketasliman itu melebihi sekedar daya jangkau nalar, tiba-tiba ada perintah dari Tuhannya: Idzrib biashokal bahr (pukulkan tongkatmu ke laut) maka laut terbelah dan menjadi jalan bagi Musa dan kaumnya. Maka ketika kita dari dulu melihat shalat kok gerakannya tak pernah berubah, kita gak usah bikin kreatifitas shalat, terus menambah gerakan shalat dengan layaknya tari jaipongan. Kita cukup taslim dan inqiyad saja.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. QS. An-Nisaa ayat: 65
Moko demi temen pangeranira temenan
Tan ngistoaken wong iku kabeh kebatinan
Ing Allah ing Rasulullah pituturan
Anging hinggo podo jaluk hukuman
Wong iku kabeh ing siro Muhammad nyatane
Ing barang para padu selaya antarane
Wong iku kabeh maka tan nana tinemune
Wong iku kabeh ning sarirane atine
Wong iku kabeh mamang ing syara pitutur
Satengah barang kang siro hukum kang jujur
Lan pasrah asih kabeh anut milahur
Ikulah wong sah imane syarat becampur
Maka demi kebenaran Tuhanmu yang sesungguhnya
Tidak meyakini orang-orang itu (di dalam) batinnya
Kepada ajaran Allah dan Rasulullah
Hingga mereka datang untuk meminta kebenaran hokum
Pada kenyataannya orang-orang itu (meminta kebenaran hukum) kepadamu Muhammad
Tentang pertentangan dan perselisihan diantara mereka
Maka orang-orang itu tidak akan menemukan
(alias) orang-orang itu (tidak menemukan) di wadak hatinya
(dan bimbang kepada) Sebagian hal yang telah engkau (Muhammad) hukumi dengan jujur
Pasrah dan cinta untuk mengikuti (ajaran-ajaran) pilihan
Itulah orang yang sah imannya
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Zubair pernah pernah berselisih dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun. Bersabdalah Rasulullah SAW: “Hai Zaubair siramilah kebun mu dulu, kemudian salurkan air itu ke kebun tetanggamu”. Berkatalah orang Anshar itu: “Ya Rasulullah, karena ia anak bibimu?”. Maka merah padamlah muka Rasulullah SAW. Karena marahnya dan bersabda: “Siramlah kebunmu Hai Zubair hingga terendam pematangnya, kemudian berikan air itu kepada tetanggamu”. Zaubair dapat memanfaatkan air itu sepuas-puasnya, dan sesuai dengan ketentuan yang diberikan Rasulullah kepada kedua-duanya. Berkatalah Zubair: “Saya anggap ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa ini.
Diriwayatkan oleh Imam yang enam, yang bersumber dari Abdullah bin Zubair.
Peristiwa di atas merupakan sejarah latar belakang diturunkannya ayat di atas. Banyak versi asbabun nuzul lain dengan riwayat yang serupa, atau lain. Tetapi mempunyai inti yang sama, yakni hendaklah seseorang yang beriman pasrah dan tunduk kepada keputusan Allah dan Rasulullah.
Pasrah dan tunduk merupakan sifat yang harus melekat pada diri Muslim. Versi Arabnya disebut sebagai taslim (kepasrahan) dan inqiyad (ketundukan). Karena menurut KH. Ahmad Rifai, dalam Syarikhul Iman mengartikan Islam dengan menjalankan perintahnya Allah taala dan menjauhi dari larangan Allah taala. (utawi artine Islam iku angelakoni ing parintahe Allah taala lan ngedohi saking cecegahe Allah taala). Untuk menjalankan sebuah perintah dan menjauhi larangan-laranganNya dibutuhkan dua sifat mendasar yakni kepasrahan terhadap semua perintah, serta tunduk untuk melakukan perintah maupun larangan dari Allah dan Rasulullah.
Kalau boleh penulis memahami, bahwa pasrah itu adalah bahasa hati yang secara total meniadakan dirinya (egonya) untuk tunduk menjalankan perintah-larangan Tuhannya. Bahasa hati yang diekspresikan dalam ketundukan (inqiyad) biasanya diuji dalam bentuk pertentangan dua hal antara kepentingan pribadi kita dengan hak-hak Tuhan atas hambanya.
Misalnya kita kebelet pingin bakso, sedangkan uang kita hanya cukup untuk membeli satu mangkok bakso, pada kesempatan yang sama datang saudara kita bermaksud meminjam uang tersebut untuk membeli obat sesak nafas yang seharga pas dengan uang tadi. Maka tingkat ketasliman kita diuji apakah kita memperturutkan keinginan untuk mempertahankan uang dan membelikannya bakso kesukaan, atau ingat dengan ayat yang berujar wataawanu alal bir (saling tolong menolonglah dalam kebaikan) atau ingat kepada ayat dan hadis yang selalu menganjurkan untuk saling membantu melapangkan masalah-masalah saudaranya. Tidak hanya ingat tetapi menjalankannya adalah sebuah ekspresi ketasliman dan keinqiyadan.
Ketasliman kita selalu diuji tiap hari, karena memang hidup di dunia adalah medan laga ujian. maka kewaspadaan dan memikirkan segala yang kita perbuat adalah hal yang paling utama. Misalnya mementingkan merokok atau memilih kecukupan gizi anak sendiri juga bagian dari taslim kita kepada ajaran Allah. Kenapa begitu? Karena kesehatan dan anak merupakan amanah dari Allah yang wajib kita jaga keselamatannya, maka memilih menjajakan sayuran untuk keluarga lebih terpuji dibandingkan menjajakannya untuk sebungkus sigaret. Karena memang penulisnya tidak merokok. He….he…..
Mana yang lebih manfaat dan mana yang sia-sia perlu tiap hari kita pikirkan. Pilihan antara sesuatu yang didahulukan dan hal lain yang dikesampingakan; memikirkan tiap saat mana jalan, mana tujuan, mana akherat, mana duniawiyah, kemudian menindaklanjuti dalam perbuatan sehari-hari merupakan bentuk ketasliman. Kalau kepentingan diri kita masih menonjol, dibandingkan dengan kepasrahan kita untuk menjalankan perintah dan cegah, maka bisa dikatakan taslim kita masih takaran belasan, atau bahkan satuan persen.
Potensi terbesar manusia adalah salah (khata) dan lupa (nisyan). Kesalahan perbuatan manusia bisa disebabkan karena perbuatan itu dilakukan dengan ceroboh tanpa lebih dulu menggunakan akal dan ilmu. Ilmu dan akal benda mati yang perlu dihidupkan dengan terus menerus digunakan dan diamalkannya. Kita bisa seratus kali tahu tentang bahaya merokok, tapi mungkin kita tak bisa meninggalkannya, hal itu menunjukkan bahwa ilmu kita tidak berpotensi untuk mendukung ketasliman kita kepada perintah agar menjaga amanat Allah: berupa tubuh yang sehat. Boleh kuping kita bolong dengan keutamaan derajat 27 untuk para penggemar shalat jamaah, tetapi kadang ego kemalasan kita menjadi penghambat ketasliman atas anjuran-ajuran Rasulullah.
Sayangnya bangsa Indonesia ini tak pernah menggunakan akalnya dengan benar. Kita bisa mengetahui hal ini karena kata kerja yang kaitannya dengan akal pasti berkonotasi negatif. Kita kenal kata itu dengan mengakali yang berarti meng-akal-i, apa yang muncul dalam benak kita ketika kata mengakali kita gunakan untuk merangkai kalimat. Maka yang ada bisa begini:
Kakak mengakali duit adiknya
Akal selalu dipakai untuk hal negatif, buktinya dalam kata kerja yang berkaitan dengan akal belum bisa ditemukan sesuatu yang positif. Sejak kecil saja bocah-bocah Indonesia selalu diajak berbohong dan dibohongi oleh ibu gurunya. Dalam arti mereka tidak diajak berakal terhadap apa yang mereka lagukan dan yang mereka pelajari. Dulu aku juga dibohongi suruh bareng-bareng melagukan.
Bintang Kecil di langit yang biru
Semua orang yang punya penglihatan tahu, bahwa bintang itu muncul ketika malam hari. Mungkin nggak malam hari itu langitnya berwarna biru. Yang lebih pas bunyi lagunya adalah:
Bintang kecil di langit yang hitam
Tapi karena hitam dan biru itu dipandang dari kacamatan budaya keliru. Hitam dalam budaya feodalisme Indonesia diklaim sebagai sesuatu yang jahat, maka kebenaran hitam tidak akan dipakai demi keindahan suasana pendidikan anak-anak walaupun itu mengandung kebenaran.
Coba asosiasi apa yang baik ketika sesuatu dikaitkan dengan hitam, yang ada: Ilmu hitam, kulit hitam, aliran hitam. Bahkan orang tuapun kebanyakan kepingin punya anak yang berkulit putih. Sampai-sampai ketika dulu kita terlalu lama bermain di sungai dan kulit ini menjadi hitam. Maka terasa ada sesuatu yang naif dengan kehitaman, sehingga sesekali orang tua bilang: bocah kok nglanges ireng atau dengan kata padanan yang lain mlingsi, iteng, rai maghrib, sampai dulu ketika teman-teman kenal kita istilah nahwu, memberikan laqob pada teman kita yang hitam dengan kata-kata Ghairu Munsharif.
Iklan di TV, radio, Koran, majalah, internet selalu yang ada iklan pemutih wajah, pemutih pakaian, dan semua artis di TV terlihat putih-putih kulitnya, dan lawan warna putih yang paling masyhur adalah hitam, maka sekali lagi warna hitam menjadi warna yang jelek bertolak dengan warna idaman: putih. Padahal cara pandang semacam itu bisa dikatakan salah.
Karena pada saat tertentu hitam menjadi mulia. Hitam yang selurus dengan gelap lebih digemari pasangan suami istri yang lagi berhajat. Hajar aswad yang dikatakan batu hitam menjadi idaman setiap jamaah untuk menciumnya. Sampai ada mitos, kalau belum masuk ke hajar aswad, maka belum pantas memakai ketu haji. Tapi sekali lagi hitam menjadi sesuatu yang hina, Karena kaitannya dengan banyaknya dosa manusia yang mengakibatkan batu putih itu menjadi hajar aswad.
Kalau iklan di TV menggemborkan pemutih wajah, pemutih kulit, dan masyarakat digiring untuk berpandangan bahwa kulit yang baik itu kulit putih, maka bangsa ini pasti lupa bahwa asli warna kulit kita adalah sawo matang. Seharusnya warna itu yang menjadi idaman pikiran bangsa ini untuk warna kulit yang alami dan berefek samping baik. Semua iklan itu tujuannya menjual produk walaupun dengan cara membohongi. Misalnya ada iklan pemutih kulit dalam tujuh hari, apakah itu tidak bohong? Bagaimana kalau yang pakai teman kita orang Papua. Mbok sampai satu tangki pemutih yang diolesin setiap detik, pasti tak bisa merubah pigmen kulit.
Saya merasakan sendiri, ketika menghadapi teman-teman seusia SMP, SMA, di antara mereka yang sekarang takut kulitnya menjadi hitam. Takut terkena sinar matahari. Maka jelas akan berefek pada munculnya rasa malas untuk bekerja keras, karena setiap kerja keras di bawah terik akan membuat kulit menjadi legam. Cara pandang masyarakat terhadap warna saja bisa berefek pada kemalasan budaya, mementingkan dirinya ketimbang berbaur untuk bergotong royong.
Paesan, 9 Nopember 2009
Ahmad Saifullah
pengertian taslim (54),doa setelah taslim (2),apa itu taslim menurut ilmu agama islam (1),arti taslim (1),definisi laqob (1),dunia islam syarat sah nya imam dalam sholat (1),makna taslim (1),pengertian taslim menurut islam (1),taslim (1)






Budaya kritis inilah yg harus ditanamkan kepada anak2 kita sedari kecil. tidak asal terima saja apa yg kita lihat dan dengar dengan tanpa melalui proses ” penalaran” baik secara akal,naqal,maupun budaya.
karena semua manusia berpotensi salah,kecuali Nabi Muhammad SAW.
setiap manusia harus memaksimalkan akalnya untuk membaca setiap denyut kehidupan. karena detik demi detik ikhtiar hidup akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akherat. semoga kita bagian dari orang-orang yang menggunakan akalnya.
Aku ikut bangga dengan produktivitas kang asep dan kang Yazid…maju terus pantang mundur…
itu semua juga berkat doa dari Kang Rifai…..ayo ngerasa nggak…disetiap ba’da maktubah…dan shalat malam Kang Rifai